Pengelola Wakaf Harus Transparan

Gema JUMAT, 29 Januari 2016 Tgk. H. Faisal Ali, Ketua Badan Wakaf Indonesia Aceh   DANA wakaf sifatnya rutin atau berkesinambungan. Di sisi lain sumber dana rutin masjid, surau dan madrasah tidak ada yang rutin. Akhirnya banyak masjid, surau dan madrasah yang tidak terkelola dengan baik, hanya dapat melaksanakan aktivitas terbatas saja. Simak wawancara wartawan … Read more

...

Tanya Ustadz

Agenda MRB

Gema JUMAT, 29 Januari 2016
Tgk. H. Faisal Ali, Ketua Badan Wakaf Indonesia Aceh
 
DANA wakaf sifatnya rutin atau berkesinambungan. Di sisi lain sumber dana rutin masjid, surau dan madrasah tidak ada yang rutin. Akhirnya banyak masjid, surau dan madrasah yang tidak terkelola dengan baik, hanya dapat melaksanakan aktivitas terbatas saja. Simak wawancara wartawan Gema Baiturrahman Indra Kariadi dengan Ketua Badan Wakaf Indonesia Perwakilan Aceh, Tgk. H. Faisal Ali.
Bagaimana peran mesjid dalam mengelola wakaf?
Berkaitan dengan masalah wakaf, tentunya tidak mesti ada kaitannya dengan mesjid, tetapi ada wakaf yang memang di peruntukkan untuk kemaslahatan mesjid. Maka ini menjadi tanggung jawab mesjid, dengan melakukan musyawarah untuk menentukan nadzir sebagai pengelola daripada tanah wakaf itu, baik tanah tempat wakaf pendirian mesjid maupun tanah wakaf untuk kemaslahatan mesjid.
Apa peran mesjid dalam menjaga harta wakaf?
Peran mesjid dalam konteks menjaga harta wakaf adalah memberikan pencerahan dan pembekalan kepada masyarakat, agar tanah yang di wakafkan mempunyai legalitas hukum, seperti surat ikrar wakaf dan mendapaan se as a na aa. Nadzir tersebut harus mendapatkan sk dari badan wakaf indonesia, karena ini sangat perlu. Sekarang ini banyak sekali masyarakat-masyarakat yang menguasai tanah wakaf dengan secara tidak sah. Ada juga terjadi gugatangugatan terhadap tanah wakaf yang telah di wakafkan oleh orang tuanya. Ini akibat dari pihak nadzir tidak mengurus legalitas tanah wakaf tersebut, makanya sekarang ini tanah wakaf itu harus ada legalitasnya. Seperti akta wakaf dan juga nazir yang mengelola tanah wakaf itu harus memiliki sk dari badan wakaf indonesia agar mereka betul-betul mempedomi undangundang wakaf, mempedomi tata cara tentang pengelolaan wakaf. Jika tidak ada legalitas, maka mereka akan mengelola dengan sewenang-wenang. Tidak mengindahkan kaidah-kaidah dan tidak memperhatikan keperluan dari wakaf tersebut.
Apa permasalahan yang terjadi dalam mengelola wakaf?
Permasalahan yang banyak terjadi itu masalah gugatan, penyelewengan penggunaan harta wakaf itu senduiri. Maka peran dari Badan Wakaf Indonesia perwakilan Aceh ini, periode pertama kita mendorong semua pihakpihak agar mendata harta-harta wakaf itu dan membuat legalitas untuk tanah wakaf tersebuit, agar bisa menghindari gugatan-gugatan dan penggunaan tentang harta wakaf yang sesuai dengan maksud Badan Wakaf Indonesia. Ini menjadi pekerjaan rumah dari BWI Perwakilan Aceh tersendiri, karena banyak sekali masalah, tapi kita tidak mungkin menjangkau semuanya bahagian yang bisa kita jangkau memberikan legalitas kepada nadzir wakaf serta memberi pencerahan terhadap nadzir dan fungsi apa terhadap bagi pengelola harta wakaf tersebut.
Peran mesjid dalam memenajemen wakaf itu sendiri?
Mesjid itu cuma bahagian dari struktur wakaf, karena disitu adanya nadzir. Nadzir inilah memberikan penjelasan kepada masyarakat, maka peran dalam hal seperti memberi pencerahan. Agar setiap mesjid itu menjadi contoh, dimana pengelola wakaf tersebut harus baik, agar bisa dikuti oleh lembaga lain. Seprti tentang transparansi datanya, dan keterbukaan, dimana lokasinya serta berapa luasnya, berapa hasil dari wakfa itu pertahun, kemana digunakan. Ini menjadi nilai mutklak dalam mengelola wakaf tersebut, supaya transparansi dan terbuka kepada masyarakat, agar masyarakat itu bisa menjadi saksi dan menjadi pengwas dalam harta wakaf. Kemana digunakan dan siapa yang memberi wakaf tersebut, ini harus diketahui oleh semua masyarakat, itu yang perlu dilakukan oleh mesjidmesjid di Aceh.
Mesjid itu paling banyak menerima wakaf, bagaimana seharusnya dalam memenej wakaf itu sendiri?
Semua mesjid bertanggung jawab untuk menyelematkan dan memberdayaankan harta wakaf yang berkaitann dengan mesjid tersebut. Maka inilah pungsi daripada imam besar, imam syik disebuah mesjid itu, untuk membentuk nadzir yang ligitimasi yang didaftakan kepada BWI, agar mereka tidak sewenag-wenang mengelola harta wakaf. Dan selain legitimasi secara hukum negara, juga perlu di publikasi dan disampaikan kepada masyarakat ramai. Seperti contonya mengumumkan dan mempublikasikan, ini adalah harta wakaf untuk mesjid kita, tempatnya disini dan pengelolaan dan hasilnya, supaya masyarakat semuanya tahu. Jika ada pihak-pihak nanti yang akan ingin menguasai harta wakaf, maka masyarakatlah yang menjadi saksi, bahwa harta ini adalaha harta wakaf. Dan tidak hanya di ketahui oleh para nadzir dan juga pengelola mesjid, tapi masyarakat juga berhak tahu harta wakaf dimana daerah tempatnya dan bagaimana cara mengolahnya.

Dialog

Tafsir dan Hadist

Dinas Syariat Islam

Wagub Orasi Ilmiah di UTU

Banda Aceh (Gema) Wakil Gubernur Aceh, H Muzakir Manaf membuka seminar Nasional dan Kongreske III Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) se- Aceh di Universitas Teuku Umar

Menjaga Hati

GEMA JUMAT, 16 MARET 2018 Oleh H. Basri A. Bakar “Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada jasadmu, dan tidak pula kepada bentukmu, akan tetapi Dia melihat

Membangun Gampong

  Gema JUMAT, 20 November 2015 Oleh: Sayed Muhammad Husen Mambangun gampong (desa) ibarat membangun negara dalam skala mikro. Gampong memiliki rakyat dan pemerintahan, adanya

Menuju Islam Khaffah

Tabloid Gema Baiturrahman

Alamat Redaksi:
Jl. Moh. Jam No.1, Kp. Baru,
Kec. Baiturrahman, Kota Banda Aceh,
Provinsi Aceh – Indonesia
Kode Pos: 23241

Tabloid Gema Baiturrahman merupakan media komunitas yang diterbitkan oleh UPTD Mesjid Raya Baiturrahman

copyright @acehmarket.id 

Menuju Islam Kaffah

Selamat Datang di
MRB Baiturrahman