Derajat Ketakwaan Pilar Kehidupan

Gema JUMAT, 31 Juli 2015 Khutbah Jum’at, Dr Tgk H Syamsul Rijal M.Ag, Khatib Wakil Rektor Bidang Kemahasiswan UIN Ar-Raniry Banda Aceh SeTiAP insan patut bersyukur manakala ia sukses meraih cita kehidupan. Cita kehidupan esensial itu adalah memperoleh subtansi penting dari nilai ibadah yang dilakukan. Dalam konteks ibadah pencalat derajat ketakwaan pada perinsipnya setiap orange … Read more

...

Tanya Ustadz

Agenda MRB

Gema JUMAT, 31 Juli 2015
Khutbah Jum’at, Dr Tgk H Syamsul Rijal M.Ag, Khatib Wakil Rektor Bidang Kemahasiswan UIN Ar-Raniry Banda Aceh
SeTiAP insan patut bersyukur manakala ia sukses meraih cita kehidupan. Cita kehidupan esensial itu adalah memperoleh subtansi penting dari nilai ibadah yang dilakukan. Dalam konteks ibadah pencalat derajat ketakwaan pada perinsipnya setiap orange telah berhasil gemilang mengendalikan hawa nafsu dengan memuasakan diri serta beraktifitas ibadah kreatif (baca:sunnah lainnya). Rasa syukur itu akan transformatif dengan menggugah asa dan cita dalam larutan dzikir kelada Allah.
Pembersihan karakter kepribadian kita menjadi manusia fitri sebagai buah derajat ketakwaan adalah sesuatu yang bernilai tinggi di dalam kehidupan ini. Oleh karena itu kesuksesan setiap insan yang telah sukses menata kembali pribadinya menjadi pribadi bersih dalam artian bersih dari segala noda dosa karena telah mendapatkan ampunan serta rahmat dari Allah SWT.
Entitas ketakwaan Derajat ketakwaan sebagai subtansi penting dari orientasi amal ibadah sepanjang Ramadhan sebagai diisyaratkan dalam firmanNya “mudah2an kamu bertakwa” adalah penambalan karakter penting bagi setiap orang dalam melangkah menata kehidupannya yang bermanfaat untuk dirinya dan untuk masyarakat lingkungannya.
Derajat ketakwaan ini tiada mendapat apresiasi dari Tuhannya melainkan syurga tempat kehidupan abadi penuh kenikmatan seluas langit dan bumi.
Siapakah sosok manusia yang mentransformasikan derajat ketakwaan di dalam kehidupan ini itulah mereka yang bekerja keras serta dinamis dengan mempertimbangkan aspek duniawi sekaigus investasi dari sudut pandang dimensi ukhrawi.
Entitas ketakwaan itu tercermin dalam transformasi nilai pribadi mulia yang telah dimiliki. Berkaitan dengan prihal ini paling tidak ada tiga karakter penting untuk membumikan asa cita pengabdian lintas vertikal dan lintas horisontal.
Pertama, “mereka cinta untuk menafkahkan apa yang dimiliki (baca: berupa harta, pengetahuan dan ketauladanan) dalam setiap moment dan kondisi ketika diperlukan walaupun mereka sempit atau lapang (ada kemudahan)”. Merunut kondisi sosial ini sebenatnya adalah cerminan sikap kepribadian mulia. Manusia yang mendermakan apa yang dimilikinya pada dasarnya adalah manusia peduli terhadap orang lain.
Dalam konteks dinamika sosio-religi hari ini betapa banyak Program pembumian syariat itu kandas ditengah jalan karena minimnya manusia yang cinta dan peduli terhadap kesinambungan syariat yang menjadi kewajibannya. Betapa banyak komunitas terlantar hanya karena sebab minimnya manusia yang peduli yang mampu menggerakkan spirit mereka untuk maju. Betapa banyak komunitas yang terjebak dengan kehidupan sosial yang nista dalam paradigma agama hanya karena minimnya manusia yang peduli turun untuk menolong sesamanya.
Kehidupan individual menjadi tontonan yang memprihatikan, padahal derajat ketakwaan itu menjadi ujian transformatif nilai untuk mengatasi problematika ini. Kebodohan, keterbelakangan, kemiskinan, kejahatan, kemungkaran hanya akan dapat diatasi secara baik oleh manusia yang peduli. Simbul kepedulian itu yang perlu ditumbuhkembangkan di tengah tengah kesiapan bermasyarakat hari ini sebagai perwujudan komunitas insani atas entitas derajat ketakwaan mereka. Untuk apa kita beribadah kalau bukan untuk membumikan lintas vertikal dan lintas horisontal yang mendatangkan tatanan masyarakat elegan yaitu masyarakat yang damai nyaman merasa terlindungi oleh sesama saudara kerena telah terbentuk asa kepedulian itu. Dahsyatnya kepedulian, dan hari ini semua kita miliki dan itu akan sangat berarti dan bernilai saat kita memiliki juga asa kepedulian. Oleh karena itu menginfakkan harta itu adalah konstruksi simbul kepedulian yang perlu kita sosialisasikan di tengah masyarakat hari ini yang memang memerlukan kepedulian dari smeua pihak sehingga komunitas ini menemuka menjadi komunitas yang elegan di bawah redhaNya.
