Gema, 15 Februari 2018
Oleh Dr. Sri Suyanta (Wakil Dekan I Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Ar-Raniry)
Kebermaknaan amal yang kita lakukan memang relatif, namun sepertinya tidak tergantung pada lama proses amaliah itu berlangsung.
Sebagai orangtua, misalnya, karena padatnya agenda demi kerja mungkin saja hanya menggunakan sedikit waktu untuk bisa bertemu dengan keluarga juga putra putrinya, namun terasa sangat bermakna.
Istri atau suami dan anak-anaknya dapat memanfaatkan saat-saat bersua, sehingga kebersamaan senantiasa terjaga dalam cita dan cinta kepada Rabbnya.
Dan sebaliknya, bisa saja terjadi meskipun secara lahiriah, ada seorang suami atau istri yang hidupnya serumah seatap dengan istri atau suami dan anaknya, namun hidupnya masing-masing, sehingga merasa sendiri-sendiri. Bersama hanya secara fisik saja tidak diikuti kebersamaan berkeluarga tetutama dalam menyelesaikan masalah demi masalah anggota keluarga yang satu dengan lainnya.
Begitu juga halnya istirahat atau tidur, bahkan makan.
Semoga dapat meraih dan merasakan meskipun istirahatnya sedikit tetapi bisa totalitas sesempurna istirahat, tidurnya sedikit tetapi memuaskan, makannya sedikit tetapi berkah mengenyangkan.
Dan semoga terhindar dari kondisi yang saat istirahatnya tidak cukup-cukup, waktu tidurnya selalu nambah-nambah, porsi makannya banyak tetapi jauh dari rasa puas.

