Pedoman Islam Dalam Menghadapi Perbedaan Pendapat

Gema JUMAT, 20 Mei 2016 Oleh : Tgk. H. Muhammad Hatta, Lc, M.Ed, Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Syariah Nahdhatul Ulama (STIS NU) Aceh Islam sebagai agama rahmatan lill`alamiiin, tentunya sangat menjaga toleransi didalam menyikapi keberagaman, termasuk keberagaman didalam beragama, sejauh hal ini tidak masuk kedalam ranah Aqidah sehingga menimbulkan kecacatan serius dalam bertauhid kepada Alah … Read more

...

Tanya Ustadz

Agenda MRB

Gema JUMAT, 20 Mei 2016
Oleh : Tgk. H. Muhammad Hatta, Lc, M.Ed, Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Syariah Nahdhatul Ulama (STIS NU) Aceh
Islam sebagai agama rahmatan lill`alamiiin, tentunya sangat menjaga toleransi didalam menyikapi keberagaman, termasuk keberagaman didalam beragama, sejauh hal ini tidak masuk kedalam ranah Aqidah sehingga menimbulkan kecacatan serius dalam bertauhid kepada Alah swt.
Hal ini sesuai dengan Sabda Nabi SAW, antara lain:
Artinya: Sesungguhnya Bani Israil telah terpecah menjadi 72 golongan, dan akan terpecah umatku menjadi 73 golongan, semuanya dalam neraka kecuali satu golongan. Para sahabat berkata: “Siapakah mereka yang dikecualikan wahai Rasulullah?’’ Rasulullah menjawab : “Mereka adalah golongan yang mengikuti ajaranku dan ajaran para sahabatku.”. (H.R. al-
Dalam riwayat al-Thabrani, Rasulullah SAW bersabda:
Artinya:  Dan demi Allah yang berada nyawa Muhammad dalam kekuasaanya, sungguh akan terpecah umatku atas 73 golongan, satu golongan akan masuk surga, sementara 72 lainnya akan masuk neraka. Sahabat menanyakan, “siapa mereka yang akan masuk surga wahai Rasulullah”. Rasulullah SAW menjawab, “mereka adalah Ahlussunnah Wal-Jama’ah”. (H.R. al-Thabrani)
Berdasarkan kedua hadits ini, khilafiyah didalam persoalan akidah atau ketauhidan menjadi suatu perkara serius, yang mesti dipelihara oleh setiap ummat Islam, namun disisi yang lain, Rasulullah saw
Perbedaan ummatku (para ulama daripada ummatku) adalah merupakan rahmat.
Para ulama menafsirkan hadits ini kepada khilafiyah furu`iyyah, atau perbedaan yang menyangkut kepada persoalan fiqhiyyah bukan aqidah atau ushuliyyah.
Sebagaimana telah kita maklumi, mengacu kepada para Imam mazhab adalah merupakan suatu hal yang sudah disepakati oleh ulama diseluruh dunia, semua Imam Mazhab yang empat adalah jelas secara bukti otentik keabsahan pendapat mereka, sehingga kita sebagai para Muqallid bagi pendapat mereka dapat mengikuti salah satu dari mereka.
Artinya: Maka bertanyalah kalian kepada orang yang berilmu jika kalian tidak mengetahui (Q.S. Al-Anbiya`:7).
Para ulama sepakat bahwa ayat tersebut merupakan perintah terhadap orang yang tidak mengetahui hukum dan dalil suatu persoalan untuk mengikuti orang yang tahu akan hukum persoalan tersebut. Mayoritas ulama ushul fikih menjadikan ayat ini sebagai sandaran pertama mengenai kewajiban orang awam bertaklid kepada ulama-mujtahid.
Dalam ayat lain, Allah berfirman,
Artinya: Tidak sepatutnya bagi mukmin itu pergi semuanya (ke medan perang), mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka satu kelompok, sementara yang lainnya tinggal untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama agar memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka dapat menjaga dirinya (Al-Taubah: 122)
Bahkan para Nabi pun seperti Nabi Daud dan Nabi Sulaiman dijelaskan Allah dalam Surat Al Anbiyaa’ ayat 78 dan 79 berbeda pendapat.
Artinya:  dan (ingatlah kisah) Daud dan Sulaiman, di waktu keduanya memberikan keputusan mengenai tanaman, karena tanaman itu dirusak oleh kambing-kambing kepunyaan kaumnya. dan adalah Kami menyaksikan keputusan yang diberikan oleh mereka itu, Maka Kami telah memberikan pengertian kepada Sulaiman tentang hukum (yang lebih tepat); dan kepada masing-masing mereka telah Kami berikan Hikmah dan ilmu dan telah Kami tundukkan gunung-gunung dan burung-burung, semua bertasbih bersama Daud. dan kamilah yang melakukannya.
Menurut riwayat Ibnu Abbas bahwa sekelompok kambing telah merusak tanaman di waktu malam. Maka yang Empunya tanaman mengadukan hal ini kepada Nabi Daud a.s. Nabi Daud memutuskan bahwa kambing-kambing itu harus diserahkan kepada yang Empunya tanaman sebagai ganti tanam-tanaman yang rusak. tetapi Nabi Sulaiman a.s. memutuskan supaya kambing-kambing itu diserahkan Sementara kepada yang Empunya tanaman untuk diambil manfaatnya. dan orang yang Empunya kambing diharuskan mengganti tanaman itu dengan tanam-tanaman yang baru. apabila tanaman yang baru telah dapat diambil hasilnya, mereka yang mepunyai kambing itu boleh mengambil kambingnya kembali. putusan Nabi Sulaiman a.s. ini adalah keputusan yang tepat.
