BreakingNews

Batu di Tengah Jalan

Tanya Ustadz

Agenda MRB

Bagaimana cara raja bisa tahu

...

Bagaimana cara raja bisa tahu rakyat peduli pada kerajaan,  peduli sesama rakyat dan rela bela kerajaan?  Begitulah pada dini hari, raja  menempatkan batu di tengah jalan yang  bisa menghambat atau memperlambat gerobak barang.  Besok pagi,  seorang pedagang melintas membawa gerobak barang. Ketika melihat batu menghalangi jalannya, dia marah-marah. Komennya.

“Dasar memang orang-orang disini malas-malas..! Batu di tengah jalan tidak dipindahkan…!”  Kesalnya membelok  gerobak melewati batu. Lalu  berlalu.

Kemudian lewatlah seorang laskar kerajaan sambil  bernyanyi-nyanyi lagu patriot bertempur di medan perang. Melihat batu di jalan, Komentarnya singkat.

“Kenapa orang malas menyingkirkan batu keparat ini?” teriaknya mengacungkan pedang tanpa menyingkirkan batu. Dia terus berjalan.

Menjelang sore, lewat pemuda sambil mendorong gerobak. Ketika melihat batu  dia berkata.

“Jika hari sudah gelap, orang bisa tersandung atau menghambat para musafir. Batu ini bisa mencelakai orang.”

Setelah seharian bekerja lelah,  pemuda itu menyingkirkan batu ke bahu jalan. Setelah batu tersingkir, terkejut melihat sebuah benda tertanam di bawah batu. Sebuah kotak berisi sepucuk surat berbunyi.

“Untuk rakyatku yang rela memindahkan batu penghalang ini. Karena engkau rajin dan peduli kepada orang lain, maka terimalah lima keping emas di dalam kotak ini sebagai hadiah dari rajamu.”

Pemuda miskin itu bersujud syukur dan memuji kedermawanan rajanya. Peristiwa itu pun menggemparkan seluruh kerajaan. Raja mengajar  pentingnya nilai kepedulian terhadap sesama, keberanian dalam menghadapi rintangan serta ringan tangan. Kurangi berbicara perbanyak berbuat/beraksi..

Kisah di atas adalah fiksi alias cet langet. Dalam kehidupan sehari-hari kita menyimak berbagai komentar terhadap kondisi negara ini. Ketika ada permohonan  meuripe membangu rumah dhuafa,  Ada yang berkomentar ngapai aza pemerintah ini? Ini tugas negara membangun rumah untuk orang miskin dan sebagainya. Intinya, peng tidak keluar dari ATM-nya.

Secara tata negara ini adalah tanggung jawab negara menyediakan sandang pangan,  dan papan dan lain-lain kepada warganya.  Di sisi lain, ada hal-hal kecil yang bisa dilakukan oleh warga tanpa harus menunggu birokrasi negara. Sebut saja ketika beberapa lembar papan di jembatan gantung hilang atau rapuh sehingga jembatan gantung itu berbahaya bagi anak-anak, maka  warga dan keuchik bisa memasang alas jembatan agar aman bagi pejalan kaki. Tidak perlu harus meminta bantuan kepada pemerintah daerah kalau bisa ditangani sendiri.

Kadangkala kita adalah sosok laskar atau pedagang yang lebih memilih marah-marah sambil menyalahkan pemerintah daerah dan sebagainya. ada kepuasan setelah mengeluarkan teumeunak ke pemerintah. Padahal dengan aksi meuseuraya alias gotong royong maka berbagai masalah di sekitar bisa diselesaikan tanpa rioh-rioh.

Kita mewujudkan makna Islam sebagai rahmatan lil alamin dari lingkungan terdekat. Kita memastikan tidak ada tetangga kelaparan  dalam radius 40 rumah di depan, belakang, kiri, dan kanan.  Dimulai dari gampong per gampong.  jika masalah di gampong tidak bisa diselesaikan, bergeraklah meminta bantuan pada level di atas seperti mukim atau kecamatan.  Kita patut malu jika ada tetangga kelaparan atau menghadapi masalah lain. ini berarti tidak ada silaturrahmi sesama warga. Rasulullah SAW bersabda: “Tidaklah beriman kepadaku orang yang kenyang semalaman sedangkan tetangganya kelaparan di sampingnya, padahal ia mengetahuinya.” (HR At-Thabrani).

Kepedulian pada sesama umat yang sudah menyatu dalam budaya Aceh harus terus digemakan. Mungkin ingat pada masa kecil ketika orang tua berbagi satu piring kuah atau makanan lain ke tetangga adalah bagian dari pengamalan dari Islam.

Dari Abu Dzarr berkata: Rasulullah SAW bersabda, “Wahai Abu Dzarr, jika engkau memasak masakan berkuah, maka perbanyaklah kuah dan perhatikanlah tetanggamu.” (HR Muslim). [Murizal Hamzah]

Dialog

Pustaka Baiturrahman

Tafsir dan Hadist

Dinas Syariat Islam

Menuju Islam Khaffah

Tabloid Gema Baiturrahman

Alamat Redaksi:
Jl. Moh. Jam No.1, Kp. Baru,
Kec. Baiturrahman, Kota Banda Aceh,
Provinsi Aceh – Indonesia
Kode Pos: 23241

Tabloid Gema Baiturrahman merupakan media komunitas yang diterbitkan oleh UPTD Mesjid Raya Baiturrahman

copyright @acehmarket.id 

Menuju Islam Kaffah

Selamat Datang di
MRB Baiturrahman