Mewujudkan Masa Depan Islam yang Gemilang

Gema Jumat, 22 Januari 2016 Khutbah Jum’at, Muhammad Yusran Hadi, Lc, MA, Ketua Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) Aceh Umat Islam mencapai kejayaan dan menjadi kuat dan mulia ketika mereka mengamalkan ajaran Al-Quran dan As-Sunnah. Hal ini telah dibuktikan dalam sejarah. Kejayaan umat Islam telah diraih dan dibuktikan oleh generasi para sahabat Nabi … Read more

...

Tanya Ustadz

Agenda MRB

Gema Jumat, 22 Januari 2016
Khutbah Jum’at, Muhammad Yusran Hadi, Lc, MA, Ketua Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) Aceh
Umat Islam mencapai kejayaan dan menjadi kuat dan mulia ketika mereka mengamalkan ajaran Al-Quran dan As-Sunnah. Hal ini telah dibuktikan dalam sejarah. Kejayaan umat Islam telah diraih dan dibuktikan oleh generasi para sahabat Nabi SAW dengan mengamalkan Al-Quran dan As-Sunnah dalam segala aspek kehidupan; aspek ekonomi, politik, negara, agama, budaya dan sebagainya. Para sahabat menerima ajaran Islam langsung dari Rasul SAW dan mengaktualisasikan dalam kehidupan mereka. Maka tidak mengherankan jika generasi para sahabat diberi pujian dan predikat sebagai generasi terbaik umat Nabi Saw.
Pujian ini langsung diberikan oleh Allah SWT dan para Nabi dan Rasul-Nya. Allah SWTberfirman: “Dan orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar.” (At-Taubah: 100).
Allah SWT juga berfirman: “Kalian adalah umat yang terbaik yang dikeluarkan untuk manusia, kalian menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.” (Ali Imran: 110). Rasul SAW bersabda: “Sebaik-baiknya umatku adalah generasiku (sahabat), kemudian generasi yang datang setelah mereka (tabi’in), kemudian generasi yang datang setelah mereka (tabi’ut tabi’in).” (HR. Bukhari dan Muslim)
Para sahabat telah dipuji oleh Allah SWT dan oleh Nabi Saw, karena mereka telah mengamalkan ajaran Islam dalam kehidupan mereka. Oleh karena itu, mencintai para sahabat merupakan bagian dari aqidah Islam. Maka, kita wajib mencintai dan mencontoh para sahabat. Para sahabat wajib dijadikan idola dan teladan dalam kehidupan kita saat ini, agar umat Islam dapat meraih kembali kejayaan Islam seperti yang dialami oleh pada masa para sahabat.
Untuk mewujudkan hari depan umat Islam yang gemilang, maka kita wajib merujuk dan mengamalkan Al-Quran dan As-Sunnah sebagaimana yang diaplikasikan oleh para sahabat. Di antara ajaran AlQuran dan As-Sunnah adalah mewujudkan ukhuwah Islamiah (persaudaraan sesama muslim) dan menjauhi segala perbuatan dan perkataan yang merusak ukhuwah Islamiah.
Ukhuwwah Islamiah merupakan ajaran Islam yang diperintahkan dalam Al-Quran dan As-Sunnah. Dengan Ukhuwwah Islamiah akan terwujud perdamaian dan persatuan umat Islam. Dengan terwujudnya persatuan umat Islam, maka umat Islam akan menjadi umat yang kuat dan mulia seperti pada masa para sahabat. Para sahabat saling mencintai dan mengasihi sesama mereka. Rasa Ukhuwwah Islamiah ini telah dibangun dengan kokoh oleh Rasulullah SAW dan dilanjutkan oleh para sahabat. Inilah rahasia kesuksesan dakwah Rasul SAW sehingga terwujudnya peradaban dan kejayaan Islam pada masa para sahabat dan generasi sesudahnya.
Al-Quran dan as-Sunnah memerintahkan umat Islam untuk bersatu dalam aqidah Islam (aqidah Ahlussunnah wal jama’ah), saling mencintai sesama saudara seagama dan seaqidah, saling membantu dan mengasihi, dan membina ukhuwah islamiah. Sebaliknya, Al-Quran dan As-Sunnah melarang umat Islam berpecah berai, berselisih, membuat konflik, dengki, memaki, menfitnah, membenci, dan menyesatkan sesama muslim (ahlussunnah wal jama’ah). Maka, wajib hukumnya bagi umat Islam untuk membangun dan menjaga ukhuwah islamiah dan haram hukumnya merusak ukhuwah islamiah.
Allah SWT menegaskan bahwa umat Islam bersaudara dengan firman-Nya: “Sesungguhnya Orang-orang yang beriman itu bersaudara.” (Al-Hujurat: 10). Begitu pula Rasul Saw telah menegaskan bahwa umat Islam itu bersaudara dengan sabda beliau: “Seorang muslim itu bersaudara dengan muslim yang lainnya”. (HR. Bukhari dan Muslim).
Umat Islam itu bersaudara karena satu agama (yaitu Islam) dan satu aqidah (yaitu aqidah ahlussunnah wal jama’ah). Ahlussunnah wal Jama’ah adalah orang-orang yang mengikuti sunnah Nabi Saw dan para sahabat dan bersatu dalam satu jama’ah. Secara fitrah, tabiat orang yang bersaudara itu adalah saling mencintai dan mengasihi. Karena orang yang memiliki hubungan persaudaraan itu pasti menyayangi dan mencintai saudaranya.
Umat Islam itu bersaudara, maka sesama muslim wajib saling mencintai dan mengasihi. Bahkan mencintai saudaranya muslim merupakan bukti kesempurnaan iman seseorang. Rasul SAW bersabda: “Salah seorang diantara kalian belum beriman (dengan sempurna) sebelum ia mencintai saudaranya seperti ia mencintai dirinya sendiri.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Umat Islam wajib berlemah lembut dan berkasih sayang terhadap saudaranya muslim. Sebaliknya, umat Islam harus tegas, berani dan kuat terhadap orang-orang kafir. Allah SWT berfirman: “Muhammad Itu utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka.” (Al-Fath: 29). Allah SWTberfirman: “…yang bersikap lemah lembut terhadap orang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir..” (Al-Maidah: 54).
