Bergaduh di Masjid

Oleh : Murizal Hamzah Suatu ketika,  Imam Hasan al-Banna mengunjungi sebuah  masjid di Mesir. Intelektual Islam itu menyaksikan jamaah sudah terbelah menjadi dua. Mereka bergaduh, caci-maki sambil berteriak-teriak di dalam masjid. Satu kelompok menjelaskan bahwa Shalat Taraweh yang sesuai dengan sunnah Rasulullah adalah 11 rakaat. Kelompok lain dengan merujuk hadist, menegaskan bahwa Shalat Taraweh dengan … Read more

...

Tanya Ustadz

Agenda MRB

Oleh : Murizal Hamzah
Suatu ketika,  Imam Hasan al-Banna mengunjungi sebuah  masjid di Mesir. Intelektual Islam itu menyaksikan jamaah sudah terbelah menjadi dua. Mereka bergaduh, caci-maki sambil berteriak-teriak di dalam masjid. Satu kelompok menjelaskan bahwa Shalat Taraweh yang sesuai dengan sunnah Rasulullah adalah 11 rakaat. Kelompok lain dengan merujuk hadist, menegaskan bahwa Shalat Taraweh dengan sunnah Rasulullah yakni 23 rakaat.
“Apa hukum Shalat Taraweh?” cecar Hasan kepada kedua kelompok tersebut.
“Sunat!” jawab mereka kompak.
“Apa hukum bertengkar di masjid?” tanya Hasan lagi.
“Haram!” jawab kedua kelompok itu sepakat.
“Mengapa kalian lakukan yang haram untuk mempertahankan yang sunat?” gugat Hasan.
Dengan kalimat yang lain,  Hasan menegur kaum muslimin “Mengapa umat Islam mempertahankan fiqih dengan meninggalkan akhlak?”
Dalam Islam, perbedaan pendapat seperti beda rakaat tarawih, baca qunut Shubuh atau tidak  bukanlah barang baru. Setiap Ramadhan,  perdebatan jumlah rakaat ini selalu muncul. Ulama yang bijak dan arif tidak  mempersoalkan yang benar itu yang 11 rakaat atau 23 rakaat. Itu adalah ibadah sunnah. Jadi tidak perlu tegang otot pada hal-hal  yang bersifat sunnah. Lakukan menurut kemampuan dan keikhlasan.
Belajar dari pengalaman Imam Hasan al-Banna, kadangkala kita mempersoalkan hal-hal  yang sunnah sehingga memutuskan silaturrahim. Padahal di sisi lain, ada masalah besar yang dihadapi oleh umat Islam di seluruh dunia khususnya di Aceh yakni seperti adab generasi muda terhadap orangtua, merajalela peredaran sabu-sabu, semakin meningkat kaum dhuafa atau pengemis dan sebagainya.
Untuk hal ini, kita sepakat dengan petuah Imam Hasan al-Banna yakni “Mari kita bekerjasama dalam hal-hal yang kita sepakati dan berlapang dada dalam hal-hal yang tidak sepakati.”
Tak salah lagi, kutipan ini layak kita renungkan bahwa kebenaran ada di mana-mana. Jangan memonopoli kebenaran sebab wawasan kita masih seujung kaku. Kadangkala merasa lebih paham daripada orang lain dengan menolak pemikiran pihak lain. “Pendapatku benar tetapi bisa jadi mengandung kesalahan, sedangkan pendapat Anda salah tetapi bisa jadi memiliki kebenaran,” ingat  Imam Syafi’i.
Hanya kaum cerdik pandai takabur yang berani memberi stempel kafir atau sebutan lain karena beda pemahaman. Namun yakinlah, intelektual sejati akan memilih senyap karena merasa dirinya belum apa-apa. Jadi siapakah yang lebih berhak memberi stempel negatif terhadap umat Islam? “Biarkanlah Aku yang bertindak terhadap orang yang Aku sendiri telah menciptakannya.” (Q.S. al-Muddassir: 11)
Mengamati fenomena selama Ramadhan, maka kita wajiib belajar pada kehidupan Rasulullah sebagai pedoman hidup pengikutnya. Salah satu kekuatan Nabi Muhammad SAW dan sahabat-sahabatnya yakni mereka  saling mendukung, saling membantu, dan saling memberi solusi. Kekuatan Islam terletak pada ukhuwah dengan saling bersilaturrahim. Jika ada info yang tidak jelas, maka bertanya langsung
kepada yang disebutkan agar jelas. Cara ini sangat jitu untuk menghancurkan fitnah yang dilancarkan oleh musuh umat Islam melalui tangan-tangan umat Islam baik disadari atau tidak. “Mencela seorang muslim adalah kefasikan, dan membunuhnya adalah kekufuran”. (HR. Muslim).
Kita perlu belajar pada empat imam mazhab yang saling menghargai. Bukan saling mencaci maki. Kita tidak pernah temukan Imam Syafi menyalahkan Imam Hambali, Imam Maliki, dan Imam Hanafi atau sebaliknya. Mereka berbeda pemahaman namun tidak pernah saling menyalahkan bahwa hanya mazhahnya yang paling benar dan sudah mendapat tiket ke surga.
Akhirukalam, selesaikan setiap persoalan melalui musyawarah dengan memprioritaskan persaudaran bahwa sesama umat Islam kita saling menyayangi. Bukan mengutamakan otot dengan sedikit teror.

Dialog

Tafsir dan Hadist

Dinas Syariat Islam

Kesempurnaan Akhlak Rasulullah SAW

Oleh: Juariah Anzib, S.Ag, Penulis Buku Menjadi  Guru Profesional Allah Swt menciptakan manusia dengan berbagai  kelurangan dan kelebihan masing-masing. Tak ada  yang sempurna, baik yang

Menakar Kemampuan dalam Berqurban

Oleh : Dr. Armiadi Musa, MA Pekan depan insya Allah kita akan menyonsong hari raya idul adh-ha tahun 1442 H. Momentum  ‘idul adh-ha selalu menjadi

Dayah tidak Sama dengan SMK

GEMA JUMAT, 25 OKTOBER 2019 Banda Aceh (Gema) – Hari Santri Nasional diperingati setiap tanggal 22 Oktober. Aceh yang sejak dulu akrab dengan pesantren, merupakan

Menuju Islam Khaffah

Tabloid Gema Baiturrahman

Alamat Redaksi:
Jl. Moh. Jam No.1, Kp. Baru,
Kec. Baiturrahman, Kota Banda Aceh,
Provinsi Aceh – Indonesia
Kode Pos: 23241

Tabloid Gema Baiturrahman merupakan media komunitas yang diterbitkan oleh UPTD Mesjid Raya Baiturrahman

copyright @acehmarket.id 

Menuju Islam Kaffah

Selamat Datang di
MRB Baiturrahman