BreakingNews

Qari Tunanetra yang Piawai Biola

Gema JUMAT, 28 Agustus 2015 Oleh : NA RIYA ISON Siapa yang tak iba melihat Tgk Cut Abdullah. Tunanetra yang sejak lahir tak dapat menikmati keindahan dunia. Tidak berfungsinya indera penglihatan berdampak sulitnya perekonomian. Ia seorang qari berprestasi dengan garis kehidupan cukup memprihatinkan. Saat Gema mengunjungi rumahnya di Gampong Niron Kecamatan Ingin Jaya, Aceh Besar, … Read more

...

Tanya Ustadz

Agenda MRB

Gema JUMAT, 28 Agustus 2015
Oleh : NA RIYA ISON
Siapa yang tak iba melihat Tgk Cut Abdullah. Tunanetra yang sejak lahir tak dapat menikmati keindahan dunia. Tidak berfungsinya indera penglihatan
berdampak sulitnya perekonomian. Ia seorang qari berprestasi dengan garis kehidupan cukup memprihatinkan.
Saat Gema mengunjungi rumahnya di Gampong Niron Kecamatan Ingin Jaya, Aceh Besar, ia tengah memegang biola. Laki-laki kelahiran Aceh Besar, 19 Desember 1969 ini ditemani Isteri keduanya, Siti Aminah perempuan Gayo dengan cacat yang sama. Adiknya M. Harun ada di dekatnya. Isteri pertamanya sudah berpisah dengannya sejak lama.
Gema memintanya bermain biola. Kedengarannya pas dan menarik saat alat gesek itu dimainkan. Lagu padang pasir yang dibawakannya seirama dengan suara bening dan merdunya.
Kemerduan suaranya inilah yang menggiring Gema ke kediamannya. Rumah itu adalah bantuan dari Baitul Mal Kabupaten Aceh Besar yang baru ditempatinya beberapa bulan ini. Namun perluasan dapur, pengadaan instalasi listrik dan mesin pompa air adalah bantuan donatur lain. Tgk Cut demikian biasa ia dipanggil, sejak pertama mengikuti MTQ Aceh 1983 di Ulee Kareng saat itu masuk dalam wilayah Kabupaten Aceh Besar, sampai berpuluh tahun kemudian adalah pelanggan juara pada cabang cacat netra. Dalam ingatannya, 11 kali mengikuti MTQ Aceh, tujuh kali ia keluar sebagai pemenang.
Hanya saja qari andalan kafilah Aceh ini tidak cemerlang pada even MTQ Nasional
Cabang Tilawah Cacat Netra Dewasa.
Masa-masa berjayanya melantunkan kalam Ilahi sambil meraba braille sepertinya
telah terlewat. Keberuntungan untuk berhaji-berumroh atau menerima bonus tambahan setara dengan nominal setara beriba- dah ke Tanah Suci belum
sempat ia rasakan.
Di saat hampir semua bupati/wali kota menjanjikan dan memberikan bonus bagi peserta peraih juara pertama dengan berhaji, memberikan tiket umroh atau hadiah uang nominal cukup besar sebenarnya memberikan peluang baginya, andai tak terhalang usia.
Prestasinya sempat terkendala karena faktor usia. Saat MTQ Aceh ke XXX tahun 2011 di Aceh Tamiang, ia sempat didiskualifikasi oleh panitia.
Kekecewaan berlanjut. Setelah mempersiapkan diri melalui training center menghadapi MTQ XXXI se-Aceh di Subulussalam, lagi-lagi namanya tak masuk dalam verifikasi. Ia menganggap masa emasnya sudah berlalu pada MTQ di Nagan Raya yang baru selesai dilaksanakan.
“Entah mengapa saya tidak diperbolehkan mengikuti MTQ Cabang Tilawah Cacat Netra Dewasa. Bila faktor usia, mengapa teman sebaya dan bahkan ada yang lebih tua dari daerah lainnya diperbolehkan,” tambahnya bernada protes.
Dipicu kesulitan menutupi kebutuhan ekonomi sehari-hari dan adanya rasa kekecewaan serta tidak ada pihak peduli padanya membuatnya mengambil jalan pintas, mencari sedekah. “Tapi beda mencari sedekah yaitu menetap di suatu tempat. Mengemis berpindah-pindah,” imbuhnya. Di Ulee Kareng, tempat ia berprestasi pada MTQ Aceh tahun 1983 itulah ia bersila dengan mangkok penampung pemberian warga. Selama 2 tahun ia jalani masa-masa yang mau tidak mau dijalani.
Sampai satu ketika, Tgk. Surya M. Juned seorang qari yang juga memergoki seniornya yang dulu dikaguminya ditemukan dalam suasana mengharukan. Di sebuah kedai kopi, perbincangan berlanjut. Kali ini Tgk. Alamsyah telah bergabung dalam pertemuan penting itu. Intinya Tgk. Cut menghentikan pekerjaan yang tidak lazim.
Tgk. Alamsyah dan rekan sering mengajaknya memenuhi undangan bertadarus
atau tilawah bila ada kenduri, khitanan, takziah, tasyakur. Memang hasilnya tidak
seberapa, namun terasa berkah sebutnya.
Masih ada seberkas harapan untuk memenuhi keinginannya yang belum tertunaikan. Saat ini hampir semua bupati atau walikota memberi bonus menghajikan atau pun tiket umroh atau pun uang tunai senilai ibadah ke Tanah Suci. Konon lagi syarat usia diperpanjang beberapa tahun. Ada kesempatan baginya untuk kembali mengumandangkan kemerduan dan kesyahduan suaranya bertilawah. “Mudah-mudahan saya bisa berumroh atau berhaji,” harapnya. Tapi siapa yang membuka peluang, bila donatur menutup mata dan hati serta peluang bermusabaqah tertutup rapat baginya.

Dialog

Tafsir dan Hadist

Dinas Syariat Islam

Razia Pantai

GEMA JUMAT, 2 AGUSTUS 2019 Ahad lalu, ratusan santri membubarkan pengunjung pantai di Aceh Timur. Mereka menyisir bibir pantai sambil mengumandangkan azan dan membaca al-Quran.

Gubernur Resmikan Gedung KAHMI Aceh

Banda Aceh (GEMA) Gubernur Aceh Nova Iriansyah meresmikan gedung Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) Aceh, Rabu, 23 Februari 2022. Gedung baru dua lantai tersebut

Berqurban perlu Perencanaan

GEMA JUMAT, 11 AGUSTUS 2017 Sebagian orang memiliki kelebihan harta yang sebenarnya sudah bisa berqurban dengan satu ekor kambing atau 1/7 sapi secara patungan. Namun

Menuju Islam Khaffah

Tabloid Gema Baiturrahman

Alamat Redaksi:
Jl. Moh. Jam No.1, Kp. Baru,
Kec. Baiturrahman, Kota Banda Aceh,
Provinsi Aceh – Indonesia
Kode Pos: 23241

Tabloid Gema Baiturrahman merupakan media komunitas yang diterbitkan oleh UPTD Mesjid Raya Baiturrahman

copyright @acehmarket.id 

Menuju Islam Kaffah

Selamat Datang di
MRB Baiturrahman