Tata Cara Shalat Gerhana

GEMA JUMAT, 26 JANUARI 2018 Berdasarkan data astronomi, akan terjadi gerhana bulan total (GBT) 31 Januari 2018 atau 14 Jumadil Ula 1439 Hijriah. Hampir seluruh kawasan Indonesia dapat mengamati GBT ini. Awal gerhana diperkirakan pukul 20:48 WIT, 19.48 WITA, atau 18.48 Wib. Puncak gerhana akan terjadi pada pukul 20:29:49 Wib, dan akhir gerhana bulan total … Read more

...

Tanya Ustadz

Agenda MRB

GEMA JUMAT, 26 JANUARI 2018
Berdasarkan data astronomi, akan terjadi gerhana bulan total (GBT) 31 Januari 2018 atau 14 Jumadil Ula 1439
Hijriah. Hampir seluruh kawasan Indonesia dapat mengamati GBT ini. Awal gerhana diperkirakan pukul 20:48 WIT, 19.48 WITA, atau 18.48 Wib. Puncak gerhana akan terjadi pada pukul 20:29:49 Wib, dan akhir gerhana bulan total pada pukul 22:11:11 Wib.
Dosen UIN Ar-Raniry Tgk Furqan, MA mengajak umat Islam untuk melaksanakan shalat gerhana atau shalat khusuf. Menurutnya, terjadinya gerhana baik itu gerhana bulan ataupun gerhana matahari merupakan salah satu kejadian alam yang Allah nampakkan kepada makhluk lainnya.
Menurutnya, sering kali kita manusia ini menganggap remeh akan kejadian tersebut, bahkan tidak sedikit manusia yang mengabadikan kejadian unik ini, yang sangat jarang terjadi.
Rasulullah SAW , katanya, memperingatkan umatnya supaya selalu ingat dan agar segera melaksanakan shalat gerhana, selain itu juga memperbanyak bacaan zikir, istighfar, doa, sedekah, bertaubat dan amal-amal shalih lainnya ketika terjadi peristiwa gerhana baik gerhana bulan dan matahari.
Tgk Furqan, yang juga Ketua Persatuan Guru Nahdlatul Ulama Aceh ini menjelaskan, shalat gerhana bulan sering juga disebut dengan shalat kusuf. Adapun dalilnya adalah:
Firman Allah SWT yang artinya : Dan dari sebagian tandatanda- Nya adalah adanya malam dan siang serta adanya matahari dan bulan. Janganla kamu sujud kepada matahari atau bulan tetapi sujudlah kepada Allah Yang Menciptakan keduanya. (QS. Fushshilat: 37).
Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya matahari dan bulan adalah sebuah tanda dari tanda-tanda Allah SWT. Keduanya tidak menjadi gerhana disebabkan kematian seseorang atau kelahirannya. Bila kalian mendapati gerhana, maka lakukanlah shalat dan berdoalah hingga selesai fenomena itu.” (HR. Bukhari, Muslim dan Ahmad).
Dalam hadits yang lain: “Ketika matahari mengalami gerhana di zaman Rasulullah SAW, orangorang dipanggil shalat dengan lafaz : As-shalatu jamiah”. (HR. Bukhari).
Menurut Tgk Furqan, adapun hukum melaksanakan shalat gerhana para ulama berbeda-beda pendapat dalam hal ini, dalam mazhab Syafi i dan Maliki mengatakan sunnat muakkad (sangat dianjurkan), sedangkan imam Hanafi hukumnya wajib dan imam Maliki mengatakan sunnah.
Kemudian, waktu pelaksanaan shalat gerhana bulan dilakukan sejak awal terjadinya gerhana sampai waktu berakhirnya gerhana. Ini
sesuai dengan hadits Rasulullah “Oleh karena itu, bila kalian melihatnya, maka berdoalah kepada Allah dan shalatlah sampai kembali terang.” (Muttafaqun ‘alaihi).
Tgk Furqan mengatakan, apakah shalat gerhana boleh dilakukan secara sendiri atau berjamaah, ini pun terdapat dua perbedaan pendapat di antara para ulama, sebagian ulama mengatakan boleh dilakukan secara berjamaah (sunnah muakkad) dengan dalil: Dari Ibnu ‘Abbas r.a:
“Sesungguhnya matahari dan bulan adalah bukti tanda-tanda kekuasaan Allah. Sesungguhnya, keduanya tidak mengalami gerhana karena kematian seseorang, dan tidak pula karena hidupnya seseorang. Oleh karena itu, bila
kalian melihatnya, maka berdoalah kepada Allah dan shalatlah sampai terang kembali.” (Muttafaqun ‘alaihi).
Pendapat kedua dilakukan dengan tidak berjamaah atau dilakukan dengan secara sendiri. Pendapat ini dikuatkan oleh imam Malik dan imam Hanafi .
Tidak ada perbedaan dikalangan ulama, shalat gerhana bulan dilaksakan dengan dua raka’at. Hanya saja, para ulama berbeda pendapat dalam hal tata cara pelaksanaannya. Dalam masalah ini terdapat dua pendapat yang berbeda.
Pendapat Imam Malik, Syafi ’i, dan Ahmad, bahwa shalat gerhana ialah dua rakaat. Pada setiap rakaat ada dua kali berdiri, dua kali membaca Al Fatihah, dua ruku’ dan dua sujud. Pendapat ini berdasarkan beberapa hadits, di antaranya hadits Ibnu ‘Abbas r.a. Sedangkan pendapat Abu Hanifah, bahwa cara sholat gerhana bulan ialah dua rakaat, dan setiap rakaat satu kali berdiri, satu rukuk dan dua sujud seperti halnya shalat sunnah lainnya.
Tgk Furqan menjelaskan hikmah gerhana bulan di antaranya supaya kita selaku makhluk Allah saling mengingat kebesaran Allah dan kekuasaan Allah SWT, karena disetiap kejadian tentunya mempunyai hikmah yang akan Allah berikan.
Kemudian juga harus diingat, matahari dan bulan adalah juga makhluk Allah, namun mereka juga tunduk akan perintah Allah SWT, juga sebagai pengingat bagi kita semua yang mungkin hatinya lalai dan sering kita melupakan sang pencipta, sehingga dengan terjadinya gerhana ini akan menjadi pelajaran untuk mendekatkan kepada sang pencipta.
 