Syaikh Shalih Al‘Utsaimin menjelaskan ayat tersebut (Al-Maidah: 54): “Demikianlah sifat seorang mukmin yang hakiki berkenaan dengan saudara-saudaranya kaum muslimin yaitu rendah diri, tawadhu, lemah lembut, dan toleran. Sedangkan berhadapan dengan orangorang kafir, maka dia lebih tinggi di atas orang-orang kafir. Dengan kata lain, umat Islam merasa kuat dihadapan orang-orang kafir, tidak loyo, tidak menunjukkan kecintaan kepadanya dan tidak cenderung kepadanya”. (Syarah Riyadhush Shalihin: 4/304).
Umat Islam itu bersaudara, maka seorang muslim tidak boleh menyakiti dan menzhalimi saudaranya muslim. Allah SWTberfirman: “Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang yang mukmin dan mukminat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata.” (Al-Ahzab: 58). Rasul SAW bersabda: “Seorang muslim itu bersaudara dengan muslim yang lainnya, maka tidak boleh menzhaliminya, tidak boleh membiarkannya teraniaya dan tidak boleh menghinanya” (HR. Muslim).
Umat Islam itu bersaudara, maka seorang muslim tidak boleh dengki, membenci dan memboikot saudaranya muslim. Rasul SAW bersabda: “Dan janganlah kalian saling dengki, jangan saling membenci dan jangan saling membelakangi. Dan jadilah kalian hamba Allah yang bersaudara” (HR. Muslim). Dalam riwayat yang lain: “Janganlah kalian saling memboikot, jangan saling membelakangi, dan jangan saling dengki. Jadilah kalian hamba Allah yang bersaudara.” (HR. Muslim).
Umat Islam itu bersaudara, maka seorang muslim tidak boleh menyesatkan saudaranya muslim (ahlussunnah wal jama’ah) tanpa ada dalil yang qath’i (kuat) dan sharih (jelas). Rasul SAW bersabda: “Tidaklah seseorang melemparkan tuduhan kepada orang lain dengan tuduhan kefasikan atau kekafiran melainkan tuduhan itu kembali kepadanya apabila yang dituduh ternyata tidak demikian.” (HR. Bukhari).
Umat Islam wajib bersatu dan haram bercerai berai dan berselisih. Allah SWTberfirman: “Dan berpegang teguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai..” (Ali Imran: 103). Allah SWTjuga berfirman: “Dan janganlah kalian menjadi orang-orang yang bercerai berai dan berselisih setelah sampai kepada mereka keterangan yang jelas. Dan mereka itulah orangorang yang mendapat azab yang berat.” (Ali ‘Imran: 105). Rasul SAW bersabda: “Allah akan menolong seorang hamba selama ia menolong saudaranya.” (HR. Bukhari dan Muslim). Rasul SAW juga bersabda: “Seorang mukmin terhadap mukmin lainnya seperti sebuah bangunan, di mana sebahagian bangunannya menguatkan sebahagian yang lain.” (HR. Bukhari dan Muslim). Dengan bersatu umat Islam akan kuat, mulia dan jaya. Sebaliknya dengan bercerai berai dan berselisih umat Islam akan lemah dan hina. Allah SWTberfirman: “Dan janganlah kalian berselisih, yang menyebabkan kalian menjadi gentar dan kekuatan kalian hilang..” (Al-Anfal: 46).
Umat Islam itu bersaudara, maka umat Islam wajib saling membantu dan mengasihi sesama saudaranya. Allah SWT berfirman: “Dan tolong menolonglah kalian dalam (berbuat) kebaikan dan ketakwaan, dan janganlah kalian tolong menolong dalam (berbuat) dosa dan permusuhan.” (Al-Maidah: 2). Rasulullah SAW bersabda: “Allah akan memberikan pertolongan kepada seorang hamba selam ia menolong saudaranya.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Umat wajib bersolidaritas terhadap saudaranya yang lemah dan menderita. Sikap solidaritas itu dilakukan dengan ikut merasakan penderitaannya dan mengasihinya serta menolongnya. Rasul Saw bersabda: “Perumpamaan orang-orang mukmin dalam kecintaan, kasih sayang, kelembutan mereka seperti satu badan. Jika salah satu anggota badan sakit, maka anggota badan lainnya juga ikut merasakan sakit.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Demikianlah ajaran-ajaran Al-Quran dan As-Sunnah yang memerintahkan (mewajibkan) kepada kita untuk mewujudkan ukhuwwah islamiah dengan bersatu, saling mencintai, mengasihi, membantu sesama muslim dan sebagainya. Sebagaimana melarang (mengharamkan) kita merusak ukhuwah islamiah dengan bercerai berai, berselisih, saling dengki, membenci, memprovokasi, menfitnah, menyakiti, menzhalimi, menyesatkan sesama muslim dan sebagainya. Semua perbuatan tersebut adalah perbuatan haram dan dosa besar.
Oleh karena itu, persoalan khilafiah jangan sampai merusak ukhuwah islamiah dan menjadi perpecahan umat serta membuat konflik, karena hal ini dilarang dan diharamkan dalam Islam. Persoalan khilafiah harus disikapi dengan saling menghargai, menghormati, dan toleransi sehingga terwujud ukhuwah islamiah. Semoga kita termasuk orang-orang yang mendapat petunjuk, mengamalkan Al-Quran dan As-Sunnah dan berkomitmen dalam syariat Allah Swt.
 

