Membingkai Persaudaraan

Gema JUMAT, 6 November 2015 Khutbah Jum’at, Dr. H. FAUZI SALEH, MA Bingkai persaudaraan merupakan perisai penting menyukseskan pembangunan. Hal itu karena persaudaraan dapat meredam permusuhan, kedengkian, khianat dan iri hati. selanjutnya, ukhuwwah ini akan menghadirkan kesejukan dan keterbukaan dalam membina kerukunan dalam masyarakat yang memunculkan suasana saling memaafkan, saling menolong dan saling mendoakan guna … Read more

...

Tanya Ustadz

Agenda MRB

Gema JUMAT, 6 November 2015
Khutbah Jum’at, Dr. H. FAUZI SALEH, MA
Bingkai persaudaraan merupakan perisai penting menyukseskan pembangunan. Hal itu karena persaudaraan dapat meredam permusuhan, kedengkian, khianat dan iri hati. selanjutnya, ukhuwwah ini akan menghadirkan kesejukan dan keterbukaan dalam membina kerukunan dalam masyarakat yang memunculkan suasana saling memaafkan, saling menolong dan saling mendoakan guna menyongsong hari depan yang lebih cerah.
Islam menekankan pentingnya ukhuwwah dalam mewujudkan kesuksesan kehidupan duniawi dan ukhrawi. Allah swt berfirman dalam Qs. Al-Hujurat/49: 10.
Artinya, Orang-orang beriman itu Sesungguhnya bersaudara. sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.
Dalam tafsir at-Tahrirwat Tanwir disebutkan bahwa bagian pertama ayat ini merupakan ta’lil (alasan) kenapa persaudaraan itu harus dibangun dengan kokoh. Itu tidak lain karena umat ini bersaudara. Persaudaraan mereka ditetapkan dalam Al-Qur’an dan sunnah Rasulullah saw. Sebagai insan bersaudara, maka tidak boleh adanya suasana yang dapat merenggangkan hubungan, mencederai keharmonisan dan mengeringkan keakraban antar sesama.
Dalam berbagai suasana, hubungan ini terus diperkuat. Sebagai contoh, seorang muslim dianjurkan ketika berdoa tidak melupakan saudaranya diberikan ampunan dan kebahagiaan sebagaimana permohonan untuk dirinya. Dekatnya hubungan ini terlihat dalam doa seperti tersebut dalam Qs. AlHasyr/49: 10.
Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar), mereka berdoa: “Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan Saudara-saudara kami yang Telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Rabb kami, Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.”
Persaudaraan itu harus dibingkai di atas keikhlasan semata-mata karena Allah swt, bukan orientasi materi, popularitas, dan aspek keduniawiaan lainnya. Pertalian yang ikhlas menghantarkan pelaku untuk masuk ke dalam surga atas perangainya yang baik sebagaimana Rasulullah saw bersabda:
Ada tujuh golongan manusia yang mendapatkan perlindungan Allah pada hari yang tidak tidak ada naungan kecuali naungan-Nya: pemimpin yang adil, pemudah yang tumbuh dalam keataan kepada Allah, lelaki yang hatinya terpaut dengan masjid, dua orang saling mencintai karena Allah, bertemua karena-Nya dan berpisah karena-Nya, lelaki yang diajak seorang wanita yang punya kedudukan dan kecantikan, lalu ia berkata: sesungguhnya aku takut kepada Allah, orang yang bersedekah lalu ia menyembunyikannya sehigga tangan kiri tidak tahu apa yang dikerjakan tangan kanannya, dan orang yang ingat kepada Allah sendirian lalu menetes air matanya (Muttafaq ‘alayh)
Bingkai persaudaraan harus dipupuk dan disirami dengan mahabbah. Mahabbah (saling mencintai) merupakan salah satu tingkat persaudaraan dalam Islam yang mendapatkan keridhaan Allah, malaikat, para nabi dan syuhada sebagaimana sabda Rasul saw.:
Sekitar ‘arsy ada tempat yang tinggi dari cahaya, di atasnya terdapat kaum yang pakaiannya cahaya, wajahnya cahaya, mereka bukan para nabi dan syuhada, mereka membuat para nabi dan syuhadai penasaran. (sahabat) mengatakan: jelaskan kepada kami (siapa) mereka Ya Rasulullah? Beliau menjawab; mereka saling mencintai karena Allah, berteman karena Allah dan saling berkunjung karena Allah (HR. Muslim).
Kota Madinah menghadirkan mereka yang menjadi sampel umah ini dalam membina kebersamaan dalam penguatan nilai rohani dan materi berkata kebersamaan. Allah swt telah menyatukan hati mereka, Muhajirin dan Anshar, bahkan juga kaum muslimin yang datang dari berbagai sudut kawasan. Mereka semuanya tunduk di bawah naungan Allah swt, menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Firman Allah swt dalam Qs. Al-Anfal: 63:
Dia (Allah) menyatukan hati mereka, andaikata engkau menginfakkan semua yang di bumi, maka engkau tidak dapat menyatukan hati mereka, tetapi Allah yang menyatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana (al-Anfal: 63)
Ukhuwwah dalam Islam mengandung makna ijtima’iyyah (sosial) dan insaniyyah (nilai-nilai kemanusiaan) yang terus dipupuk dan dilestarikan. Pemupukan nilai-nilai tersebut melalui sosialisasi dalam teori ilmiah dan juga perwujudan nyata dalam keseharian umat. Sari pemupukan ini memberikan makna, tindakan preventif terhadap penyakit egoisme individual yang merugikan kehidupan sosial. Penyakit individual yang merusak itu seperti kebencian, hasud, kesewenangan, saling menuduh, menganggap diri hebat dan seterusnya. Ini tentu berlawanan dengan prinsip hidup muslim yang saling asih, asah dan asuh.
Untuk mempupuk persaudaraan ini, Islam membersihkan umatnya dari benalu yang menghisab keakraban dan keharmonisan sesama sebagai berikut:

