Saling Memaafkan Menurut Hadits Nabi SAW

Gema, edisi Jumat, 24 Juli 2015 Khutbah Jum’at, Dr. Tarmizi M. Jakfar, MA, Wadek II Fakultas Syariah dan Hukum UIN Ar-Raniry Manusia adalah makhluk yang lemah dalam banyak hal, bahkan lemah dalam segala sesuatu (fi kulli syayin). Demikian makna lemah yang dipahami oleh Abu Ishaq al-Naysaburi  dalam menafsirkan Surat al-Nisa` ayat 28 tentang hakikat ciptaan … Read more

...

Tanya Ustadz

Agenda MRB

Gema, edisi Jumat, 24 Juli 2015
Khutbah Jum’at, Dr. Tarmizi M. Jakfar, MA, Wadek II Fakultas Syariah dan Hukum UIN Ar-Raniry
Manusia adalah makhluk yang lemah dalam banyak hal, bahkan lemah dalam segala sesuatu (fi kulli syayin). Demikian makna lemah yang dipahami oleh Abu Ishaq al-Naysaburi  dalam menafsirkan Surat al-Nisa` ayat 28 tentang hakikat ciptaan manusia, yang artinya: “Manusia diciptakan dalam keadaan yang lemah.”  (Tafsir al-Kasyf wa al-Bayan, Juz 3, 2002, h. 291), dan kelemahan itu senantiasa menyertainya dalam setiap tindakan yang dilakukannya. Inilah sifat asli yang dimiliki oleh setiap manusia. Oleh karena itulah Allah senantiasa mempertimbangkan kadar kelemahan manusia ini dalam menjalankan setiap perintah dan meninggalkan larangan-Nya. Karena faktor kelemahan dan keterbatasan ini pula terkadang manusia cenderung melakukan kesalahan atau keonaran, tetapi seberat apapun kesalahan dan keonaran yang dilakukan manusia, lalu memohon ampun dan bertaubat kepada-Nya, niscaya Allah akan menerima taubatnya, karena Allah Maha Pengampun dan Maha Penerima taubat. Betapa banyak disebutkan sifat-sifat “keampunan dan kemaafan” Allah terhadap hamba-hamba-Nya yang melakukan kesalahan dan dosa, semisal (inna Allah ghafur al-rahim; wa kana Allah ‘afuwwan ghafura; wa Allah ghafur al-rahim; dan ungkapan-ungkapan semisalnya telah memberikan gambaran yang cukup jelas tentang tingginya keampunan dan kemaafan Allah terhadap hamba-hamba-Nya.
Nabi Muhammad sebagai Rasul utusan-Nya kepada kita juga telah diajarkan Allah agar meneladani sifatsifat kemuliaan ini. Misalnya tersebut pada Surat Ali Imran ayat 159: “Maka disebabkan rahmat Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu, maafkanlah mereka, mohonkanlah ampunan bagi mereka dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu…”  Ayat ini bercerita tentang perintah Allah untuk memaafkan orangorang yang berbuat kesalahan kepada Nabi, bahkan juga memerintahkan Nabi agar memohon ampunan terhadap pelanggaran mereka terhadap Allah (Tafsir Fakhr al-Razi, 1: h. 1290).
Apa yang diperintahkan Allah kepada beliau agar sudi memaafkan kekhilafan dan kesalahan orang lain sebagaimana tertuang dalam ayat di atas telah diterapkan sepenuhnya dalam sejarah kehidupan beliau yang mulia, dan beliau juga memerintahkan kita suntuk mempraktekkannya dalam kehidupan kita sehari-hari, sebagaimana akan dilihat dalam uraian-uraian berikut.
Potret kemaafan
Sebelum ditelusuri bagaimana hakikat kemaafan yang dituntut dalam alQur`an bahkan dalam sunnah atau hadis Nabi perlu sekilas dijelaskan pengertian dari kata maaf itu sendiri. Kata  “maaf” berasal dari bahasa Arab yaitu (al-‘afw) bentuk masdar dari (`afa – ya’fu – `afwan), artinya “menghapus atau menghilangkan.” ( Ibn Mandlur: Lisan al-Arab, XV, h. 72). Dalam kitab Maqayis al-Lughat disebutkan, kata `Afw yang terdiri dari huruf `ain – fa –waw pada asalnya mempunyai dua makna, pertama, meninggalkan sesuatu (tark al-syai`in), dan yang kedua, mencari sesuatu ( thalab al-syai`in). Yang dimaksudkan di sini makna yang pertama, yaitu meninggalkan sesuatu (balasan) atau tidak memberikan sesuatu (balasan) terhadap kesalahan seseorang. Misalnya: `Afw Allah `an khalqihi, artinya, Allah tidak memberikan hukuman terhadap kesalahan makhluk-Nya. Al-Khalil mengatakan bahwa setiap orang yang berhak untuk diberikan hukuman, lalu kamu tidak memberikan hukuman itu kepadanya berarti kamu telah memaafkannya .(Ibn Faris: Maqayis al-Lughat, IV, h. 47).
