Oleh: Ust. Ir. Faizal Adriansyah, M.Si

Kepala LAN Aceh 2014-2022, Widyaiswara Ahli Utama LAN RI

Hari Ketika Mulut Dikunci

Tanya Ustadz

Agenda MRB

Setiap bulan Desember mengingatkan kita dengan peristiwa dahsyat gempa dan tsunami 26 Desember tahun 2004 M bertepatan dengan 14 Dzulqaidah 1425 H....

Setiap bulan Desember mengingatkan kita dengan peristiwa dahsyat gempa dan tsunami 26 Desember tahun 2004 M bertepatan dengan 14 Dzulqaidah 1425 H. Bencana tsunami Aceh begitu dahsyat sulit kita ungkap dengan kata-kata, bencana tsunami Aceh meninggalkan duka dan luka yang mendalam tidak hanya bagi Aceh tapi juga bagi dunia. Solidaritas kemanusianan membantu Aceh sehingga kita bangkit kembali. Tak terasa sudah 19 tahun berlalu, seakan bagi kita yang menjadi saksi sejarah tsunami peristiwa duka tersebut baru beberapa tahun yang lalu. Mereka yang hari ini umurnya 19 tahun ketika tsunami terjadi baru lahir kedunia. Yang umurnya 29 tahun hari ini ketika tsunami tejadi baru berusia 10 tahun, hari ini bisa jadi sudah bekeluarga dan menggendong anak. Yang umur 69 tahun hari ini ketika tsunami terjadi masih lincah dan gesit karena umurnya saat itu 50 tahun.

Waktu berjalan begitu cepat seperti anak panah yang lepas dari busurnya. Setahun serasa sebulan, sebulan serasa seminggu, seminggu serasa sehari. Perjalanan waktu telah mengantar kita pada penghujung tahun 2023 dan sebentar lagi kita akan menuju tahun 2024. Pergantian waktu bagi orang beriman dan berakal bukanlah sekedar pergantian angka. Tetapi dalam pergantian waktu tersebut ada pesan Allah berupa tanda-tanda kebesaranNya, sebagaimana firman Allah dalam surah Ali Imran ayat 190 “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal”.

Karena itu menyambut pergantian tahun dengan cara berpesta pora, kembang api, mercon, musik, bernyanyi sukaria yang kadang bersentuhan dengan alkohol dan hal haram lainnya tidak sesuai dengan ajaran Islam. Setiap pergantian tahun seharusnya disikapi dengan  muhasabah diri. Apa yang sudah kita siapkan dalam menghadapi kehidupan kita setelah kematian. Khalifah Umar bin Khatab berpesan “hasibu anfusakum qabla antuhasabu” yang maknanya hitunglah/hisablah dirimu sebelum kamu kelak dihisab dihadapan Allah.

Paling tidak dalam pergantian tahun ada dua hal penting yang kita renungkan. Pertama; pergantian tahun adalah bukti betapa Allah mengendalikan seluruh alam ini. Pergantian tahun mengingatkan kita akan Kebesaran Allah sebagai Rabbul Alamin. Alam dan segala isinya hanya tunduk dan patuh pada Allah sebagai Sang  Pencipta, Pengatur dan Pemelihara seluruh Alam. Kedua; kita mendapat pesan bahwa pergantian tahun adalah isyarat bahwa waktu kita hidup dimuka bumi ini sudah berkurang dan saat perjumpaan dengan Allah semakin dekat.

Waktu telah merubah kita, waktu telah merubah fisik kita. Kita dulu lahir sebagai  bayi lalu menjadi anak-anak yang lucu, remaja, dewasa, kemudian tua. Inilah keadaan kita yang dirubah oleh perjalanan waktu. Persis seperti tamsil gerakan shalat yang kita lakukan berdiri – ruku dan sujud. Berdiri simbol bahwa kita awalnya muda, kuat, bekerja, punya harta, pangkat dan jabatan. Ruku adalah simbol bahwa kita sudah tua, lemah, pensiun, tidak banyak lagi harta, tidak ada lagi pangkat dan jabatan dan sujud adalah perjalanan akhir kita diatas muka bumi ini bahwa kita pada akhirnya akan kembali kepada Allah. Kita berasal dari tanah dan kita akan kembali kepada tanah.

