Muhasabah, Renungan Akhir Tahun

Gema JUMAT, 25 Desember 2015 Khutbah Jum’at, Tgk. H. Abdul Gani Isa, Dosen Fak.Syari’ah dan Hukum dan Ketua Prodi Ilmu Agama Islam Pasca Sarjana UIN Ar-Raniry Allah SWT berfi rman : “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, … Read more

...

Tanya Ustadz

Agenda MRB

Gema JUMAT, 25 Desember 2015
Khutbah Jum’at, Tgk. H. Abdul Gani Isa, Dosen Fak.Syari’ah dan Hukum dan Ketua Prodi Ilmu Agama Islam Pasca Sarjana UIN Ar-Raniry
Allah SWT berfi rman : “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.(Qs, al-Hasyr:18).
Alhamdulillah, mari senantiasa bersyukur kepada Allah, yang denganrahmat, hidayah serta maunah-Nya kita sudah berada di penghujung tahun 2015 Miladiyah. Setidaknya ada empat hal/peristiwa untuk mengingatkan kita kembali, yaitu (a) 24 Desember 2015, bertepatan dengan 12 Rabi’ulawwal hari lahirnya Nabi Besar Muhammad Saw, sosok uswatun hasanah bagi umatnya, potret akhlaknya seperti akhlak Alqur’an, kehadirannya menjadi rahmatanlilalamin, sekaligus memperbaiki kebobrokan akhlak umatnya (b) Natal yang bertepatan hari ini, 25 desember, ini bukan budaya dan tradisi kita, tapi sebuah keyakinan Nasraniyah, untuk itu mari kita abaikan saja(c) 26 Desember 2015 mengingatkan kita kembali dan tidak pernah terlupakan, betapa dahsyatnya Gempa bumi yang diikuti dengan Tsunami 11 tahun silam, tepatnya 26 Desember 2004, yang telah memporak-porandakan sebagian besar pesisir Utara dan bagian Barat Aceh, diperkirakan menelan korban jiwa lebih dua ratus ribu orang, di samping hilangnya harta benda yang tak terkira nilainya, dan (d) adalah pergantian tahun baru 2016 beberapa hari lagi.
Pergantian tahun janganlah diartikan dengan tanpa makna, penuh eforia, larut dengan hiburan siang malam, dengan beragam kenikmatan duniawi semata, tapi perlu kita ambil hikmah, muhasabah dan introspeksi terhadap perjalanan kita selama dua belas lalu yang tersimpan banyak kekurangan, kekhilafan bahkan setiap diri merasa banyak berdosa dengan Allah SWT.
Berangkat dari beberpa hal yang telah khatib utarakan, tentu perlu dan sangat perlu kita memotivasi diri, dengan menata kembali ingatan dan semangat untuk memperbaiki diri, antara lain: Pertama, Ingat kembali “kontrakTauhid”, yaitu sebuah perjanjian (MoU) dengan Allah saat masih di alam dzurriyat (alam rahim). Dimana Allah SWT mempertanyakan Alastubirabbikum, qalubalasyahidna (Bukankah Aku ini Tuhan-Mu, lalu menjawab benar ya Allah, EngkauTuhan kami).
Ini MoU, kontrak tauhid dengan Allah SWT, Untuk apa kontrak tauhid ini, selanjutnya dijelaskan kembali oleh Allah: anta qullu yaumal kiamati innakunna‘an hadzaghafi lin, (agar nanti tidak mengatakan dihari kiamat, ketika ditanyakan Allah SWT kenapa kamu tidak shalat, tidak puasa, tidak membayar zakat, tidak haji dan perintahlainnya, lalu mereka menjawab, kami lalai Ya Allah. Alasan lalai tidak diterima lagi. Allah di akhirat.
Kedua, Ingat ketika lahir dalam keadaan miskin, Wallahu akhrajakum min butuni ummahatikum lata’lamusyai-a (Qs, AlNahl:78), dan Allah sudah mengeluakan kamu dari Rahim ibumu (disaat itu) kamu belum tahu apa-apa. Pertanyaan yang muncul adalah, kenapa hari ini jadi kaya, berilmu dan seterusnya, jawabannya adalah semua itu anugerah Allah SWT. Untuk itu, janganlah manusia jadi sombong seperti halnya Qarun, dimana ketika Qarun diminta zakatnya atas suruhan Musa As, ia menjawab, katakana pada Musa, semua ini hasil keahlian dan keringat saya, tak ada hubungannya dengan Musa, pulang dan tolong sampaikan pada Musa, Namun yang terjadi setelah itu adalah Qarun dan hartanya ditenggelamkan Allah SWT ke dalam perut bumi.
Contoh ini menjadi i’tibar kepada kita. Kalau ada di antara kita sudah terlanjur sombong selama ini mari bermuhasabah, dan memperbaiki diri agar selamat di dunia dan di akhirat. Ketiga, ingat ketika minta kembali ke dunia, yaitu sebagaimana fi rman Allah, Qala Rabbi laula akhkhartanii laajalinqarib fa ashaddaqawaakun minas shalihin (Qs, alMunafi qun: 10), Ingatlah ketika mereka mengadu kepada Allah SWT dengan mengatakan, sekiranya Engkau memperlambat ajal kami (Ya Allah) beberapa saat lagi, tentu kami punya waktu untuk menyedekahkan harta kekayaan kami semua agar kami termasuk orangorang shalih. Kenapa di akhirat mengadu dan menangisi nasib sendiri, tidak ada gunanya lagi sekaranglah kita menangisi diri kita sendiri dengan berjuang memperbanyak amal, agar tidak menyesal di hari akhirat nanti.
