Etika Informasi

Gema JUMAT, 20 November 2015 Oleh: Murizal Hamzah “Tolol, bodoh, bangai that,” adalah sejumlah kata-kata yang sering kita dengar di dunia fana hingga dunia maya. Dilontarkan oleh siapa pun yang merasa dirinya lebih paham pada sebuah persoalan. Di media sosial, kata caci maki sering terlempar atau hilir-mudik yang hanya menguras energi dan waktu bagi pembaca. … Read more

...

Tanya Ustadz

Agenda MRB

Gema JUMAT, 20 November 2015
Oleh: Murizal Hamzah
“Tolol, bodoh, bangai that,” adalah sejumlah kata-kata yang sering kita dengar di dunia fana hingga dunia maya. Dilontarkan oleh siapa pun yang merasa dirinya lebih paham pada sebuah persoalan. Di media sosial, kata caci maki sering terlempar atau hilir-mudik yang hanya menguras energi dan waktu bagi pembaca.
Tidak ada hikmah atau itibar yang bisa kita petik. Ya kita cenderung merasa lebih benar, lebih paham daripada orang lain. Dengan kata lain, melihat sebuah peristiwa menurut mata atau pemahaman kita. Tidak memposisikan diri sebagai pihak yang dituduh atau orang lain.
Ketika sang tuna netra berjalan pada malam hari dengan tongkat di tangan kanan dan senter di tangan kiri, seorang warga heran dengan perilaku itu. Menurutnya, tunanetra tidak butuh senter.
“Mengapa Anda menyalakan senter?” tanya pemuda itu.
“Sebagai penerangan,” jawab orang itu.
“Penerangan, Andakah tidak bisa melihat?” sergahnya.
“Saya tidak bisa melihat namun orang lain bisa melihat saya karena terang dan mereka atau saya tidak menabrak orang lain,” tegas tunanetra itu panjang lebar.
Dari kisah pendek itu, kita bisa belajar banyak sebagai universitas kehidupan. Manusia cenderung berpikir atau bertindak layaknya pemuda yang menyatakan untuk apa tunanetra memakai senter? Tidak ada fungsi senter bagi orang buta. Padahal senter itu sangat berguna bagi tunanetra yakni agar warga tidak menabrak dirinya. Sosok pemuda itu mengamati sebuah persoalan dari sudut pandang aku atau sudut pandang kamu. Sedangkan orang buta berparadigma sinergis: cara berpikirku bertemu cara berpikirmu menghasilkan cara berpikir kita.
Tidak dapat dimungkiri, bawahan, rakyat dan lain-lain cenderung mengamati kebijakan pemimpin atau atasan menurut kacamata masingmasing. Dengan sejengkal informasi yang tidak akurat, masyarakat atau bawahan sudah melemparkan tuduhan tanpa bukti.
Akibatnya, bisa saja warga atau anak buah mendapat hukuman atau tidak diberi amanah yang lebih besar.
Dalam hal ini, kita selalu ingat dengan sabda Rasulullah yakni
“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah ia mengatakan yang baik atau hendaklah ia diam.” (HR. Bukhari).
Mulutmu harimau. Tanpa mengadakan verifikasi atau cek dan ricek, kita bisa menyebarluaskan fitnah. Apalagi sekarang dengan kehadiran telepon seluler atau perangkat komunikasi yang selebar telapak tangan, maka sangat mudah menyebarluaskan dakwah sekaligus atau fitnah. Penyakit lisan mesti disembuhkan dengan puasa mulut atau bertanya, bukan memberi pernyataan. “Dan katakanlah yang baik, kalau tidak, maka diamlah karena sesungguhnya barang siapa yang selalu diam maka ia akan selamat. Ali bin Abi Thalib berkata: “Dengan banyaknya diam, disitulah terdapat harga diri/wibawa.” Pada kesempatan lain, Ali menyatakan “ibadah yang paling utama adalah diam dan menunggu jalan keluar.”
Dan pada suatu masa, kita harus berbicara untuk mengalahkan kezaliman. Mengutip ulama Al Hasan (Al Bashri) yakni mengajarkan kebaikan lebih baik daripada diam, dan diam lebih baik daripada mengajarkan keburukan.”

Dialog

Tafsir dan Hadist

Dinas Syariat Islam

Tantangan dan Peluang BLUD Masjid Raya

GEMA JUMAT, 31 JANUARI 2020 Gubernur Aceh Zaini Abdullah berjanji sebelum jabatannya berakhir akan terlebih dahulu meningkatkan pelayanan dalam pengelolaan Masjid Raya Baiturrahman. Dan menandatangani

Imsak

GEMA JUMAT, 18 MEI 2018 Oleh Murizal Hamzah Puasa adalah Imsak.  Puasa memiliki tiga nama yakni  Al-Shaum, Al-Shiyam, dan Al-Imsak. Al-Shaum, Wal-Shiyam fil lughatil Al-Imsak,

Mensyukuri al-Naafi'u

Oleh Dr. Sri Suyanta (Dosen Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Ar-Raniry) Muhasabah 20 Safar 1440 Saudaraku, dalam meneladani sikap religiusitas orang-orang mulia terdapat ibrah berharga

Menyoal Kehalalan Daging Ayam di Banda Aceh

Gema JUMAT, 25 NOVEMBER 2016 (Hasbi Badai,SH, – Ketua Asosiasi Peternak dan Pedagang Unggas Aceh) Dewan Perwakilan Rakyat Aceh sedang menggodok qanun sistem jaminan halal.

Menuju Islam Khaffah

Tabloid Gema Baiturrahman

Alamat Redaksi:
Jl. Moh. Jam No.1, Kp. Baru,
Kec. Baiturrahman, Kota Banda Aceh,
Provinsi Aceh – Indonesia
Kode Pos: 23241

Tabloid Gema Baiturrahman merupakan media komunitas yang diterbitkan oleh UPTD Mesjid Raya Baiturrahman

copyright @acehmarket.id 

Menuju Islam Kaffah

Selamat Datang di
MRB Baiturrahman