Waktu seharusnya tidak hanya merubah fisik kita tapi juga merubah rohani kita, semakin bertambah usia semakin dekat pada Allah, semakin taat dan selalu hadir dirumah Allah, di majelis-majelis Ilmu, bukan sebaliknya semakin jauh dari Allah. Rasulullah ditanya oleh seseorang. “Siapa manusia terbaik?” Beliau bersabda, ”Manusia yang usianya panjang dan dihabiskan untuk kebaikan.” Ia bertanya lagi, ”Siapa manusia terburuk?” Beliau bersabda, ”Manusia yang usianya panjang, namun dihabiskan untuk keburukan.” (HR. Thirmizi).

Waktu sesungguhnya adalah kehidupan yang kita jalani, “al waktu huwal hayyah”.       Al Quran mengingatkan bahwa kerugian bagi manusia yang menyia-nyiakan waktu sebagaimana firman Allah dalam surah Al Ashr ayat 1-3 “ Demi masa. Sungguh, manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan sert saling menasehati untuk kebenaran dan saling  menasehati untuk kesabaran”.

Waktu yang kita jalani di dunia ini ada batasnya, semua kita telah Allah tetapkan ajalnya. Ahli hikmah pernah memberi tamsil bahwa hidup ini sesungguhnya seperti bentangan benang. Setiap kita sudah memiliki bentangan benang masing-masing yang panjangnya beragam, ada yang pendek, ada yang panjang. Namun setiap hari bentangan benang itu semakin pendek karena dibakar oleh perjalanan waktu yang kita lalui. Ketika bentangan benang itu habis maka itulah akhir kehidupan kita.

Panjang pendek umur sudah ditetapkan Allah atas diri seseorang. Sering kita terjebak hanya dengan dimensi panjang dan pendek, karena itu kalau berulang tahun  lagunya panjang umurnya… panjang umurnya, yang kita perhatikan hanya dimensi panjang dan pendek. Kita sering lupa bahwa ada dimensi lain yaitu lebar dan sempit. Dimensi ini menjadi bagian kita, ketika kita isi umur dengan banyak menebar kebaikan sesungguhnya kita memperlebar umur kita. Sebaliknya umur kita menjadi sempit tak kala kita isi dengan kesia-siaan, dimensi ini bisa dimaknai sebagai Habluminnas. Disamping panjang dan lebar ada dimensi ketiga yaitu dalam dan dangkal. Umur kita akan dalam bila kita isi dengan kesungguhan memahami dan mengamalkan ibadah maghdah, dimensi ini bisa kita maknai Habluminnallah. Dalam ilmu matematika ketika panjang dikali lebar dikali dalam maka hasilnya adalah volume. Sesungguhnya ketika kita menghadap Allah yang kita bawa adalah amal dalam bentuk  ukurannya volume yaitu panjang umur kita dikali Lebar (kebaikan kita) dikali dalam (kesungguhan dalam memahami agama). Ada orang umurnya panjang tapi sayang dia persempit dan sangat dangkal maka volumenya kecil  tapi ada orang yang umurnya mungkin tidak panjang tapi lebar dan dalam maka volumenya akan besar.

Kematian bukanlah akhir segalanya, kita yakin kita akan dihidupkan lagi pada saat hari pembalasan tiba. Dalam surah Yasin ayat 12 Allah mempertegas hidup sesudah mati.  ”Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang mati dan Kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan. Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam Kitab Induk yang nyata (Lauh Mahfuzh)”. Pada hari pembalasan itu amal kita akan dihisab dan mulut tidak bisa berkata sebagaimana surah Yasin ayat 65 “Pada hari ini Kami tutup mulut mereka; dan berkatalah kepada Kami tangan mereka dan memberi kesaksianlah kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka usahakan.” Marilah kita persiapkan bekal untuk menghadapi pengadilan Allah kelak di padang masyar, dengan tidak menyia-nyiakan waktu yang Allah berikan. Allah berfirman “Wahai orang-orang yang beriman ! Bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri mempersiapkan bekal apa yang akan ia bawa untuk hari esok atau akhirat. (QS. Al Hasyr 18-19).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Dialog

Pustaka Baiturrahman

Tafsir dan Hadist

Dinas Syariat Islam

copyright @acehmarket.id 

MRB Aceh

Media Humas dan Informasi
Mesjid Raya Banda Aceh

MRB Aceh merupakan media humas dan informasi Unit Pelaksana Teknis Daerah Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh

Menuju Islam Kaffah

Selamat Datang di
MRB Baiturrahman