Tangkal Aliran Sesat Dengan Semangat Ukhuwah

  Gema JUMAT, 12 Februari 2016 Banda Aceh (gema)– Dampak negatif dari arus globalisasi yang didukung dengan perkembangan teknologi dewasa ini bukan hanya memberikan dampak positif, namun secara bersamaan telah menimbulkan dampak negatif. Oleh karena itu, menjaga ukhuwah antar sesame muslim menjadi sangat penting. Hal tersebut disampaikan oleh Gubernur Aceh, dr H Zaini Abdullah, dalam … Read more

...

Tanya Ustadz

Agenda MRB

 
Gema JUMAT, 12 Februari 2016
Banda Aceh (gema)– Dampak negatif dari arus globalisasi yang didukung dengan perkembangan teknologi dewasa ini bukan hanya memberikan dampak positif, namun secara bersamaan telah menimbulkan dampak negatif. Oleh karena itu, menjaga ukhuwah antar sesame muslim menjadi sangat penting.
Hal tersebut disampaikan oleh Gubernur Aceh, dr H Zaini Abdullah, dalam sambutan singkatnya yang dibacakan oleh Asisten I Setda Aceh, Muzakar A Ghani, pada acara pengukuhan Pengurus dan Jajaran Majelis Lembaga Muhammadiyah dan Aisyiah Aceh periode 2016-2020, serta pelantikan Rektor Universitas Muhammadiyah Aceh.
Acara yang turut dihadiri oleh kepala Ketua Umum Muhammadiyah, DR H Haedar M Si, serta Ketua Pengurus Pusat Aisyiah, Drs Hj Siti Noordjannah Djohantini M Si serta rombongan itu, dipusatkan di Aula Universitas Muhammadiyah Aceh, (Kamis, 11/2).
“Takdapat dipungkiri, berkembangnya berbagai aliran atau paham-paham tertentu di Aceh, tidak bisa terlepas dari hal ini, di samping juga semakin menurunnya semangat ukhuwah dan rasa kebersamaan kita selaku umat Islam,” tegas Doto Zaini.
Sebagai mana diketahui bersama, beberapa waktu lalu Majelis Permusyawaratan Ulama Aceh telah menyampaikan himbauan mengenai 29 aliran kepercayaan yang perlu di waspadai. Dan, dari 29 aliran ini, 16 diantaranya sudah dinyatakan sesat dan menyesatkan.
“Inilah fenomena umat dewasa ini, yang perlu mendapat perhatian dan aksi bersama kita semua. Pemerintah akan menempuh segala cara untuk memerangi upaya pendangkalan aqidah ini, dan tentunya dengan dukungan dank ekompakan ormas-ormas Islam, langkah ini dapat kita lakukan dengan lebih baik.”paparnya.
Gubernur berharap, sebagai salah satu organisasi Islam di Indonesia, Muhammadiyah diharapkan dapat merancang langkah strategis dan senantiasa bersinergi dengan Pemerintah, lembaga pendidikan Islam dan juga ormas Islam lainnya, dalam upaya meningkatkan pembinaan terhadap generasi muda Aceh, guna menangkal upaya pendangkalan aqidah yang dilakukan oleh musuh-musuh Islam. (Rel/Marmus)
 