Seperti telah disebutkan sebelumnya, Allah bukan hanya memerintahkan Nabi untuk memberi maaf kepada mereka yang membuat pelanggaran atau kesalahan, tetapi lebih jauh dari itu juga memerintahkan Nabi untuk memohon ampunan kepada Allah terhadap kesalahan mereka dan menjadikan mereka sebagai teman untuk bermusyawarah. Semua ini telah dijalankan oleh Nabi dengan baik dan sangat indah, seperti terekam dalam permusyawaratan beliau dengan mereka dalam menghadapi perang Uhud. Selain dalam ayat di atas, perintah untuk memberikan maaf dengan berlapang dada juga dapat ditemukan dalam Surat Al-Nur ayat 22: “Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan  di antara kamu bersumpah bahwa mereka tidak akan memberi bantuan kepada kaum kerabatnya, orang-orang yang miskin dan orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah, dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin  bahwa Allah mengampunimu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
Aisyah menyebutkan  bahwa ayat di atas turun berkaitan dengan kasus Abubakar al-Shiddiq yang telah bersumpah tidak akan memberikan nafkah lagi kepada Misthah, anak bibi beliau yang miskin yang dulunya beliau nafkahi. Hal ini dilakukan karena Misthah telah turut menyebarkan berita bohong tentang Aisyah. Kemudian setelah terbukti kebohongan tersebut, Allah mengajak Abubakar ra untuk memaafkan Misthah dengan lapang dada (wa ‘lya`fu wa `lyashfahu), apalagi ia anak bibi beliau yang miskin yang hanya diharapkan Abubakar-lah sebagai pemberi nafkahnya, dan dijanjikan bahwa orang yang memaafkan akan diampuni dosanya oleh Allah SWT. Setelah mengetahui ayat ini Abubakar kemudian bersumpah lagi akan menafkahi Misthah untuk selamanya, karena mengharap keampunan Allah terhadap dosa-dosanya. (H. R. Al-Bukhari).
Kemaafan Nabi
Nabi Muhammad saw sebagai seorang Rasul yang sangat menjunjung tinggi perintah-perintah Allah telah secara nyata mempraktekkan perintah-perintah tersebut, dan praktek-praktek beliau berikut teori-teorinya dapat ditemukan dalam sejumlah hadis beliau. Di antaranya terdapat dalam riwayat Muslim yang berasal dari Abu Hurairah, Rasulullah saw bersabda: “Allah tidak menambah kepada orang yang memberi maaf kecuali kemuliaan.” (H.R.Muslim). Siapa di antara kita yang ingin meraih kemuliaan maka maafkanlah kesalahan orang lain. Memang ini berat dilakukan oleh mereka yang berhati keras dan berjiwa bakhil, tetapi tidak berat bagi mereka yang berhati lembut dan berjiwa mulia. Pada saat seseorang tersirat di hatinya untuk memberi maaf atas kezaliman dan pengkhianatan orang lain terhadap dirinya, terkadang nafsu amarah berbisik lain kepadanya, “masak kamu memaafkan orang yang telah berulang kali menzalimimu, berbuat onar terhadap keluargamu, tidak pernah membantumu pada saat kamu meminta bantuannya, mengkhianatimu pada saat pemilu, dan bisikan bisikan sejenisnya yang sering dapat mengalahkan kita untuk memberikan maaf kepadanya.
