Rezeki 2016

Gema Jumat, 01 Januari 2016 Oleh : Murizal Hamzah Hari ini, Jumat pertama tahun masehi 2016. Saatnya kita ganti almanak 2015 ke 2016. Setiap memasuki tahun baru masehi, kita digelitik apakah ekonomi rumah tangga pada 2016 lebih baik daripada 2015? Sejuta pertanyaan merayap di kepala suami istri agar dapur terus berasap. Kita sering baca, mayoritas … Read more

...

Tanya Ustadz

Agenda MRB

Gema Jumat, 01 Januari 2016
Oleh : Murizal Hamzah
Hari ini, Jumat pertama tahun masehi 2016. Saatnya kita ganti almanak 2015 ke 2016. Setiap memasuki tahun baru masehi, kita digelitik apakah ekonomi rumah tangga pada 2016 lebih baik daripada 2015? Sejuta pertanyaan merayap di kepala suami istri agar dapur terus berasap. Kita sering baca, mayoritas rumah tangga hancur atau berpisah karena kurang ekonomi hingga kurang kesabaran.
Sebagian kita masih memahami bahwa rezeki itu berupa upah, gaji, honor, laba, untung dan sebagainya. Karena itu rezeki pun diidentik dengan uang tunai atau yang bersifat materi. Padahal sejatinya, rezeki itu adalah sesuatu yang kita nikmati.
Kita sangat takut jika ada tidak ada rezeki. Padahal dengan ikhtiar dan doa, rezeki itu akan mengalir. Kita tidak tahu di mana rezeki kita namun rezeki tahu di mana kita. Ada yang memperoleh rezeki di laut, gunung, atau daratan. Ke sanalah kita harus merantau untuk menjemput rezeki. Bukan mencari rezeki. Sejak tiga bulan dalam kandungan,
Kita masih memaknai kerja adalah cari uang. Kerja sebagai status sosial yang harus diberikan penghormatan. Dalam Islam, kerja adalah ibadah untuk mengharapkan ridha dari Allah SWT. Sedangkan perkara rezeki adalah urusan dari Allah SWT. Kata orang tua, jika belum rezeki kita, makanan yang sudah di bibir pun bisa tumpah.
Karena itu, atas nama uang, kita sikat, sikut, tipu, tinju, tipu bahkan membunuh sahabat untuk meraih rezeki. Banting tulang untuk menambah rekerning di bank. Mandi keringat untuk menambah kekayaan sehingga tidak mau berumrah apalagi berhaji. Begitu meninggal dunia,pihak lain yang menikmatinya. kita lupa, yang namanya rezeki itu bukan saja yang tertulis atau yang tersimpan di bank. Rezeki itu apa yang telah kita nikmati, apa yang telah kita sumbangkan atau wakafkan. Rezeki yang telah berpindah tangan. Sedangkan rezeki yang di kantong, bisa saja dirampok atau hilang dalam perjalanan.
Menjadi hartawan yang dermawan adalah sebuah keinginan yang harus ditancapkan. Jika ingin dihormati di sebuah wilayah, salah satu menjadi ulama, umara atau konglomerat. Dengan duit di tangan, tidak segan-segan warga mencium tangan hartawan. Yang dicium itu aroma uang. Beda umat yang mencium tangan ulama karena karisma dan takzim.
Allah SWT tidak pernah salah memberikan rezeki kepada hamba-Nya baik yang taat maupun yang zalim. Semua sudah terdata secara akurat sejak kita mendapat ruh setelah 44 hari di kandungan. Iri dan dengki pada rezeki pada sahabat itu menyebabkan kita iri pada takdir diri sendiri.
Perkara langkah, rezeki, mau dan jodoh sudah diatur. Manusia hanya perlu ikhtiar maksimal hingga meraih rezeki sesuai dengan takdir tersebut. Manusia bisa silap dalam menyimpan rezeki namun Allah tidak pernah salah atau tertukar memberikan rezeki. Oh ya, kita bisa bedakan antara takdir dengan nasib. Takdir tidak bisa diubah karena sudah termaktub sejak dalam kandungan. Sedangkan nasib bisa diubah. Sekarang yang kita alami apakah nasib atau takdir?
Nasib jangan disebut takdir. Kita sadar, secara rumus, perekonomian 2016 semakin pelit. Harga barang yang membumbung dan sebagainya. sementara, orang luar negeri relatif gampang memasuki negara-negara yang dimasuki dengan dimulai Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Setiap tantangan pada 2016 adalah peluang untuk meraih lebih baik pada 2016.
Bagi umat Islam, semua sudah tergaris dalam firman sebagai berikut: “Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam kitab yang nyata (Al Lauh Al Mahfuz).” (QS. Huud: 6).

Dialog

Tafsir dan Hadist

Dinas Syariat Islam

Mengenang Peristiwa Tsunami

 GEMA JUMAT, 21DESEMBER 2018 Oleh: Ust. Dr. Muhammad Yusran Hadi, Lc., MA Setiap tanggal 26 Desember tiba, kita pasti terkenang kembali peristiwa gempa dan Tsunami

Mensyukuri Alam

Gema, 20 Maret 2018 Oleh Dr. Sri Suyanta (Wakil Dekan I Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Ar-Raniry) Saudaraku, dengan kemahamurahanNya, Allah telah mentakdirkan kita lahir

Eksistensi Gema di Era Digital

Kepala Biro Humas dan Protokol Setda Aceh, Muhammad Iswanto, S.Stp, MM menyatakan keberhasilan Gema bertahan selama hampir mencapai 3 dasawarsa merupakan sebuah prestasi yang luar

Menuju Islam Khaffah

Tabloid Gema Baiturrahman

Alamat Redaksi:
Jl. Moh. Jam No.1, Kp. Baru,
Kec. Baiturrahman, Kota Banda Aceh,
Provinsi Aceh – Indonesia
Kode Pos: 23241

Tabloid Gema Baiturrahman merupakan media komunitas yang diterbitkan oleh UPTD Mesjid Raya Baiturrahman

copyright @acehmarket.id 

Menuju Islam Kaffah

Selamat Datang di
MRB Baiturrahman