  1. Islam membebaskan dari kebencian dan murka sesama

Rasulullah saw menganjurkan umatnya untuk saling mencintai karena Allah, melapangkan dada, membebaskan diri dari penyakit batin. Diriwayatkan Anas, Rasulullah saw bersabda:
Janganlah kalian saling memurkai, dengki dan membelakangi. Jadilah hamba Allah yang bersaudara. Tidak halal bagi seorang muslim meninggalkan saudaranya lebih tiga hari.
Persaudaraan minimal dalam Islam dimulai dengan kejernihan niat dan kemurnian hati terhadap sesama muslim hingga titik klimaks persaudaraan itu dengan pemberian sesuatu kebutuhan kepada sesama, dalam arti mengutamakan saudaranya. Sebagaimana firman Allah dalam Qs. AlHasyr: 9:
Dan mereka mengutamakan (saudaranya) daripada diri sendiri, walaupun dirinya kekurangan. (al-Hasyr: 9)
Islam membina penganut agar mampu menempatkan saudara dalam ukhuwwah bak bangunan yang saling mengokohkan antara satu bagian dengan bagian yang lain. Artinya muslim berkewajiban meluruskan saudaranya yang berbuat maksiat untuk meninggalkannya untuk kemudian menjadi pribadi yang taat dan patuh kepada sang Pencipta. Demikian seterusnya.
Abu Musa meriwayatkan bahwa Nabi saw bersabda: seorang muslim dengan muslim yang lain seperti bangun kokoh, sebagian menguat bagian yang lain.

  1. Membebaskan dari penyakit hasud dan khianat

Iri hati kepada sahabat yang saling mencintai karena Allah dan berpegang teguh kepada syariatnya merupakan godaan setan. Disebutkan dalam hadits Nabi saw:
Sesungguhnya setan berputus asa (mengajak) orang shalat untuk menyembahnya di Jazirah Arab, tetapi merusak (hubungan) di antara mereka (Hr. Muslim)
Sifat dengki merupakan akhlak kotor yang menginginkan hilangnya nikmat yang dimiliki saudaranya muslim. Hal ini tidak boleh terjadi mengingat saudara itu diposisikan sebagai seorang yang harus dibantu baik secara materi atau non materi dalam menghantarkannya kepada kebaikan dunia dan akhirat.
Dalam ungkapan yang bagus, Rasulullah saw menjawab sebuah pertanyaan:
Ya Rasullah, manakah manusia yang lebih utama? Beliau menjawab: setiap yang berhati makhmum dan berlisan jujur. Mereka (sahabat) berkata: berlisan jujur kami memahaminya, tapi apa maksud berhati makhmum? Beliau menjawab: bertakwa lagi jernih, tidak berdosa, tidak benci, khianat dan hasud.
3.Membebaskan diri dari pertengkaran dan perpecahan.
Pertengkaran itu penyebab shalat tidak diangkat dan ditolak Allah swt. Sementara persaudaraan dapat mewujudkan kemaslahatan dan semaian kasih sayang karena Allah swt. Rasulullah saw bersabda:
Tidak macam (manusia) yang shalatnya tidak diangkat sejengkal pun dari atas kepala mereka, (yaitu): seseorang yang memimpin suatu kaum sementara mereka membencinya, perempuan tidur di malam hari sementara suami murka kepadanya, dan dua saudara yang saling bertengkar.
Perselisihan dan pertengkaran berdampak negatif terhadap kemajuan masyarakat. Masyarakat yang larut dalam permusuhan akan menjadi individu yang lemah dan terbelakang. Sementara persaudaraan akan memperkuat sendi-sendi kehidupan dan kemajuan.

