BreakingNews

Butuh Komitmen dari Semua Pihak

komitmen

Indonesia merupakan negara dengan penduduk mayoritas muslim, hal ini menjadi peluang yang cukup besar dalam pengembangan ekonomi Syariah sebagai upaya menyediakan berbagai platform yang mendukung aktivitas ekonomi dan keuangan berdasarkan prinsip syariah Islam. Apalagi di Aceh dengan adanya syariat Islam akan lebih mudah untuk melaksanakan system ekonomi syariah tersebut. Semua itu tidak terlepas dari komitmen … Read more

...

Tanya Ustadz

Agenda MRB

Indonesia merupakan negara dengan penduduk mayoritas muslim, hal ini menjadi peluang yang cukup besar dalam pengembangan ekonomi Syariah sebagai upaya menyediakan berbagai platform yang mendukung aktivitas ekonomi dan keuangan berdasarkan prinsip syariah Islam. Apalagi di Aceh dengan adanya syariat Islam akan lebih mudah untuk melaksanakan system ekonomi syariah tersebut. Semua itu tidak terlepas dari komitmen dari semua pihak baik itu dari pelaksananya maupun yang melaksanakannya.

Simak wawancara wartawan Tabloid Gema Baiturrahman Eriza M.Dahlan dengan Prof. Nazaruddin AW Pakar Ekonomi Syariah UIN Ar-Raniry.

Upaya apa yang dilakukan untuk menerapkan ekonomi syariah?

Apa pun yang di lakukan karena negara kita ini adalah negara hukum, factor yang paling utama adalah menyiapkan regulasi. Hal ini sangat penting misalnya kita akan menerapkan sistem syariah dalam konteks ekomoni. Jadi banyak aturan hukum yang belum tersedia, jadi sekarang pemerintah melalui dinas syariah Islam baru menyiapkan draf tentang ekonomi syariah di Aceh. Jadi sampai saat ini, baru ada drafnya belum ada pembahasan lagi DPR untuk pembahasannya tahun 2024. Oleh karenanya, untuk tahap pertama yang harus di terapkan adalah semua regulasi yang bersentuhan dengan persoalan ekonomi ummat atau ekonomi Islam itu kita harus siapkan secara matang dan secara turunannya. Dalam bidang keuangan sudah ada aturan hukum misalnya qanun LKS, namun qanun LKS ini juga perlu ada beberapa aturan hukum yang belum disiapkan. Misalnya tentang pelaksaanaan keuangan non formal yang termasuk keuangan-keuangan seperti koperasi yang tidak resmi, individu-individu dalam pelaksanaan aktivitas bisnis. Menyiapkan regulasi yang berkenaan dengan pelaksanaan ekonomi syariah, siapa yang melaksanakan ekonomi itu dan siapa pelaksananya, di sini bisa agen ekonomi yang termasuk rumah tangga, perusahaan, pedagang, pengusaha, pemerintah. Ini semua adalah pelaksana atau orang yang melaksanakan aktivitas ekonomi syariah.

Mengajak agen-agen itu untuk dapat melaksanakan ekonomi syariah itu secara benar. Misalnya untuk pedagang menyiapkan timbangan yang benar, tidak berbohong dalam menimbang barang dagangnya dan lain sebagainya. Itu membutuhkan waktu yang panjang. Dan menyiapkan bagaimana agen-agen ekonomi syariah memahami tentang pelaksaan ekonomi tersebut. Dan selanjutnya akan melakukan evaluasi. Bisa melakukan evaluasi itu secara berkala boleh setahun sekali, dua tahun sekali terserah bagaimana nanti cara melakukan evaluasinya. Dan tahap berikutnya melakukan tahap penyempurnaan dimana kekuarangan hasil evaluasi akan di perbaiki ulang.

Bagaimana ekonomi syariah masuk dalam kurikulum pendidikan?

Dari pertemuan beberapa kali termasuk penyiapan serta qanun pendidikan di Aceh termasuk focus pada pembentukan karakter yang Islami. Perlu di mulai dari sejak usia dini karena pendidikan itu merancang bagaimana menyiapkan kerangka karakter yang betul-betul menyentuh sendi-sendi  Islam bagi anak usia didik apakah lewat PAUD, SD dan seterusnya. Itulah sekarang yang sedang digodok oleh qanun pendidikan. Termasuk di dalammya akan memperkenalkan tindakan jujur, tidak berbohong dan lain sebagainya. Dari situlah karakter-karakter itu di bangun. Nanti pada saat dewasa sudah terbiasa dengan karakter-karakter itu dan akan mendungkung sistem ekonomi yang Islam.