Pentingnya Bahasa Inggris di era
Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA)
Gema JUMAT, 12 Februari 2016
Oleh Dr. Iskandar AS, MA
ahasan mengenai Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA), makin hari makin hangat dibicarakan oleh berbagai kalangan masyarakat, baik itu media, pengusaha maupun pemerintah. Tidak sedikit di antara mereka mempertanyakan makna dari MEA dan apa yang perlu disiapkan untuk menghadapi tantangan MEA ini. Berkaitan dengan pertanyaan di atas, sekretaris ditjen kerjasama ASEAN, Iwan Suyudhie Amri dan wakil tetap RI untuk ASEAN, Ngurah swajaya mengatakan bahwa MEA merupakan sebuah integrasi ekonomi ASEAN dalam menghadapi perdagangan bebas antar negaranegara ASEAN yang bertujuan untuk menumbuh kembangkan harapan, peluang, motivasi, dan daya saing untuk mencapai integrasi ekonomi di kawasan ASEAN. Dengan berlakunya MEA ini maka masyarakat dengan mudah bisa memperoleh dan menikmati barang dari luar negeri, begitu juga sebaliknya. Hal ini terjadi karena pemberlakuan MEA ini meringankan pajak/ penghapusan tarif bea cukai barang. Dengan MEA ini maka kawasan ASEAN bisa menjadi sebagai pasar tunggal, basis produksi, pengembangan usaha kecil & menengah yang berdaya saing global.
Pemberlakuan MEA ternyata tidak hanya terjadi pada aktifitas pertukaran barang saja namun juga terjadi pada pertukaran tenaga jasa atau sumber daya manusia (SDM). Anggota negara ASEAN yang terdiri dari Brunei Darussalam, Myanmar, Filipina, Singapura, Thailand, Vietnam, Malaysia, Laos, Indonesia, dan Kamboja mesti siap menghadapi persaingan ini. Oleh karenanya, kualitas individu sangat menentukan dalam kompetisi MEA ini. Untuk mampu bersaing di era MEA ini, maka memiliki keterampilan sangatlah diperlukan pada setiap individu. Tanpa adanya persiapan untuk meningkatkan keterampilan maka besar kemungkinan pemberlakuan MEA akan menjadi sebuah ancaman yang tidak bisa terelakkan.
antas, persiapan apa yang harus dimiliki oleh individu? Ini juga menjadi pertanyaan di kalangan masyarakat. Menanggapi pertanyaan ini, maka salah satu hal yang mesti dikuasai oleh individu paling tidak adalah penguasaan bahasa Inggris, yang biasanya dipakai oleh komunitas international dalam berinteraksi. Sementara bahasa asing lain seperti bahasa Arab, Cina, Jerman dan lainnya menjadi keterampilan tambahan. Semakin banyak bahasa asing yang dikuasai, semakin menjadi nilai tambah bagi individu tersebut dalam berkompetisi di era MEA ini.
Ada tiga alasan besar kenapa bahasa Inggris penting dikuasai oleh masyarakat dalam persaingan MEA ini. Ketiga alasan ini hasil focus group discussion (FGD) dari 60 staf pengajar Bahasa Inggris dari berbagai fakultas di lingkungan Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) yang diselenggarakan pada 7 Februari 2016. Pertama, bahasa Inggris ini dipakai sebagai media untuk mencari ilmu. Dengan kemampuan bahasa Inggris yang baik dan benar, maka dengan mudah seseorang dapat memahami dan mendapatkan pengetahuan baru di bidang tertentu. Kedua, bahasa Inggris membantu mendapatkan pekerjaan yang layak. Banyak perusahaan nasional dan internasional mensyaratkan kepada peserta untuk mampu berkomunikasi dengan bahasa Inggris secara lancar dan memiliki nilai TOEFL 550. Ketiga, bahasa Inggris membantu seseorang mempromosikan produk lokal di kancah internasional. Sebagai contoh, petani yang mampu berkomunikasi dengan bahasa Inggris berkesempatan mempromosikan hasil pertaniannya ke masyarakat internasional, baik lewat kegiatan formal seperti konferensi dan seminar, maupun lewat kegiatan informal.
Dosen Bahasa Inggris, FKIP Unsyiah, Indonesia & Alumni University of New England (UNE), Australia.
 

Dialog

Tafsir dan Hadist

Dinas Syariat Islam

Visi Misi Syariah Pemimpin di Aceh

Gema JUMAT, 04 NOVEMBER 2016 Siapa pun pemimimpin di Aceh tak bisa menghindar dari kewajiban melaksanakan syariat Islam. Ini karena sesuai amanah konstitusi yang mewajibkan

Menuju Islam Khaffah

Tabloid Gema Baiturrahman

Alamat Redaksi:
Jl. Moh. Jam No.1, Kp. Baru,
Kec. Baiturrahman, Kota Banda Aceh,
Provinsi Aceh – Indonesia
Kode Pos: 23241

Tabloid Gema Baiturrahman merupakan media komunitas yang diterbitkan oleh UPTD Mesjid Raya Baiturrahman

copyright @acehmarket.id 

Menuju Islam Kaffah

Selamat Datang di
MRB Baiturrahman