Mengejar Titel Tertinggi dalam Agama

  Gema Jumat, 23 Oktober 2015 Oleh Ahmad Faizuddin AwAl tahun baru 1437 Hijriah merupakan momen yang tepat untuk introspeksi diri. Sudah kah kita menjadi hamba seperti yang diharapkan oleh Allah SWT? Apakah Allah SWT ridha dengan amalan yang telah kita lakukan? Ini adalah saatnya kita membuat rencana dan mengatur strategi untuk menggapai titel tertinggi … Read more

...

Tanya Ustadz

Agenda MRB

 
Gema Jumat, 23 Oktober 2015
Oleh Ahmad Faizuddin
AwAl tahun baru 1437 Hijriah merupakan momen yang tepat untuk introspeksi diri. Sudah kah kita menjadi hamba seperti yang diharapkan oleh Allah SWT? Apakah Allah SWT ridha dengan amalan yang telah kita lakukan? Ini adalah saatnya kita membuat rencana dan mengatur strategi untuk menggapai titel tertinggi dalam pandangan Allah. Sebagai seorang Muslim, jangan hanya mengejar titel dunia. Kita bisa saja bangga dengan sederet gelar yang telah kita capai, namun semua titel tersebut tidak ada harganya dibandingkan dengan ridhanya Allah SWT. Sejarah mencatat beberapa gelar yang menunjukkan titel tertinggi sebagai hamba Allah, seperti ‘Alaihis Salam (AS), Sallallahu ‘Alaihi Wasallam (SAW), Radhiallahu ‘Anhu (RA), Rahimahullah dan
Hafizahullah. Dua gelar yang pertama, AS dan SAW, adalah hak mutlak para Nabi Allah SWT. gelar AS (Semoga Keselamatan Dilimpahkan Kepadanya) adalah untuk para Nabi dan Rasul secara umum. Secara khusus Nabi Muhammad adalah satu-satunya Rasul yang menyandang gelar SAW (Semoga Allah Memberikan Shalawat dan Salam Kepadanya). gelar Radhiallahu ‘Anhu (Semoga Allah Ridha Kepadanya) adalah gelar yang disematkan kepada para Sahabat. bagi Sahabiyah yang perempuan, kata hu diujung diganti dengan ha – Radhiallahu ‘Anha, atau huma untuk berdua dan hum untuk menunjukkan jumlah lebih dari dua. Semua Sahabat Nabi SAW mempunyai gelar ini karena mereka telah menunjukkan kualitasnya demi me
Mengejar Titel Tertinggi dalam Agama
majukan agama Islam. Diantara Sahabat-Sahabat yang utama adalah Abu bakar Al-Shiddiq, ‘Umar bin Khattab, Usman bin ‘Affan, Ali bin Abi Thalib, Fathimah, dan ‘Aisyah. gelar tersebut adalah sebuah penghormatan dan pujian kepada mereka karena Allah pun memuji mereka, “balasan mereka di sisi Rabb mereka ialah syurga ‘And yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ridha terhadap mereka dan mereka pun ridha kepadaNya. Yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Rabb-nya” (Q.S. Al-baiyinah: 8). gelar Rahimahullah (Semoga Allah Merahmatinya) atau Hafizahullah (Semoga Allah Menjaganya) diberikan kepada hamba-hamba yang menegakkan kalimatullah dan membela agama Allah dengan ilmu dan segenap jiwa raga mereka. Mereka adalah Tabi’in, Tabi’ Tabi’in dan Ulama salafus shaleh yang mengikuti jejak mereka. Contoh Ulama terdahulu yang berhak memakai gelar Rahimahullah atau Hafizahullah adalah Imam Malik, Imam Abu Hanifah, Imam Ahmad, Imam Asy-Syafi’i, Ibnu Taimiyah dan sebagainya. Diantara Ulama zaman sekarang adalah Syaikh Abdul Aziz
bin Abdullah bin baaz, Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani, Syaikh Muhammad bin Shaleh al-‘Utsaimin, dan lain sebagainya. gelar tersebut merupakan do’a dan penghormatan atas jasa-jasa besar mereka dalam menyebarkan syi’ar Islam. Dalam masyarakat Aceh khususnya, ada sebuah gelar yang pada akhirnya akan kita dapatkan, yaitu Almarhum. Hanya ada satu syarat untuk memperoleh gelar ini: sudah sampai ajal. Namun, pemakaian gelar ini sebenarnya agak rancu. Istilah almarhum bermakna sebuah kepastian bahwa Allah mengasihi mereka yang telah meninggal. Padahal belum tentu ada jaminan apakah orang yang telah meninggal itu mendapat ampunan Allah atau tidak. Akhirnya, marilah memperbanyak do’a, “Ya Allah aku memohon kepada-Mu akan ridha-Mu dan syurga; dan aku berlindung kepada-Mu dari kemurkaan-Mu dan siksa neraka”. Semoga di tahun baru ini kita bisa menggapai titel tertinggi dari Allah SWT yaitu ridha-Nya. Wallahu a’lam. Penulis, mahasiswa program Doctoral di Kulliyyah of education, educational Management and Leadership, International Islamic University Malaysia (IIUM).

Dialog

Tafsir dan Hadist

Dinas Syariat Islam

Mensyukuri Kebermaknaan Kata

Gema, 29 Maret 2018 Oleh Dr. Sri Suyanta (Wakil Dekan I Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Ar-Raniry) Saudaraku, dalam kehidupan sehari-hari, kita lazim mendengarkan ceramah

Menuju Islam Khaffah

Tabloid Gema Baiturrahman

Alamat Redaksi:
Jl. Moh. Jam No.1, Kp. Baru,
Kec. Baiturrahman, Kota Banda Aceh,
Provinsi Aceh – Indonesia
Kode Pos: 23241

Tabloid Gema Baiturrahman merupakan media komunitas yang diterbitkan oleh UPTD Mesjid Raya Baiturrahman

copyright @acehmarket.id 

Menuju Islam Kaffah

Selamat Datang di
MRB Baiturrahman