Rasulullah Saw mengingatkan: Inna lakum ma’alim fantahuilama’alimikum (sesungguhnya bagi kamu ada maklumat/tanda-tanda, untuk itu berhentilah sejenak untuk mengenal dan memperhatikan tanda-tanda/sinyal yang diberikan Allah kepada kita. Wa inna lakum nihayah, fantahuilanihayatikum, bagi setiap kamu juga ada masa akhir, karena itu berhentilah sejenak untuk memperhatikan tanda-tanda akhir itu, itulah masa tua dan akhirnya“kematian”.
‘Ibadallah!, Untuk itu marilah semua kita memperbaiki diri, muhasabah dan introspeksi dengan mengikuti beberapa langkah: (1) Taubat, arrujuk ilallah, yaitu kembali kejalan Allah, memohon ampun/istighfar dari setiap dosa dan kesalahan, Allah menjelaskan dalam Al-Qur’an :“Maka masing-masing (mereka itu) Kami siksa disebabkan dosanya, maka di antara mereka ada yang Kami timpakan kepadanya hujan batu kerikil dan di antara mereka ada yang ditimpa suara keras yang mengguntur, dan di antara mereka ada yang Kami benamkan ke dalam bumi, dan di antara mereka ada yang Kami tenggelamkan, dan Allah sekali-kali tidak hendak menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri.(Q.S. Al-Ankabut : 40). Selanjutnya dalam surat al-Nisakayat 78:
Allah SWT jugamengingatkan: Ma ashabaka min hasanatin fa minallah, wa ma ashabaka min sayyiatin famin nafsik (Apa saja yang menimpamu dari kebaikan itu datangnya dari Allah, dan apa saja yang menimpamu dari keburukan itu dari dirimu sendiri, (2) Sabar dan bersyukur, sabar ketika kita diuji oleh Allah dengan beragam bencana, gempa bumi, tsunami, banjir, wabah, penyakit, darurat aqidah, darurat narkoba, dan lainnya yang terus mendera negeri bersyari’at ini, dan dengan tetap bersyukur atas segala nikmat-Nya, Likailata’suala ma fatakum wa latafrahubimaatakum (Qs, al-Hadid: 41), ( agar kamu tidak berputus asa ketika Allah SWT mengambil kembali nikmat yang pernah diberikan, dan juga tidak lupa dengan membanggakan diri ketika Allah menganugerahkan rahmat dan nikmat-Nya kepada kamu).
(3)Kualitas diri, man kana yaumuhu khairan min amsihi fahuwa rabihun, wa mankana yaumuhu mitsla amsihi fahuwa khasir, waman kana yaumuhu syarran min amsihi fahuwa mal’un. (Barang siapa hari ini lebih baik dari kemarin termasuk orang-orang yang beruntung, barang siapa hari ini sama dengan kemarin termasuk orang merugi dan barang siapa hari ini lebih jelek dari kemarin termasuk orang yang dilaknat), (4) Memakmurkan tempat Ibadah dan Menghidupkan Majlis Taklim, Iman dan takwa adalah dua hal menjadikan hidup ini selalu dalam keberkahan dan ridha Allah SWT: “ Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka menolak (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. Maka apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di malam hari di waktu mereka sedang tidur? Atau apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di waktu matahari sepenggalahan naik ketika mereka sedang bermain? Maka apakah mereka merasa aman dari azab Allah (yang tidak terduga-duga)? Tiada yang merasa aman dari azab Allah kecuali orang-orang yang merugi. (Q.S. AlA’raf : 96 – 99).
Al-Alusi dalam kitabnya Ruhul Ma’ani menegaskan bahwa “bila suatu negeri (di manapun) negeri itu, tidak mau dan tidak akan mau menjalankan syari’at Islam kaffah, maka negeri itu selalu dalam keadaan huru-hara.
Karena itu , mari kita bermuhasabah, introspeksi diri dan bertaubat kepada Allah SWT. Mari melalui hikmah bencana tsunami di Aceh semakin mempererat silaturrrahim dan terjalin kuat persaudaraan sesama Muslim. Mari kita jauhkan sekat-sekat di antara kita karena perbedaan pandangan, golongan, madzhab, aliran, dan sebagainya. Lebur semuan yaitu dalam satu ikatan yang sama, yaitu Islam. Dengan menjalankan seluruh syari’at Allah secara kaffah, Insya Allah akan terhindar dari kita semua bencana dan musibah. Amin Ya Rabbal Alamin.
 
