Bulan Memberi

Oleh : Murizal Hamzah APA keputusan Anda ketika menghadapi dua pilihan yang harus dilakukan dalam waktu bersamaan yakni pergi shalat Jumat ke masjid atau membawa tetangga  ke rumah sakit? Jika Anda memilih beribadah ke masjid dengan membiarkan warga miskin, Anda bisa saja mendapat pahala Jumatan dengan imbalan ditempatkan di surga. Sebaliknya, menolong tetangga miskin,  inilah  … Read more

...

Tanya Ustadz

Agenda MRB

Oleh : Murizal Hamzah
APA keputusan Anda ketika menghadapi dua pilihan yang harus dilakukan dalam waktu bersamaan yakni pergi shalat Jumat ke masjid atau membawa tetangga  ke rumah sakit?
Jika Anda memilih beribadah ke masjid dengan membiarkan warga miskin, Anda bisa saja mendapat pahala Jumatan dengan imbalan ditempatkan di surga. Sebaliknya, menolong tetangga miskin,  inilah  hakikat umat Islam yang peduli pada saudaranya.   Pergi Jumatan  kewajiban bagi muslim. Sebaliknya, mengulurkan tangan  kepada warga yang miskin, itu ibadah yang sangat mulia. Kita paham, Islam sangat mementingkan hubungan sesama tetangga.
“Barangsiapa senang untuk dilapangkan rizki dan dipanjangkan umurnya, maka jalinlah tali silaturrahim (hubungan antar kerabat).” (HR. Bukhari dan Muslim).
Kita paham, kriteria keshalehan seseorang tidak hanya diukur  dari berapa banyak shalat  yang ditunaikan.  Ada barometer lain seperti  peduli masyarakat.  Wujud taat beribadah yakni memiliki akhlaq terpuji seperti menjadi dermawan, pemurah hati, bicara santun, sayang kepada sesama manusia dan lain-lain.  tindak nyata dari akhlaq yang bergetar yakni hatinya selalu gelisah melihat penduduk miskin. Tidak bisa tidur nyenyak  mengetahui warga merana. Umat Islam yang baik itu menyenangkan tetangga karena perilaku yang rendah hati bukan rendah diri.
Abu Dzarr berkata: Rasulullah bersabda: “Wahai Abu Dzarr, jika engkau memasak masakan berkuah, maka perbanyaklah kuahnya dan perhatikanlah tetanggamu.” (HR Muslim). Tradisi mengulurkan tangan selama Ramadhan ini layak dilestarikan pada bulan-bulan selanjutnya. Tidak berhenti usai Ramadhan berakhir.
Semua setuju  dalam kehidupan beragama memiliki ada peka sosial. Sahsah saja meratakan dahi ke lantai masjid sehingga jidatnya kehitam-hitaman. Namun pada waktu bersamaan, kita membiarkan  penduduk miskin terpinggirkan.  Kita mulai dari diri sendiri, apakah setiap malam ada makanan atau keu berbuka puasa yang terbuang atau mubazir selama Ramadhan?
Tak pelak, Ramadhan dapat dijadikan  momentum untuk mengairahkan memberi. Berlomba—lomba menjadi tangan di atas  bukan tangan di bawah.  Dari Hakim Ibnu Hazm bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda: …”Tangan yang di atas (pemberi) lebih baik daripada tangan yang di bawah (penerima); dan mulailah dari orangorang yang banyak tanggungannya; dan sebaikbaik shadaqah ialah yang diambil dari sisa kebutuhan sendiri, barangsiapa menjaga kehormatannya Allah akan menjaganya dan barangsiapa merasa cukup Allah akan mencukupkan kebutuhannya.”
Sudah lazim, kita beribadah atau memberi  karena mengharapkan pahala. Dengan kata lain, berbuat kebajikan agar diganjal surga atau rezeki yang lebih besar. Tidak ada  yang salah dengan hal  tersebut karena kebaikan yang dilakukan secara ikhlas layak mendapat balasan.  Maka tidak heran,  bertaburan fadilat puasa per hari.  Sekali lagi tidak ada yang keliru motivasi  bershadaqah atau ibadah lain selama Ramadhan didorong untuk meraih surga. Yang jadi masalah, jika kita berhitung-hitungan atau pelit bershadaqah uang atau dalam bentuk lain kepada kaum melarat.
Wal hasil, kita jadi jarang merogoh kantong dengan dalil masih kurang untuk kebutuhan sendiri.  Semua paham, untuk membantu kaum dhuafa tidak perlu menunggu kaya atau berlebihan rezeki. Sebab yang disebut rezeki tidak hanya dalam bentuk uang atau pendapatan. Sehat pikiran dan badan, berteman dengan  kaum alim, berilmu dan sebagainya juga disebut itu rezeki.

Dialog

Tafsir dan Hadist

Dinas Syariat Islam

Tanda-Tanda Kiamat*

alam teologi Islam dikenal sebuah ungkapan: “Kullu ma siwa Allah yusamma Al-‘Alam” (yang dikatakan alam semesta adalah selain Allah). Saat tiba masa yang telah ditentukan, alam semesta dan seisinya akan binasa. Bumi, langit dan apa yang terdapat diantara keduanya akan hancur, hilang dan berakhir. Selain Allah semuanya akan fana, akan hilang, akan binasa, Al-Baqa lillahil waahidil ahad (yang kekal hanya Allah yang maha Esa). Allah berfirman: Kullu man ‘alaiha faan, Wa yabqa wajhu rabbika dzul jalaali wal ikraam (QS.Ar-Rahman 26-27) artinya: “semua yang di bumi akan binasa, yang tetap kekal zat tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan”.
Jamaah shalat jumat yang dimuliakan Allah.

Isra’ Mi’raj

GEMA JUMAT, 5 APRIL 2019 Oleh : Nurjannah usman Assalamualaikum loen puphoen kalam Saleum ngoen nazam tacuba mula Jinoe takisah janjongan alam Nabi pilehan ateuh

Perempuan dalam Sejarah Aceh

Tanah Serambi Mekah, dikenal dengan kekayaan warisan budaya yang mendalam serta perjalanan sejarah yang begitu unik. Sebagai ciri peradaban yang tinggi, Aceh pernah mengukir sejarah dengan memberikan peran kepada perempuan dalam konteks publik yang sangat besar.

Akai Yahudi

“Lage akai Jahudi.” Demikian sepenggal kalimat itu meluncur melihat peukateum temannya. Seperti akal Yahudi bernada negatif dan kalimat itu terus mengalir menguliti aksi biadab serdadu Israel yang diperintahkan oleh para elite Israel.

Menuju Islam Khaffah

Tabloid Gema Baiturrahman

Alamat Redaksi:
Jl. Moh. Jam No.1, Kp. Baru,
Kec. Baiturrahman, Kota Banda Aceh,
Provinsi Aceh – Indonesia
Kode Pos: 23241

Tabloid Gema Baiturrahman merupakan media komunitas yang diterbitkan oleh UPTD Mesjid Raya Baiturrahman

copyright @acehmarket.id 

Menuju Islam Kaffah

Selamat Datang di
MRB Baiturrahman