Oleh: Dr. Yusrizal Zainal

Khatib Kepala Biro Isra Sekretaris Daerah Pemerintah Aceh

Bercermin Masa Lalu, Menapaki Masa Depan

Tanya Ustadz

Agenda MRB

Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah dia perbuat untuk hari esok (akhirat). Bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Mahateliti atas apa yang kalian kerjakan (QS al-Hasyr 18)....

Hari ini adalah Jumat pertama di tahun 2024 M. Peralihan lembaran tahun 2023 M, menuju lembaran baru tahun 2024 M, merupakan mementum yang tepat untuk melakukan refleksi atas perjalanan diri dan umat sejauh ini. Merujuk kepada kalamullah, paling tidak ada dua surat Al Quran yang kiranya sangat relevan untuk diulang kaji hari ini yaitu al Quran surat al-Hasyr dan surat al-‘Ashr. Pada surat al-Hasyr Allah SWT berfirman;

Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah dia perbuat untuk hari esok (akhirat). Bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Mahateliti atas apa yang kalian kerjakan (QS al-Hasyr 18).

Izzuddin bin Abdissalam rahimahulLâh mengatakan, “Para ulama telah bersepakat tentang kewajiban muhâsabah diri atas amal yang telah lalu dan amal yang akan dilakukan nantinya.”

Introspeksi dan koreksi diri harus dikerjakan dengan sungguh-sungguh dan teliti agar seorang Muslim meningkat menjadi orang yang bertakwa. Demikianlah nasihat Maimun bin Mahran rahimahulLâh, ”Tidaklah seorang hamba menjadi bertaqwa sampai dia melakukan muhâsabah atas dirinya lebih keras daripada seorang teman kerja yang pelit, yang membuat perhitungan dengan temannya.”

Ada dialog penuh hikmah yang dapat diambil pelajaran dari perkataan Al-Fudhail bin ‘Iyadh. Beliau pernah mengatakan pada seseorang,

“Berapa umur yang telah kau lewati?” Ia menjawab,“Enam puluh tahun.” Fudhail  enyatakan,“Selama 60 tahun ini engkau sedang berjalan menuju Rabbmu dan sebentar lagi engkau akan sampai.”Orang itu menjawab,إ“Segala sesuatu milik Allah dan akan kembali pada Allah.” Fudhail balik bertanya, “Apa engkau tahu arti kalimat yang engkau ucapkan tersebut?”

Fudhail lantas melanjutkan, harusnya engkau katakan pula, “Sesungguhnya aku adalah hamba di sisi Allah dan akan kembali pada-Nya. Siapa saja yang mengetahui Allah itu memiliki hamba dan akan kembali pada-Nya, maka tentu ia tahu bahwa hidupnya akan berakhir. Kalau tahu hidupnya akan berakhir, tentu ia tahu bahwa ia akan ditanya. Kalau ia tahu akan ditanya, maka ia tentu akan mempersiapkan jawaban dari pertanyaan yang ada. ”

Orang itu bertanya pada Fudhail, “Adakah alasan yang bisa dibuat-buat untuk melepaskan diri?” Fudhail menjawab, “Itu mudah.”Ia balik bertanya, “Apa itu?” Fudhail menjawab,“Hendaklah beramal baik di sisa umur yang ada, maka akan diampuni kesalah-kesalahanmu yang terdahulu. Karena jika engkau masih berbuat jelek di sisa umurmu, engkau akan disiksa karena kesalahanmu yang dulu dan sisa umurmu yang ada.” (Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 2: 383)

 

Dialog tersebut menjunjukkan bahwa Fudhail memotret umur dengan cara pandang yang sangat berbeda dengan kebanyakan orang. Ketika memandang umur beliau mengkaitkan umur manusia itu adalah perjalanan menuju kepada Allah yang mana semua dari kita kalau kita mengkaitkan kehidupan umur kita, maka sesungguhnya kita ini sedang berjalan menuju kepada Allah. Setiap hari yang kita lewati semakin menjauhkan kita dari panggung dunia dan tepuk tangan kerumunan manusia dan semakin mendekatkan kita dan pertemuan kita kepada Allah.  Itulah umur kita dan sesungguhnya dan perjalanan ini akan sampai. Seseorang kalau ditanya umur 45 berarti 45 dia berjalan menuju kepada Allah, semakin mendekati garis finish dalam pertemuan yang  akan ia temukan di dalam akhir perjalanan hidup yaitu berjumpanya menuju kepada Allah. Ketika kita maknai perkataan yang disampaikan Fudhail, Nampak bahwa yang perlu dikhawatirkan bukan kapan kita akan menginjak garis finishnya tapi yang kita khawatirkan itu sebenarnya apa yang sudah kita persiapkan ketika kita sedang berjalan menuju kepada Allah. Sejatinya perjalanan itu pasti ada garis startnya dan perjalanan itu pun pasti ada garis finishnya dan inilah yang kemudian menjadikan kita memantaskan diri kita kalau kita memaknai setiap tahun yang berkurang setiap hari yang selalu berkurang dengan hari-hari yang telah kita lewati maka semakin banyak pertanyaan bekal yang kita harus hadirkan ketika perjumpaan itu. Perspektif perlu selalu dihadirkan saat memandang kepada usia yang bertambah.