 

Dialog

Tafsir dan Hadist

Dinas Syariat Islam

Gubernur Larang Kepala SKPA ke Luar Aceh

Gema JUMAT, 8 Januari 2016 Banda Aceh (Gema)-Gubernur Aceh, dr. Zaini Abdullah mengingatkan Kepala Satuan Kerja Perangkat Aceh (SKPA) untuk tidak berpergian ke luar Aceh

Baitul Arqam Wisuda 26 Santri

Aceh Besar (Gema) – Dayah Pesantren Baitul Arqam mengadakan Haflah Santriwan dan Santriwati Kelas Akhir di Pesantren Baitul Arqam, 21 Mei 2022, pukul 9.30-12.00 WIB.

NEGARA ISLAM ATAU NEGARA BANGSA

GEMA EDISI JUM’AT 18 OKTOBER 2019 M. Hasbi Amiruddin Para pakar sejarah dan pakar politik sepakat bahwa ketika Nabi Muhammad telah dipercayakan sebagai pemimpin di

Menuju Islam Khaffah

Tabloid Gema Baiturrahman

Alamat Redaksi:
Jl. Moh. Jam No.1, Kp. Baru,
Kec. Baiturrahman, Kota Banda Aceh,
Provinsi Aceh – Indonesia
Kode Pos: 23241

Tabloid Gema Baiturrahman merupakan media komunitas yang diterbitkan oleh UPTD Mesjid Raya Baiturrahman

copyright @acehmarket.id 

Menuju Islam Kaffah

Selamat Datang di
MRB Baiturrahman