Upaya penguatan ekonomi syariah dan tantangannya serta solusi di era ekonomi global sekarang ini?

Tantangan itu sebenarnya selalu ada dan dimana pun itu tetap ada. Apapun itu pasti ada solusinya, hanya saja tantangan yang paling nominan adalah adanya internal dan juga eksternal. Tantangan internal itu lebih kepada penguasaan atau pemahaman tentang hal ekonomi syariah itu bagi pelaku ekonomi, jadi ada yang mengatakan bahwa “yang halal saja susah kita dapatkan, apalagi yang haram.” Ini adalah karakter.  Ini artinya bahwa kita berpikir yang haram itu boleh digunakan. Hal seperti inilah yang harus diselesaikan di tingkat internal. Dan kita sudah lama terbentuk dengan budaya atau ekonomi konvensional karena memang semua berpikir untung banyak itu lebih baik daripada yang halal dan baik. Orang akan mengejar keuntungan banyak tapi lupa akan sesuatu tidakan yang baik atau halal.

Sekarang ini hampir semua orang berpikir seperti itu di sektor jual beli, baik perusahaan dan lain sebagainya. Oleh karena itu, penguatan lembaga pendidikan umum dan lainnya harus betul-betul dapat memberikan pencerahan kembali kepada kebenaran. Jika secara eksternal  kita tidak akan bisa terlepas dari globalisasi system. Apalagi dunia sekarang ini factor IT sangat luar biasa pelakunya. Jadi kita harus mendidik orang untuk menyikapi dunia luar yang salah dan jangan mudah menerima. Makanya di sebut dengan filter individual mengajar, mendidik, membendung filter individual oleh semuanya. Karena zaman semakin canggih dan susah untuk di bendung. Ada hal yang boleh seperti untuk luar Aceh yang belum ada transaksi syariah dalam hal melakukan transaksi masih menggunakan konvensional terpaksa harus kita lakukan juga. Itu adalah karena darurat dan masih bisa di maklumi.

Pandangan Anda sistem ekonomi syariah dalam kajian Islam klasik?

Dalam Islam klasik sebetulnya tidak ada masalah dalam penyampaiannya, hanya saja yang harus dipahami adalah dunia ini tetap berkembang sepanjang masa, budaya manusia ini akan berkembang sesuai perkembangan Masyarakat. Ekonomi syariah pada masa dulu berbeda dengan sekarang. Cara berpikirnya berbeda, dulu transaksinya dilakukan antara orang dengan orang. Sekarang  transaksi dilakukan antara orang dengan IT (mesin). Jadi jelas terlihat sangat berbeda. Ekonomi klasik itu mampu menerima ini bahwa tidak mungkin sekarang menerapkan sistem lama karena budaya sudah berubah. Kekayaan dulu berbeda sangat dengan kekayaan sekarang. Semua terbawa dengan sistem budaya masyarakat itu sendiri. Kita akan terus menerima budaya yang berkembang dan tetap sesuai dengan ajaran Islam yang Rahmatan Lil’alamin.

Harapan Anda untuk kemajuan ekonomi syariah?

Harapannya adalah komitmen dari kita semua. Apapun yang kita lakukan tidak ada yang tidak mungkin dan tidak bisa berkembang, misalnya tentang syariah Islam harus kita lakukan jangan melakukan lainnya yang berbeda dengan apa yang telah diterapkan. Di sini semua butuh komitmen. Apapun yang harus kita lakukan komitmen yang utama dari masyarakat muslim untuk melakukan ekonomi syariah secara benar, kalau komitmen tidak ada tidak akan mungkin kita paksa dan akan mustahil akan terlaksana.

 

 

 

 

 

Sumber: Tabloid Gema Baiturrahman

Dialog

Tafsir dan Hadist

Dinas Syariat Islam

Tak Sebatas Materi

Gema, 24 Januari 2018 Oleh Dr. Sri Suyanta, UIN Ar-Raniry (Wakil dekan 1 Fakultas tarbiyah dan keguruan UIN Ar Raniry) Saudaraku, memberi itu tidak sebatas

Menuju Islam Khaffah

Tabloid Gema Baiturrahman

Alamat Redaksi:
Jl. Moh. Jam No.1, Kp. Baru,
Kec. Baiturrahman, Kota Banda Aceh,
Provinsi Aceh – Indonesia
Kode Pos: 23241

Tabloid Gema Baiturrahman merupakan media komunitas yang diterbitkan oleh UPTD Mesjid Raya Baiturrahman

copyright @acehmarket.id 

Menuju Islam Kaffah

Selamat Datang di
MRB Baiturrahman