Adapun tata cara salat gerhana sebagai berikut:

  • Berniat di dalam hati;
  • Takbiratul Ihram, yaitu bertakbir sebagaimana shalat biasa;
  • Membaca do’a iftitah dan berta’awudz, kemudian membaca surat Al-Fatihah, dilanjutkan membaca surat yang panjang (seperti surat Al- Baqarah) sambil dijaharkan (dikeraskan suaranya, bukan lirih) sebagaimana terdapat dalam hadits Aisyah: “Nabi SAW menjaharkan (mengeraskan) bacaannya ketika shalat gerhana.”(HR. Bukhari Nomor 1065 dan Muslim Nomor 901);
  • Kemudian ruku’ sambil memanjangkannya;
  • Kemudian bangkit dari ruku’ (i’tidal) sambil mengucapkan “Sami’allahu Liman Hamidah, Rabbana Wa Lakal Hamd”;
  • Setelah i’tidal ini tidak langsung sujud, namun dilanjutkan dengan membaca surat Al- Fatihah dan surat yang panjang. Berdiri yang kedua ini lebih singkat dari yang pertama;
  • Kemudian ruku’ kembali (ruku’ kedua) yang panjangnya lebih pendek dari ruku’ sebelumnya;
  • Kemudian bangkit dari ruku’ (i’tidal);
  • Kemudian sujud yang panjangnya sebagaimana ruku’, lalu duduk di antara dua sujud kemudian sujud kembali;
  • Kemudian bangkit dari sujud lalu mengerjakan raka’at kedua sebagaimana raka’at pertama, hanya saja bacaan dan gerakan-gerakannya lebih singkat dari sebelumnya;

Setelah itu, imam menyampaikan khutbah kepada para jama’ah yang berisi anjuran untuk berdzikir, berdo’a, beristighfar, bersedekah. Indra Kariadi

Dialog

Tafsir dan Hadist

Dinas Syariat Islam

Paham Fikih Ramadhan

Berpuasa dan mengisi hari-hari bulan Ramadhan dengan serangkaian amal ibadah; tarawih, tadarus, taklim, dan amal ibadah lainya merupakan keinginan setiap orang yang jiwanya dibalut dengan

Mensyukuri Kelengkapan Hidup

Gema, 19 Maret 2018 Oleh Dr. Sri Suyanta (Wakil Dekan I Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Ar-Raniry) Saudaraku, setelah, pangan, sandang dan papan terpenuhi sudah

Doktrin Agama Menafasi Budaya Aceh

GEMA JUMAT, 3 AGUSTUS 2018 Oleh : Ampuh Devayan Tidak bisa dipungkiri bahwa doktrin agama Islam telah menafasi karya-karya seni dan sastra di Aceh. Hal

Pengelola Wakaf Harus Transparan

Gema JUMAT, 29 Januari 2016 Tgk. H. Faisal Ali, Ketua Badan Wakaf Indonesia Aceh   DANA wakaf sifatnya rutin atau berkesinambungan. Di sisi lain sumber

Menuju Islam Khaffah

Tabloid Gema Baiturrahman

Alamat Redaksi:
Jl. Moh. Jam No.1, Kp. Baru,
Kec. Baiturrahman, Kota Banda Aceh,
Provinsi Aceh – Indonesia
Kode Pos: 23241

Tabloid Gema Baiturrahman merupakan media komunitas yang diterbitkan oleh UPTD Mesjid Raya Baiturrahman

copyright @acehmarket.id 

Menuju Islam Kaffah

Selamat Datang di
MRB Baiturrahman