K e d u a , “mereka mampu secara bijak mengendalikan emosi”. Pengendalian emosi tanpa disadari adalah sebuah kekuatan besar dalam diri seseorang untuk ia tampil menjadi manusia yang bermanfaat bukan terbatas untuk dirinya tetapi juga untuk semua elemen lingkungannya.
Betapa banyak rencana aksi tdk membuahkan hasil maksimal saat mana ketika perwujudannya penuh dengan emosi tanpa batas. Pengendalian emosi menjadi elemen penting dalam dinamika kehidupan. Mereka yang mampu mengendalikan emosi adalah manusia cerdas dan bijak serta senantiasa akan sukses dalam berkarya. Suasana komunitas kita hari ini memerlukan sosok yang terampil kreatif dan tdk emosional. Amarah yang bukan pada tempatnya akan menggerogoti jiwa kerinduan pelakunya dan juga akan menambah petaka bagi insan diseputarnya. Oleh kemana itu diri yang mampu mengendalikan emosi itu amat urgen terampil di tengah dinamika kehidupan untuk mengisi beragam sektor pembangunan baik itu pembangunan spritual maupun pembangunan material. Entitas pengendalian emosi bagi jiwa mereka yang memperoleh derajat ketakwaan akan sukses menghadapi ragam tantangan kehidupan. Atas dasar ini pula kita berharap terpelihara fitrah insani yang dimiliki ini sehingga kehidupan ke depan lebih stabil dan beda ya guna bagi gerak laju sosioreligi kehidupan vertikal maupun kehidupan horisontal.
Ketiga, mereka dengan cekatan memiliki kepribadian pemaaf,  “memaafkan antara sesama” itu modal penting untuk mendatangkan suasana komunis ya yang kondusif untuk keberlanjutan sebuah dinamika kehidupan. Untuk singkat bahwa meminta maaf atas kesalahan yang telah kita perbuat terhadap orang lain adalah dinamika kehidupan yang perlu di tradisikan dan itu adalah perilaku mulia, dan akan lebih mulia memberikan kemaafan itu sendir sebelum diminta oleh pelaku yang berbuat kesalahan terhadap diri kita. Esensi terpenting dari sikap memberikan kemaafan akan menjadi jalur panjang terbaik untuk membangun kebersamaan saat mana pemenuhan kebutuhan kehidupan itu diharuskan leh sebuah sinergisitas mumpuni. Sehingga setiap orang akan berperan aktif sesuai dengan kapasitas kepribadiannya untuk ambil bagian menata dinamika kehidupan ini. Tidak ada aksi sosio-religi yang terhambat karena terganjal oleh kesalahan yang belum termaafkan. Sederhana dalam paradigma tetapi transformasi nilai ini ke dalam wujud esensial keseharian telah dan akan menjadi rumit dan butuh perjuangan serta ketulusan bagi setiap pribadi untuk ambil bagian memberikan kemaafan antara sesama.
Merujuk kepada tiga elemen di atas tentu saja derajat ketakwaan yang mengantarkan sosok personalitas ini amat diperlukan untuk membangun tatanan masyarakat modern berkeadaban karena ada asa kepedulian di dalamnya.
Saatnya Pemerintah Aceh dengan segenap jajarannya memaksimalkan potensi derajat ketakwaan setiap warga untuk saling bersinergi mengumpulkan kekuatan prima bertujuan melahirkan komunitas yang berkeadaban. Adalah suatu kebanggaan saat setiap  warga memiliki entitas asa rindu bertakwa akan melahirkan sosok yang peduli akan menjadi prototipe komunitas yang memang diperlukan kesigapan serta kecerdasan ketakwaan untuk menata itu.
Mengapa tidak dengan momentum Jumat mulia kali ini dengan semangat derajat ketakwaan oleh  Pemerintah Aceh  harus bijak menata partisipasi segenap elemen  untuk bersinergi membangun dinamika kehidupan dari berbagai sisi elemen kehidupan sosio-religi-ekonomi-politikdan budaya dalam atmosfir ber peradaban. Insya Allah, allah SWT akan selalu bersama hambaNya yang beriman dan yang telah memperoleh derajat ketakwaan guna mengisi kehidupan di bawah radhaNya.n

Dialog

Tafsir dan Hadist

Dinas Syariat Islam

Pelayanan Medis Harus Islami

Oleh : Nurjannah, M.Si (Dosen Akfar Farmasi YPPM Mandiri) Selama pandemi yang sudah hampir memasuki dua tahun ini, keadaan semakin terpuruk dalam segala sisi kehidupan

Illiza Jelaskan Soal Gafatar ke MUI

Gema JUMAT, 5 Februari 2016 Banda aceh (Gema)Walikota Banda Aceh Hj Illiza Sa’aduddin Djamal SE, Selasa (2/2/2016) mendatangi kantor Majelis Ulama Indonesia (MUI) jalan Proklamasi

Menuju Islam Khaffah

Tabloid Gema Baiturrahman

Alamat Redaksi:
Jl. Moh. Jam No.1, Kp. Baru,
Kec. Baiturrahman, Kota Banda Aceh,
Provinsi Aceh – Indonesia
Kode Pos: 23241

Tabloid Gema Baiturrahman merupakan media komunitas yang diterbitkan oleh UPTD Mesjid Raya Baiturrahman

copyright @acehmarket.id 

Menuju Islam Kaffah

Selamat Datang di
MRB Baiturrahman