Dalam menghadapi bisikan nafsu amarah tersebut perlu segera dialihkan ingatan kita kepada janji Allah berkaitan dengan kasus Abubakar r.a. yang disebutkan sebelumnya ketika ia bersumpah tidak akan menafkahi lagi Misthah anak bibinya yang miskin itu. Tetapi manakala ia mengetahui adanya firman Allah yang berbunyi “Apakah kamu tidak ingin  bahwa Allah mengampunimu (dengan memaafkan Misthah dan menafhakinya kembali), akhirnya ia mencabut sumpahnya dan malah dalam riwayat al-Bukhari disebutkan pada waktu itu Abubakar r.a. bersumpah sebaliknya akan menafkahi kembali Misthah untuk selamanya. Ketika itu Abubakar juga mengatakan: “Wa Allahi, Inni La`uhibbu an yaghfira Allahu li (demi Allah, sungguh saya lebih mencintai agar Allah mengampuni dosa-dosaku [ daripada aku dendam untuk tidak memaafkan Misthah]) (H.R. Al-Bukhari). Kenapa Abubakar r.a. memilih alternatif maaf daripada memperturutkan nafsu amarah, tentu karena ia memikirkan tidak ada artinya mempertahankan nafsu amarah tersebut berbanding dengan keampunan Allah terhadap dosadosanya. Padahal kesalahan Misthah sangat besar, karena ia telah menyebarkan fitnah terhadap anaknya Aisyah isteri Rasulullah SAW melakukan mesum dengan Shafwan. Masak kita  hanya karena sekali saja pernah disakiti oleh seseorang, itupun belum tentu sengaja, lalu kita dendam sepanjang masa, atau hanya karena berbeda pendapat dalam persoalan khilafiah atau persoalan yang tidak begitu prinsip dan substansial menyebabkan kita berpaling muka, tidak mau menegur sapa dan bersalaman pada saat berjumpa.
Pada saat batin kita berkecamuk antara keinginan untuk bertegur sapa atau bersalaman, atau memberi maaf dan dendam khusumat terhadap orang yang pernah berselisih dengan kita atau pernah menyakiti kita, perlu pula kita merenungkan sabda Nabi dalam hadis di atas, bahwa pemberian maaf akan menyebabkan tambahan kemuliaan dari Allah SWT. Nabi SAW telah memaafkan bermacam kesalahan dan kezaliman orang lain terhadap dirinya. Ingat bahwa makna dari kata maaf seperti telah dijelaskan adalah membebaskan kesalahan orang lain dari balasan yang serupa atau tidak membalas kejahatan orang lain terhadap kita. Salah satu kisah menarik tentang betapa Nabi telah melupakan dan memaafkan kesalahan bahkan kezaliman orang lain kepadanya adalah pada saat terjadinya perang Uhud sebagaimana tergambar dalam hadis riwayat alBukhari. Dalam hadis yang berasal dari Ibn Mas’ud ini disebutkan bahwa pada saat Ibn Mas’ud menggambarkan penderitaan Nabi dalam peperangan Uhud seolah-olah ia melihat kembali penderitaan Nabi itu dengan luka-lukanya yang mengeluarkan darah di wajahnya, beliau menyapu darah tersebut yang telah melumuri wajah yang mulia itu, tetapi ketika itu beliau bukan sekedar memaafkan mereka tetapi malah memohon ampun atas kesalahan mereka itu, dengan alasan semua itu mereka lakukan karena mereka tidak mengetahui siapa orang yang dimusuhi dan dilukai itu. Seandainya mereka mengetahui orang yang dimusuhi itu merupakan penyelamat diri mereka dari azab Allah tentu ia tidak tega melakukannya.

Dialog

Tafsir dan Hadist

Dinas Syariat Islam

Perbaharui Kualitas Iman Setiap Saat

GEMA JUMAT, 14 JULI 2017 Banda Aceh (Gema) – Tauhid atau keimanan adalah hak Allah SWT yang paling besar dan kewajiban yang paling utama untuk

Masjid dan Jejak Aceh di Pulau Pinang

Oleh Azwir Nazar Di Pulau Pinang ada satu masjid Aceh yang melagenda. Jejak kerajaan Aceh yang begitu kental terasa. Namanya mesjid Lebuh Aceh Melayu. Saya

Menuju Islam Khaffah

Tabloid Gema Baiturrahman

Alamat Redaksi:
Jl. Moh. Jam No.1, Kp. Baru,
Kec. Baiturrahman, Kota Banda Aceh,
Provinsi Aceh – Indonesia
Kode Pos: 23241

Tabloid Gema Baiturrahman merupakan media komunitas yang diterbitkan oleh UPTD Mesjid Raya Baiturrahman

copyright @acehmarket.id 

Menuju Islam Kaffah

Selamat Datang di
MRB Baiturrahman