Lalu Bagaimana Cara Nabi menghadapi perbedaan?
Kecuali menyangkut masalah prinsip akidah dan hal-hal yang sudah qath’i, Islam dikenal sangat menghargai perbedaan. Nabi Muhammad mencontohkan dengan dengan sangat indah kepada kita semua.
Dalam Shahih al-Bukhari, Volume 6, hadits no.514, diceritakan bahwa Umar ibn Khattab pernah memarahi Hisyam ibn Hakim yang membaca Surat Al-Furqan dengan bacaan berbeda dari yang diajarkan Rasulullah s.a.w. kepada Umar. Setelah Hisyam menerangkan bahwa Rasulullah sendiri yang mengajarkan bacaan itu, mereka berdua menghadap Rasulullah untuk meminta konfirmasi. Rasulullah membenarkan kedua sahabat beliau itu dan menjelaskan bahwa Al-Qur’an memang diturunkan Allah SWT dengan beberapa variasi bacaan (7 bacaan). “Faqra’uu maa tayassara minhu,” sabda Rasulullah s.a.w, “maka bacalah mana yang engkau anggap mudah daripadanya.”
Lihat bagaimana Nabi tidak menyalahkan 2 pihak yang berbeda.
Al-Imam Al-Bukhari dan Al-Imam Muslim meriwayatkan dari Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda pada peristiwa Ahzab:
Janganlah ada satupun yang shalat ‘Ashar kecuali di perkampungan Bani Quraizhah.” Lalu ada di antara mereka mendapati waktu ‘Ashar di tengah jalan, maka berkatalah sebagian mereka: “Kita tidak shalat sampai tiba di sana.” Yang lain mengatakan: “Bahkan kita shalat saat ini juga. Bukan itu yang beliau inginkan dari kita.” Kemudian hal itu disampaikan kepada Rasulullah SAW namun beliau tidak mencela salah satunya.”
Sekali lagi Nabi tidak mencela salah satu pihak yang berlawanan pendapat itu dengan kata-kata bid’ah, sesat, kafir, dan sebagainya. Beliau bahkan tidak mencela salah satunya. Masing-masing pihak punya argumen. Yang shalat Ashar di tengah jalan bukan ingkar kepada Nabi. Namun mereka mencoba shalat di awal waktu sebagaimana diperintahkan Allah dan RasulNya. Yang shalat belakangan di perkampungan Bani Quraizah juga bukan melanggar perintah shalat di awal waktu. Namun mereka mengikuti perintah Nabi di atas.
Dari Sa’id bin Musayyab, ia berkata, “Suatu ketika Umar berjalan kemudian bertemu dengan Hassan bin Tsabit yang sedang melantunkan syair di masjid. Umar menegur Hassan, namun Hassan menjawab, ‘aku telah melantunkan syair di masjid yang di dalamnya ada seorang yang lebih mulia darimu (Nabi Muhammad).’ Kemudian ia menoleh kepada Abu Hurairah. Hassan melanjutkan perkataannya. ‘Bukankah engkau telah mendengarkan sabda Rasulullah SAW, jawablah pertanyaanku, ya Allah mudah-mudahan Engkau menguatkannya dengan Ruh al-Qudus.’ Abu Hurairah lalu menjawab, ‘Ya Allah, benar (aku telah medengarnya).’ ” (HR. Abu Dawud [4360] an-Nasa’i [709] dan Ahmad [20928]).
Lihat saat Hassan Bin Tsabit sang penyair tengah melantunkan syair yang memuji-muji Allah dan RasulNya di Masjid sebelum waktu shalat, Nabi Muhammad tidak melarang atau mencelanya. Beliau bahkan diam mendengarkannya.
Rasulullah SAW bersabda: “Inilah jalan Allah yang lurus” Lalu beliau membuat beberapa garis kesebelah kanan dan kiri, kemudian beliau bersabda: “Inilah jalan-jalan (yang begitu banyak) yang bercerai-berai, atas setiap jalan itu terdapat syaithan yang mengajak kearahnya” Kemudian beliau membaca ayat :
Dan (katakanlah): ‘Sesungguhnya inilah jalanku yang lurus maka ikutilah dia. Dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu akan mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertaqwa.” (QS Al-An’am 153).
(HR Ahmad, Ibnu Hibban dan Hakim) (Lihat Abdul Hakim bin Amir Abdat, Risalah Bid’ah, hal. 47-48).
Dalam tradisi ulama Islam, perbedaan pendapat bukanlah hal yang baru. Tidak terhitung jumlahnya kitab-kitab yang ditulis ulama Islam yang disusun khusus untuk merangkum masalah perbedaan pandangan. Kitab Al Mughni karya Imam Ibnu Qudamah, adalah sebuah kitab yang menyangkut berbagai pandangan dan mazhab dalam bidang hukum Islam. Bahkan tak hanya berlaku masalah hukum saja. Juga menyangkut tafsir, ulumul qur’an, syarh hadits, ulumul hadits, tauhid, usul fiqh, qawa’id fiqhiyah, maqashidus syariah, dan lain-lain.
Para Imam Madzhab seperti Imam Malik, Imam Syafi’ie, Imam Hanafie, dan Imam Hambali berbeda pendapat. Namun mereka tidak saling membid’ah atau menganggap sesat yang lain. Begitu pula para pengikutnya.
Dalam khasanah Islam, para ulama salaf dikenal dengan sikap kedewasaan, toleransi, dan objektivitasnya yang tinggi dalam menyikapi perbedaan. Ucapan Imam Syafi’i yang sangat masyhur sebagi bentuk penghormatan perbedaan pada pihak lain adalah
 “Pendapatku benar, tapi memiliki kemungkinan untuk salah. Sedangkan pendapat orang lain salah, tapi memiliki kemungkinan untuk benar.”
 
