Harta Dibawa ke Akhirat

Gema JUMAT, 11 Desember 2015 Oleh : Murizal Hamzah Harta tidak dibawa mati. Biar miskin asal masuk surga. Beragam kutipan tentang harta sering dilontarkan oleh pihak yang menghendaki umat Islam dalam pasungan kemiskinan bin kemalaratan. Kata-kata tersebut sangat mujarab untuk menghibur warga yang belum memiliki harta sehingga tidak ada kewajiban untuk berhaji. Kita paham, haji … Read more

...

Tanya Ustadz

Agenda MRB

Gema JUMAT, 11 Desember 2015
Oleh : Murizal Hamzah
Harta tidak dibawa mati. Biar miskin asal masuk surga. Beragam kutipan tentang harta sering dilontarkan oleh pihak yang menghendaki umat Islam dalam pasungan kemiskinan bin kemalaratan. Kata-kata tersebut sangat mujarab untuk menghibur warga yang belum memiliki harta sehingga tidak ada kewajiban untuk berhaji. Kita paham, haji hanya wajib bagi umat yang mampu dari aspek harta dan kekuatan batin. Jika ada pilihan yakni kaya di dunia lalu berpulang ke Rahmatullah masuk surga, mengapa masih memilih miskin di dunia dan mati masuk neraka?
Suatu waktu, seorang hartawan yang dermawan menyatakan umat Islam mesti berpikir memiliki harta yang halal. Dengan kata lain, tertanam keinginan untuk kaya. Perhatikan dari Lima Rukun Islam, dua di antaranya berkaitan dengan harta yakni berzakat dan berhaji. Jika pada suatu masa menerima zakat, maka pada suatu era harus memberi zakat.
Bila dulu mengantar atau mendoakan sahabat berhaji, kini kita yang diantar atau didoakan berhaji. “Jika ada uang, kita bisa menginap di hotel yang hanya 50 meter dari Kabah,” ungkap dermawan itu suatu ketika.
Benarkah harta tidak dibawa ke kuburan? Ya betul tidak ada harta benda yangdimuatkan ke peti jenazah.
Hanya selembar kafan atau kain ihram yang membalut aurat tanpa ada harta yang diselipkan di dalam peti kuburan. Benar harta tidak dibawa mati dan benar juga harta dibawa ke akhirat.
Bagaimana harta di dunia bisa dibawa ke akhirat? Bahasa kasarnya harta di dunia akan menyelamatkan umat di akhirat Sejatinya harta di dunia akan menyelamatkan kita di akhirat. Caranya, kekayaan yang dimiliki agar tiba ke akhirat dengan cara menitip harta pada kaum dhuafa. Tentu saja dengan memberikan sumbangan ke panti asuhan, berzakat, mewakafkan harta, memberikan beasiswa kepada anak yatim piatu dan sebagainya. Titiplah harta kepada mereka yang berjihad untuk kemulian hidup.
Karena itu, kita salut dan kagum kepada hartawan yang dermawan yang setiap hari tranfer uang kepada berbagai pihak. Pada waktu bersamaan, kibaran doa pun disampaikan kepada pemberi agar tetap sehat beraktivitas. Semangat mentitip harta pada berbagai lembaga sosial atau baitul maal mesti digelorakan. Dalam hal ini, kita terkesima dengan semangat dermawan dalam memberi. Nyaris setiap ada pembangunan meunasah atau kegiatan sosial di Jakarta oleh warga Aceh, nyaris tokoh ini ikut menyumbang. Kini sosok pemurah ini sudah alm mewariskan kisah-kisah semangat merogoh saku untuk memberi. Semoga tokoh ditempatkan di sisi Allah SWT.
Semua harta-harta yang kita titip itu akan menjadi modal kita pada hari akhirat. Sebaliknya harta benda yang hanya ditabung di bank atau tidak dikeluarkan kepada warga berpeluang menjadi masalah bagi yang mengurus. Ditambah lagi sebutan yang tidak nyaman dari masyarakat yakni orang kaya yang pelit. Hingga sudah terbujur di liang lahat, warga masih mengenalnya sebagai orang pelit. Sunggu tidak enak bagi siapa pun yang mendengarnya.
Tidak salah lagi tangan di atas lebih mulia daripada tangan di bawah. Memberi itu dihormati dan disegani. Bercita-cita dan berusaha memperoleh harta secara jujur dan lurus adalah sebuah kehormatan untuk diberikan kepada orang lain yang nanti diterima lagi di akhirat. Tidak ada harta yang hilang karena kelak dikembalikan lagi dalam berbagai bentuk. “Berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya dan nafkahkanlah sebagian dari hartamu yang Allah telah menjadikan kamu menguasainya.
Maka orang-orang yang beriman di antara kamu dan menafkahkan (sebagian) dari hartanya memperoleh pahala yang besar.” (QS. Al Hadiid: 7).
 

Dialog

Tafsir dan Hadist

Dinas Syariat Islam

Ramadhan Sebagai Bulan Pendidikan Ummat

Khutbah Jum’at, H. Syabuddin Gade, Dosen Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Ar-Raniry Banda Aceh TiDAk diragukan sedi kitpun, bahwa ramadhan adalah bulan pendidikan bagi semua

Murtad

GEMA JUMAT, 14 FEBRUARI 2020 Dalam minggu ini, di media online  dan media sosial marak dengan pemberitaan seorang anak Aceh yang murtad.  Tak pelak pengakuan

Mensyukuri Al-Khaafidh

Oleh Dr. Sri Suyanta (Dosen Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Ar-Raniry) Muhasabah 9 Zulhijah 1439 Saudaraku, Al-Khaafidh ini juga di antara asmaul husna yang sebaiknya

Orang yang Penuh Akal Versi Al-Quran

GEMA JUMAT, 10 NOVEMBER 2017 Khutbah Dr. H. Badrul Munir, Lc, MA, Dosen Fakultas  Syariah UIN Ar-Raniry dan LIPIA Banda Aceh Apabila seseorang selalu berzikir

Menuju Islam Khaffah

Tabloid Gema Baiturrahman

Alamat Redaksi:
Jl. Moh. Jam No.1, Kp. Baru,
Kec. Baiturrahman, Kota Banda Aceh,
Provinsi Aceh – Indonesia
Kode Pos: 23241

Tabloid Gema Baiturrahman merupakan media komunitas yang diterbitkan oleh UPTD Mesjid Raya Baiturrahman

copyright @acehmarket.id 

Menuju Islam Kaffah

Selamat Datang di
MRB Baiturrahman