Dialog

Tafsir dan Hadist

Dinas Syariat Islam

Selamat Jalan 2015

Gema Jumat, 01 Januari 2016 Bagaikan lembaran almanak yang luruh Masapun menelusuri jalurnya Mencatat hari-hari dalam kehidupan manusia Tanpa terasa, tahun 2015 masehi telah pergi

‘Membumikan’ al-Quran di Kota Madani

Gema JUMAT, 11 Desember 2015 Banda aceh- (gema) Pesawat Garuda Indonesia GA146 yang membawa Shamsi Ali, Imam Besar Masjid Al-Hikmah, Islamic Center New York, Amerika

Waqaf Baitul Asyi Bonus Haji Aceh

  GEMA JUMAT, 25 AGUSTUS 2017 Di Tanah Suci Mekkah dan Madinah terdapat harta waqaf berupa pemondokan, rumah, bahkan hotel bertingkat dari orang-orang kaya dan

KAFIR DAN INGKAR

GEMA JUMAT, 29 DESEMBER 2017 Prof. Dr. Tgk. H. Azman Ismail, MA (Imam Besar Masjid Raya Baiturrahman) Dan kalau Kami turunkan kepadamu tulisan di atas

Menuju Islam Khaffah

Tabloid Gema Baiturrahman

Alamat Redaksi:
Jl. Moh. Jam No.1, Kp. Baru,
Kec. Baiturrahman, Kota Banda Aceh,
Provinsi Aceh – Indonesia
Kode Pos: 23241

Tabloid Gema Baiturrahman merupakan media komunitas yang diterbitkan oleh UPTD Mesjid Raya Baiturrahman

copyright @acehmarket.id 

Menuju Islam Kaffah

Selamat Datang di
MRB Baiturrahman