Masjid Pemersatu Umat

Gema JUMAT, 22 April 2016 Oleh : Murizal Hamzah Suatu ketika Presiden Korea Selatan Park Chung Hee bertemu Wakil Perdana Menteri Malaysia Tun Abdul Razak di Kuala Lumpur pada tanggal 17 Desember 1963. Ketika itu, ekonomi Malaysia lebih maju daripada Korea Selatan. Di kamar Abdul Razak terpampang kaligrafi AlQuran: ‘Innallaha la yu ghairuma bi qaumin … Read more

...

Tanya Ustadz

Agenda MRB

Gema JUMAT, 22 April 2016
Oleh : Murizal Hamzah
Suatu ketika Presiden Korea Selatan Park Chung Hee bertemu Wakil Perdana Menteri Malaysia Tun Abdul Razak di Kuala Lumpur pada tanggal 17 Desember 1963. Ketika itu, ekonomi Malaysia lebih maju daripada Korea Selatan.
Di kamar Abdul Razak terpampang kaligrafi AlQuran: ‘Innallaha la yu ghairuma bi qaumin hatta yu ghairuma bi anfusihim’ (Q.13. Ar-Rad: 11) yang artinya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum sehinggalah kaum tersebut mengubah nasibnya sendiri.
Sejenak Park Chung Hee terkesan dengan terjemahan itu yang diterangkan oleh Tun Abdul Razak. Park Chung Hee tidak membaca dan memahami Al-Quran. Dia hanya tahu satu ayat saja. Dari semangan ayat itu, orang nomor satu di Korea itu mengerahkan semua program pembaharuan yang diberi nama Saemul Undong. Dari program itulah, Korea maju mengalahkan Malaysia bahkan Indonesia yang mayoritas Islam.
Park Chung Hee hanya tahu 1 ayat yang diterapkan dalam kehidupan sehari-hari warga Korea. Sebaliknya umat Islam mengetahui arti dan terjemahan seluruh isi Quran namun belum manerjemahkan dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan masih ada yang sibuk membahas wajib pegang tongkat ketika khutbah Jumat. Demikian pernyataan diungkapkan oleh intelektual asal Aceh yang berjaya di Malaysia bahkan menjadi orang kepercayaan mantan Perdana Menteri Malaysia Tun Dr. Mahathir bin Mohammad. Sosok pribadi yang peduli pada Aceh yakni Tan Sri Dato’ Sri Sanusi bin Junid.
“Tentunya ini merupakan tantangan bagi kita umat Islam untuk tidak sekedar membaca dan menghafal Al-Quran tetapi bagaimana dapat mengimplementasikan dalam seluruh aspek kehidupan untuk meniti kejayaan dalam segala bidang,” ungkap Sanusi dalam pidato penerimaan gelar Doktor Honoris Causa di Universitas Islam Antarbangsa Malaysia di Malaysia.
Kita patut merasakan ditampar oleh kalangan non Islam yang mengamalkan pesan fi rman Allah SWT. Kita sepakat, bahwa Islam datang antara lain untuk memperbaiki akhlaq, tutur kata dan sebagainya. Di sisi lain, kita terkesima ketika segelintir jamaah Jumat berteriak-teriak di masjid yang memaksa khatib pegang tongkat ketika khutbah Jumat. Sedih menyaksikan babak demi babak ketika umat memaksa kepada khatib untuk memegang tongkat dan sebagainya. Hal yang sangat ironis karena itu terjadi di Rumah Allah. Seolah-olah mereka adalah pihak yang paling benar dan betul yang sudah mendapat jatah menetap di surga.
Bagi umat Islam, masjid itu bukan hanya untuk bermunajat. Lebih dari itu, masjid adalah pusat yang menyatukan umat Islam dari berbagai etnik, jabatan, kedudukan sosial dan sebagainya. Kemajuan umat Islam bisa ditandai dari aktivitas umat di masjid.
“Sesungguhnya yang memakamurkan masjidmasjid Allah itu adalah orang yang beriman pada Allah dan hari akhirat, menegakkan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut kecuali hanya kepada Allah. Mereka pasti dari golongan orangorang yang mendapat petunjuk Allah.” (QS. At-Taubah: 18).
Karena menyadari bahwa masjid adalah sumber kekuatan umat, jadilah masjid sebagai wadah untuk memajukan umat. Perbedaanperbedaan yang tidak prinsipil tidak perlu diungkit-ungkit yang bisa menimbulkan perpecahan dan lain-lain. umat Islam di Aceh khususnya menghadapi angka kemiskinan, rumah dhuafa, pengangguran dan lain-lain yang menjadi masalah umat Islam bersama.
Siapa pun tahu, masjid adalah kebutuhan umat. Sejak lahir sampai meninggal dunia, kita tidak pernah putus dari masjid. paling tidak sebelum diusung ke liang lahat, kita dishalatkan di masjid atau meunasah. Sejak dulu hingga kini, masjid adalah sumbu segala aktivitas dari tempat beribadah, mengatur strategi perang, pendidikan, bersilaturahim, rapat-rapat. Satu kata, masjid itu tempat pemberdayaan umat secara umum. Hanya yang anti Islam yang membatasi masjid sebagai ritual ibadah.
 

Dialog

Tafsir dan Hadist

Dinas Syariat Islam

Pengelolaan MRB secara profesional

GEMA JUMAT, 10 JANUARI 2020 Dr EMK Alidar S. Ag M. Hum, (Kadis Syariat Islam Aceh) Di awal tahun 2020 ini, perkarangan dan sekitaran Masjid

Menyiapkan Bekal

Gema JUMAT, 27 November 2015 Oleh : H. Basri A. Bakar Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main- main. Dan sesungguhn- ya

Mensyukuri Al-Muhshi

Oleh Dr. Sri Suyanta (Dosen Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Ar-Raniry) Muhasabah 15 Yaumul Bidh Ke-3 Muharam 1440 Saudaraku, dalam kehidupan ini betapa pentingnya aktivitas

Musabaqah Replika Kendaraan Hias di Lamkawe

GEMA JUMAT, 22 SEPTEMBER 2017 Lazimnya menyaksikan festival takbir menyemarakkan hari raya menampilkan mascot seperti masjid, kubah, menara, bedug, ketupat, unta dan lainnya yang dibuat

Menuju Islam Khaffah

Tabloid Gema Baiturrahman

Alamat Redaksi:
Jl. Moh. Jam No.1, Kp. Baru,
Kec. Baiturrahman, Kota Banda Aceh,
Provinsi Aceh – Indonesia
Kode Pos: 23241

Tabloid Gema Baiturrahman merupakan media komunitas yang diterbitkan oleh UPTD Mesjid Raya Baiturrahman

copyright @acehmarket.id 

Menuju Islam Kaffah

Selamat Datang di
MRB Baiturrahman