Muatan Dayah

Gema JUMAT, 6 November 2015 Oleh: Murizal Hamzah Akhirnya kolonial Belanda mengetahui rahasia rakyat Aceh bersemangat dalam berperang. Trik ini terungkap setelah peneliti Prof Snouck Hungronje mengadakan riset mendalam di Aceh. Salah satu kunci otak heroiknya pejuang yakni hasil didikan dari teungku-teungku di dayah. Semangat jihad fi sabilillah yang terus dipompa ke dada bangsa Aceh … Read more

...

Tanya Ustadz

Agenda MRB

Gema JUMAT, 6 November 2015
Oleh: Murizal Hamzah
Akhirnya kolonial Belanda mengetahui rahasia rakyat Aceh bersemangat dalam berperang. Trik ini terungkap setelah peneliti Prof Snouck Hungronje mengadakan riset mendalam di Aceh. Salah satu kunci otak heroiknya pejuang yakni hasil didikan dari teungku-teungku di dayah. Semangat jihad fi sabilillah yang terus dipompa ke dada bangsa Aceh itulah yang menyakini mereka berperang di medan perjuangan.
Tidak diragukan, produk dayah yakni menghasilkan lulusan yang istiqamah dalam menegakkan dakwah Islam serta kader ulama, Di sisi lain, kepatuhan atau takzim kepada teungku-teungku di dayah tidak pernah putus walaupun sudah tamat dari dayah. Bagi mereka, tidak ada sebutan mantan teungku atau bekas guru. Sepanjang hidup, teungku adalah orang tua kedua yang mendidik mereka di luar rumahh setelah orang tua pertama di rumah tangga.
Dayah di Tanoh Endatu pertama dibangun pada era Sultan Alaidin Sayyid Maulana (864-888 M) di Peureulak. Pada suatu masa, dayah mengalami perkembangan yang luar biasa. Kalangan teungku menulis berbagai kitab atau buku dengan menggunakan nama penulis atau anonim. Pada era tertentu, perkembangan dayah tidak maksimal bergrak karena situasi perang atau konfl ik internal.
Dalam salah satu wasiatnya, Ali Bin Abi Thalib menegaskan; “Didiklah anakmu, sebab ia akan hidup di zaman yang tidak serupa dengan zamanmu .” Sesuai dengan roda perputaran zaman, dayah telah menghasilkan santri yang bermutu karena memiliki kurikulum yang tepat untuk masa tersebut. Kini zaman sudah berbeda dan kurikulum dayah layak diakutualisasi tanpa menghilangkan identitas dayah.
Modal untuk membangun daerah yakni ditopang pendidikan yang berkarakter. Perlu membabat pemikiranpemikiran yang menghambat kemajuan. Salah satu pemikiran warisan kolonial yang sering kita lontarkan yakni jika ingin belajar ilmu dunia ke sekolah umum dan belajar ilmu akhirat (agama) ke dayah. Seolah-olah Islam membedakan ilmu untuk bekal hidup di dunia dan akhirat. Dalam Islam, tidak ada pemisahkan antara dunia dan akhirat.
Semua kebaikan yang kita diamalkan selama ini adalah modal untuk hidup di akhirat, apakah ditempatkan di surga atau neraka? Semua sepakat, mutu lulusan dayah salah satu faktor ditentukan oleh silabus. Materi yang diberikan ikut menentukan k emampuan santri dalam menjabarkan ilmu yang telah dicurahkan oleh teungku-teungku. Untuk itu, kita butuh silabus yang mampu menjawab tantangan zaman. Kurikulum yang mampu melambungkan lulusan dayah berkiprah di masyarakat lokal atau internasional.
Dalam hal ini, Badan Pembinaan Pendidikan Dayah Aceh telah menelorkan kurikulum berbasis dayah yang disusun oleh ulama Aceh, standarnisasi kurikulum agar lulusan dayah memiliki kemampuan yang sama antar berbagai dayah.
Karena ilmu terus berkembang seiring perkembangan dan persoalan zaman, Demikian juga dengan keberadaan sebuah kurikulum. Dalam bahasa sederhana, kita butuh kurikulum yang dapat memenuhi kebutuhan masyarakat. Dulu ada perdebatan perihal membawa Quran ke kamar mandi/toilet, nah bagaimana sekarang dengan isi Quran yang tersimpan di telepon seluler dan terbawa ke toilet, bagaimana alumni dayah menjelaskan perkara ini?
Demikian juga, metedologi belajar bahasa Arab yang tepat agar santri cepat fasih bahasa Arab. Bukan sekedar menghapal atau menadengar tata bahasa Arab. Bahasa itu berbicara dan menulis bukan hanya dihapal.

Dialog

Tafsir dan Hadist

Dinas Syariat Islam

Dakwah di Lapangan Hijau

Dakwah secara konvensional yakni penceramah berdiri di mimbar atau panggung dan jamaah menyimaknya. Model satu arah. Kadangkala pendengar tertidur atau asyik dengan HP. Hal ini

Bank Syariah

Gema, edisi Jumat, 30 Januari 2015 Hingga era tahun 1980-an, kita masih sering mendengar  kata riba yang berkaitan dengan perbankan. Ada yang memahami, riba bank

SAPI QURBAN PRESIDEN

gema /hilmi hasballah Bupati Aceh Besar Ir H Mawardi Ali menerima bantuan hewan qurban dari Presiden Indonesia Ir H Joko Widodo yang diserahkan Gubernur Aceh

Iman Bangkitkan Persatuan

GEMA JUMAT, 07 APRIL 2017 Khatib: Tgk. Umar Ismail, S.Ag, Ketua Umum PW ISKADA Aceh 2001-2003 dan Penyuluh Kemenag Banda Aceh Sesungguhnya orang orang mukmin

Menuju Islam Khaffah

Tabloid Gema Baiturrahman

Alamat Redaksi:
Jl. Moh. Jam No.1, Kp. Baru,
Kec. Baiturrahman, Kota Banda Aceh,
Provinsi Aceh – Indonesia
Kode Pos: 23241

Tabloid Gema Baiturrahman merupakan media komunitas yang diterbitkan oleh UPTD Mesjid Raya Baiturrahman

copyright @acehmarket.id 

Menuju Islam Kaffah

Selamat Datang di
MRB Baiturrahman