  1. Membebaskan gosip

Salah satu ciri khas umat Islam mampu memelihara rahasia dan amanah. Kemampuan menjaga amanah menjadi ukuran dalam membina persaudaraan yang abadi. Masyarakat amanah tidak akan menelusuri aib dan kekurangan orang lain. Individu muslim menyadari bahwa barangsiapa yang menelusuri aib saudaranya maka Allah akan menesuluri aibnya sebagaimana dideskripsikan Rasulullah saw.
Dalam al-Qur’an, Allah swt secara tegas melarang prilaku tersebut:
Dan janganlah kalian memata-matai, tidak pula mengghibah sebagian atas sebagian yang lain. Apakah salah seorang di antara kalian senang memakan daging saudaranya yang mati. Tentu kalian tidak menyukainya (al-Hujarat: 12)

  1. Membebaskan dari perkataan kotor

Perkataan yang indah itu merupakan ukiran bahasa surga, sebaliknya ucapan kotor itu menghantarkan pelakunya ke neraka. Kemampuan berkomunikasi tanpa cacian, melaknat dan perkataan vulgar merupakan kekuatan dalam membina persaudaraan dan keimanan sekaligus.
Rasulullah saw bersabda: Mencaci orang muslim itu fasik dan membunuhnya adalah kufur. (muttafaq ‘alayh)
Semoga Allah memberikan kemampuan kepada kita untuk dapat melestarikan hubungan persaudaraan dalam bingkau ukhuwwah Islamiyyah dan menjadikan hamba-Nya yang mencintai sesama karena mengharapkan ridha Allah swt.

Dialog

Tafsir dan Hadist

Dinas Syariat Islam

Jihad Tatap Aktual

Gema JUMAT, 11 NOVEMBER 2016 Oleh: Sayed Muhammad Husen Setiap peringatan Hari Pahlawan 10 Nopember, kita diingatkan dengan konsep dan aktualisasi jihad dalam ajaran Islam.

Mensyukuri Al-Jalil

Oleh Dr. Sri Suyanta (Dosen Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Ar-Raniry) Muhasabah 28 Zulhijah 1439 Saudaraku, muhasabah hari ini kita akan mengulang kaji keberkahan mensyukuri

Puasa Yang Ternoda

Renungan Ramadhan Day-24 Oleh: Nursalmi,S.Ag Sudah menjadi sebuah trend di bulan Ramadhan mengadakan acara buka puasa bersama. Tempat yang biasa dipilih adalah rumah makan dan

Eksis Menjaga Ukhuwah

Merawat ukhuwah itu penting untuk semua kita manusia, karena manusia tidak bisa hidup sendiri butuh orang lain, butuh saudara, walaupun beda agama, keragaman etnik, beda suku dan budaya tetapi tetap saling menghargai, menghormati apalagi pasca pemilu. Jangan tersimpan rasa dendam dan tidak baik untuk orang lain.

Menuju Islam Khaffah

Tabloid Gema Baiturrahman

Alamat Redaksi:
Jl. Moh. Jam No.1, Kp. Baru,
Kec. Baiturrahman, Kota Banda Aceh,
Provinsi Aceh – Indonesia
Kode Pos: 23241

Tabloid Gema Baiturrahman merupakan media komunitas yang diterbitkan oleh UPTD Mesjid Raya Baiturrahman

copyright @acehmarket.id 

Menuju Islam Kaffah

Selamat Datang di
MRB Baiturrahman