Berikutnya Allah SWT juga berfirman; “Demi masa. Sungguh, manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan sert saling menasehati untuk kebenaran dan saling  menasehati untuk kesabaran” (QS. Al Ashr: 1-3).

Ada ungkap yang masyur “Andai Allah tidak menurunkan hujjah kepada makhluknya kecuali surah ini, pasti akan cukup bagi mereka” Juga; ”Jika manusia menelaah surah ini, maka pasti akan memberi keluasan (cukup)bagi mareka”.

Ibnu Jarir Ath-Thobary mengatkan bahwa Allah bersumpah dengan waktu .. Allah tidak pernah bersumpah kecuali dengan sesuatu yang Agung. Jika Allah bersumpah denang sesuatu, itu maknanya adalah Allah megangungkan sesuatu itu. Artinya waktu ini merupakan perkara yang sangat penting. Beliau menyebutkan bahwa Allah mengecualikan orang-orang beriman dan sholih serta berwasiat dalam kebenaran dan kesabaran daripada orang-orang yang rugi. Artinya selain mereka, semuanya berada dalam kerugian.

Boleh jadi manusia kurang menghargai waktu karena tidak dapat melihat secara langsung nilainya. Coba kalau dikonversikan dalam angka uang misalnya. Satu hari ada 24 jam, maka dslam satu hari terdapat 86400 detik. Mkalaulah setiap detik dianggap bernilai Rp.1000, maka 1 hari bernilai 86.4 juta rupiah. Kalaulah  diumumkan pada manusia, hari ini anda mendapatkan 86.4 juta rupiah dengan syarat uang itu harus dihabiskan hari ini juga dengan belanja apapun yang dibutuhkan dan uang tersisa akan hangus, maka semua orang akan belanja menggunakan uang tersebut untuk belanja tanpa tersisa sedikit pun. Ia akan merasa sayang kalau ada uang tersisa tidak termanfaatkan. Itulah gambaran kalau dimisalkan secara material. Namun hakikatnya nilai waktu jauh lebih berharga daripada uang. Uang yang hilang dapat dicari gantinya tetapi waktu yang berlalu tak akan pernah kembali sebagaimana ungkapan lan tarji’al ayyamullati madhat. Waktu itu adalah kita sendiri, innama anta ayyaum. Fa idza dzahaba yaumun dzahaba ba’dhuk. Sesungguhnya kamu itu adalah kumpulan hari-hari, apa bila berlalu hari, maka berlalulah sebagian dari dirimu.

Orang yang mentadabburi kalam Allah di atas, kemudian  melakukan muhasabah dengan sungguh-sungguh, memahami hakikat waktu, sejatinya adalah orang yang memahami hakikat kehidupan dunia sebegai jalan dan akhirat sebagai tujuan. Ia menyadari akan kembali kepadaNya dan segera bertaubat, bersegera memperbanyak amal sholeh, sekaligus memperbaiki dan menyempurkan amal tersebut, memprioritaskan amal-amal yang tinggi nilainya seperti amar makruf nahi mungkar dan amal yang pahalanya terus mengalir walaupun dia telah berada di alam barzakh, istiqamah dalam keimanan dan Islam serta menghindarkan diri dari perbuatan sia-sia. Ia juga senantiasa memperhatikan argo ketaqwan diri, tanpa melupakan keluarganya dan memperhatikan kondisi masyarakat dan umat agar dapat berjalan seiring dalam koridor ketaatan, serta senantiasa  berdoa, takut dan berharap hanya kepadaNya.

 

 

Dialog

Pustaka Baiturrahman

Tafsir dan Hadist

Dinas Syariat Islam

copyright @acehmarket.id 

MRB Aceh

Media Humas dan Informasi
Mesjid Raya Banda Aceh

MRB Aceh merupakan media humas dan informasi Unit Pelaksana Teknis Daerah Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh

Menuju Islam Kaffah

Selamat Datang di
MRB Baiturrahman