BreakingNews

Religius dan Spiritual

Gema JUMAT, 7 Agustus 2015 Oleh : Murizal Hamzah Bagi rakyat Aceh kata spiritual tidak begitu asing.  Paling tidak, kata itu pernah populer pada era Gubernur Daerah Istimewa Aceh Prof Ibrahim Hasan tahun 1980-an.  Putra ulama itu memperkenaklan sebutan Wisata Spiritual ke berbagai pihak. Ini cara mengait wisatawan  sudi melangkah kaki ke Aceh. Maklum jika … Read more

...

Tanya Ustadz

Agenda MRB

Gema JUMAT, 7 Agustus 2015
Oleh : Murizal Hamzah
Bagi rakyat Aceh kata spiritual tidak begitu asing.  Paling tidak, kata itu pernah populer pada era Gubernur Daerah Istimewa Aceh Prof Ibrahim Hasan tahun 1980-an.  Putra ulama itu memperkenaklan sebutan Wisata Spiritual ke berbagai pihak. Ini cara mengait wisatawan  sudi melangkah kaki ke Aceh. Maklum jika dikaitkan dengan wisata, ada warga yang menganggap wisata itu identik dengan maksiat.  Maksud wisata spiritual adalah menziarahi tempat yang semakin mendekatkan umat kepada Allah SWT.  Sebut saja menikmati keindahan Masjid Raya Baiturrahman atau menzirahi makam ulama seperti ulama Teungku Chik Syiah Kuala dan lain-lain.
Apa itu spiritual? Merujuk kamus Bahasa Indonesia,  spiritual berhubungan dengan atau bersifat kejiwaan  seperti rohani atau bathin.
Satu kata lagi yang sering disalahtafsir yakni kata religius yang artinya bersifat keagamaan atau bersangkut-paut  dengan religi. Dalam bahasa kasar, religius bisa disaksikan atau  pamer.  Jadi pertanyaan, apakah kita bersikap sebagai pribadi religius atau spiritual? Apa yang membedakan dua hal tersebut?
Kita sudah lazim menonton warga yang taat beribadah dan sebagainya namun tiba-tiba dikejutkan  tokoh tersebut melakukan korupsi alias menjadi maling uang rakyat. Rajin shalat sekaligus rajin fitnah dan sebagainya.  Inilah yang disebut kita menjadi sosok religius,  belum berada pada derajat sosok spiritual.
Bagaimana kita  memahami orang religius?  Mereka adalah  sosok agamis, senang beribadah, berpenampilan agamis dengan simbol-simbol agama.
Sedangkan  orang spiritual adalah sosok yang menjalankan perintah agama di mana pun berada.
Dalam hal ini, saya mengutip perbedaan dua pribadi itu yang saya terima dari seorang rekan.  Orang religius percaya bahwa Allah SWT itu ada. Sedangkan orang spiritual yakni percaya bahwa Allah SWT hadir. Bagi orang religius untuk berbuat kebaikan bukan karena berpikir bahwa Allah SWT ada, tapi  Allah SWT tidak hadir. Sedangkan,  orang spiritual berpikir bahwa Allah SWT ada di manapun kita berada.
Orang religius adalah orang yang merasa paling suci dan paling benar. di luar mereka, maka itu salah dan tempatnya di neraka. Sedang orang spiritual melihat semua orang adalah setara. Semua punya kelebihan dan kekurangan. Dalam hal ini, salah satu kelemahan orang yang merasa alim yakni takabur atau riya dan ini hanya disadari oleh pelaku. Kita bisa berkelit dengan rekan bahwa ini syiar atau dakwah.
Kemudian, orang religius adalah orang yang melihat perbedaan dan sensitif dengan perbedaan. Orang spiritual adalah orang yang melihat persamaan, menerima perbedaan, dan mendengar pendapat atau argumen orang lain.  Kita tidak bisa memonopoli kebenaran. Jika kita tidak tahu, bukan berati tidak ada.
Selanjutnya, orang religius hanya mengutamakan simbol-simbol agama dan ritual agama. Malahan dia menjual simbol agama untuk meraih atau mempertahankan tahta.  Sebaliknya orang spiritual sembunyikan ibadahnya dari orang lain, dan praktek keagamaannya di mana dan kapan pun berada. Kadangkala kita menutup kebaikan seperti menutup aib agar tidak ada yang tahu.
Akhirukalam,  orang religius adalah orang yang baik dalam urusan ibadah saja. di sisi lain, mereka itu kasar dalam berbicara/bersikap bahkan pelit membantu tetangga/ warga karena merasa sudah mendapat tiket ke surga. Sebaliknya, orang spiritual adalah orang yang baik dalam semua urusan karena berprinsip semua urusan adalah ibadah yang bermuara kepada Allah SWT sebagai pemilik alam semesta ini.  Jadi kita mau sekedar jadi orang religius atau spiritual?

Dialog

Tafsir dan Hadist

Dinas Syariat Islam

Tolak Bala

GEMA JUMAT, 27 MARET 2020 Oleh: Nurjannah Usman Assalamualaikum warahmatuhu Saleum keu abu serta saudara Saleum uloen bri wareh loen tuju Walau tan deuh sue

MUHASABAH AKHIR TAHUN

GEMA JUMAT, 29 DESEMBER 2017 Khutbah DR. Samsul Bahri, M. Ag, Pencaramah Masjid Raya Baiturahman Banda Aceh Marilah kita semua bertaqwa kepada Allah dengan sebenar-benarnya

Menakar Kekuatan Tulisan

Sri Suyanta Harsa Muhasabah 29 Jumadil Ula 1441 (Catatan Peduli Literasi)Saudaraku, dalam sejarah manusia tulisan benar-benar menjadi magic atau bahkan sebagai “sihir akademik” yang kekuatannya

Menuju Islam Khaffah

Tabloid Gema Baiturrahman

Alamat Redaksi:
Jl. Moh. Jam No.1, Kp. Baru,
Kec. Baiturrahman, Kota Banda Aceh,
Provinsi Aceh – Indonesia
Kode Pos: 23241

Tabloid Gema Baiturrahman merupakan media komunitas yang diterbitkan oleh UPTD Mesjid Raya Baiturrahman

copyright @acehmarket.id 

Menuju Islam Kaffah

Selamat Datang di
MRB Baiturrahman