Mengembalikan Fungsi Masjid

Masjid Nabawi di awal pendiriannya, hanya berdinding tanah yang dikeringkan, bertiang pohon kurma, dan beratap pelepah kurma. Panjang masjid 70 hasta dan lebar masjid 60 hasta atau panjangnya 35 m dan lebar 30 m. Dibandingkan dengan kondisi fisik Masjid Nabawi sekarang ini, kondisi fisik masjid Nabawi dimasa Rasulullah Saw sangat jauh berbeda. Akan tetapi, dibandingkan … Read more

...

Tanya Ustadz

Agenda MRB

Masjid Nabawi di awal pendiriannya, hanya berdinding tanah yang dikeringkan, bertiang pohon kurma, dan beratap pelepah kurma. Panjang masjid 70 hasta dan lebar masjid 60 hasta atau panjangnya 35 m dan lebar 30 m. Dibandingkan dengan kondisi fisik Masjid Nabawi sekarang ini, kondisi fisik masjid Nabawi dimasa Rasulullah Saw sangat jauh berbeda.
Akan tetapi, dibandingkan dengan fungsi Masjid Nabawi dimasa Rasulullah Saw dengan masjid-masjid dimasa sekarang juga jauh berbeda. Dimasa Rasulullah Saw, Masjid Nabawi bukan hanya sekadar tempat shalat, dzikir, dan membaca Al-Quran saja. Diawal berdirinya, masjid adalah rumah Rasulullah Saw selaku pimpinan masyarakat. Jadi, bukan sekaligus rumah marbot seperti yang biasa kita lihat sekarang ini.
Masa Rasulullah
Mengapa Rasulullah Saw selaku utusan Allah SWT, pimpinan ummat, dan kepala negara, guru besar, dan panglima perang ini memilih tinggal di masjid? Karena, dimasa Rasulullah Saw, masjid adalah tempat berkumpulnya ummat Islam dengan segala kepentingan mereka.
Di masjid inilah Rasulullah Saw memulai meletakkan pondasi untuk segala urusan kemasyarakatan; menjadi qadhi (hakim)dan penetap keputusan selaku Rasul Allah dan presiden ummat . Di masjid pula Rasulullah Saw melakukan tugasnya mendidik dan membangun ummat bersendikan ajaran Islam.
Dalam masalah politik dan kemiliteran, masjid juga memegang perang penting sebagai markas besar, dimana Rasulullah Saw dan para sahabat memusyawarahkan berbagai perkara dan mengatur siasat peperangan. Di masjid pula, Abu Bakar Shiddiq diangkat menjadi pengganti Rasulullah Saw.
 
Memakmurkan Masjid
Hari ini, fungsi masjid menjadi lebih sempit dibandingkan dengan kondisi fisiknya yang semakin luas dan megah. Lalu, bagaimana cara mengembalikan fungsi masjid layaknya sunnah Rasulullah Saw, sekaligus menjadikannya masjid yang indah dan makmur?
“Sesungguhnya yang memakmurkan masjid Allah hanyalah orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan tidak takut (kepada apapun) kecuali kepada Allah. Maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. At-Taubah: 18)
Bila selama ini orang mendirikan shalat dan membayarkan zakatnya di masjid, itu adalah kegiatan yang biasa terlihat di masjid. Mendirikan madrasah dan menggelar  kajian ilmu di masjid juga sudah biasa terlihat.
Akan tetapi, memulai untuk memakmurkan masjid sebagai tempat berkumpulnya warga untuk membicarakan persoalan warga di masjid, nampaknya masih asing terlihat di masyarakat kita yang mayoritas Muslim. Tempat yang digunakan untuk memutuskan persengketaan warga sesama Muslim atau tempat untuk merencanakan program kesejahteraan warga, biasanya dilakukan di kantor RT atau RW.
Padahal, dimasa Rasulullah Saw, masjidlah tempat ummat merencanakan hari esok dan menyelesaikan persoalan. Sehingga, disinilah akan tercapai kriteria keempat orang yang memakmurkan masjid yaitu orang yang tidak takut pada apapun kecuali pada Allah SWT.
Mengapa orang yang tidak takut pada apapun kecuali Allah SWT adalah orang yang mampu memakmurkan masjid? Karena ia sudah yakin bahwa sebaik-baik penolong dan pelindung hanya Allah SWT, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman. Orang seperti ini akan mengembalikan semua urusannya pada putusan Allah SWT dan Rasul-Nya, juga pada persaudaraan kaum mukminin. Hal ini hanya akan terwujud bila semua kaum mukminin menyelesaikan masalahnya dan merencanakan hari esoknya di masjid. Dimana semua bernaung pada firman Allah SWT dan teladan sunnah Rasul-Nya. Orang-orang inilah yang berkumpul di masjid, menghidupkan masjid, dan menyerahkan segala prioritas hidupnya pada kepentingan Allah SWT bukan pada selain Allah SWT.
Terakhir, masjid yang indah, bukan harus bersyarat megah dan sarat kemewahan akan tetapi masjid yang tertata efisien sesuai dengan kebutuhan. Masjid yang  indah juga semakin terasa keindahannya manakala ia bersih dan wangi. Salah satu sarat sahnya shalat adalah bersihnya tempat dari najis karena itu kebersihan harus dijaga. Wewangian juga adalah salah satu yang dicintai Rasulullah Saw dari dunia ini. Karena itu, mewangikan aroma masjid juga merupakan daya tarik tersendiri bagi ummat untuk berlama-lama berada di masjid, membicarakan urusan mereka dan memakmurkan masjid. * Ibnu Syafaat
 

Dialog

Tafsir dan Hadist

Dinas Syariat Islam

Seharusnya Produk Dayah Lebih Konfrensif

Gema JUMAT, 6 November 2015 Oleh: Dr. Jabbar Sabil, MA, Dosen Fakultas Syariah dan Hukum UIN Ar-Raniry Banda Aceh Pendidikan dayah mempunyai peran penting dalam

Jauhi Berita Hoax

GEMA JUMAT, 16 NOVEMBER 2018 Oleh H. Basri A. Bakar “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan

Shubuh Berjamaah Gabungan Se Aceh

Sepuluh tahun terakhir komunitas shalat shubuh berjamaah semakin tumbuh di Aceh. Ratusan jamaah berkumpul di masjid-masjid yang telah ditentukan. Biasanya, komunitas itu mencari seorang penceramah,

Menerapkan Ajaran Islam Dalam Masyarakat

Dr. H. IQBAL, S.Ag., M.Ag, Kepala Kantor Wilayah Kementrian Agama Provinsi Aceh Bagi seorang muslim, setiap saat dari hidupnya merupakan kesempatan untuk beribadah dan berbuat

Menuju Islam Khaffah

Tabloid Gema Baiturrahman

Alamat Redaksi:
Jl. Moh. Jam No.1, Kp. Baru,
Kec. Baiturrahman, Kota Banda Aceh,
Provinsi Aceh – Indonesia
Kode Pos: 23241

Tabloid Gema Baiturrahman merupakan media komunitas yang diterbitkan oleh UPTD Mesjid Raya Baiturrahman

copyright @acehmarket.id 

Menuju Islam Kaffah

Selamat Datang di
MRB Baiturrahman