 

Dialog

Tafsir dan Hadist

Dinas Syariat Islam

Fungsi Kejujuran dalam Membina Ummat

Berbicara soal kejujuran, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kejujuran diterjemahkan sebagai suatu sifat atau keadaan jujur, ketulusan hati, atau kelurusan hati, yang secara konkret bisa berbentuk tidak berbohong, atau berkata apa adanya, tidak curang dalam suatu permainan atau ujian, mengikuti.

Pendongkrak Ekonomi

Gubernur Aceh Nova Iriansyah, memberikan rekomendasi terkait kebijakan ekonomi di tiga sektor. Rekomendasi tersebut disampaikan sesuai dengan analisis Bank Indonesia Perwakilan Aceh, di mana ketiganya menjadi

Pakar Ilmu Ushul Fiqh Alumni Sudan

GEMA JUMAT, 09 FEBRUARI 2018 Dr. H. Syukri Muhammad Yusuf, MA Sehari-hari  Dr. H. Syukri Muhammad Yusuf, Lc, MA berpenampilan cukup sederhana, murah senyum dan

Menuju Islam Khaffah

Tabloid Gema Baiturrahman

Alamat Redaksi:
Jl. Moh. Jam No.1, Kp. Baru,
Kec. Baiturrahman, Kota Banda Aceh,
Provinsi Aceh – Indonesia
Kode Pos: 23241

Tabloid Gema Baiturrahman merupakan media komunitas yang diterbitkan oleh UPTD Mesjid Raya Baiturrahman

copyright @acehmarket.id 

Menuju Islam Kaffah

Selamat Datang di
MRB Baiturrahman