Zina yang Dilestarikan

Gema JUMAT, 25 Desember 2015 Oleh : Hefa Lizayanti   Menilik sifat kasih sayang manusia, benarlah sebagian kita tidak tega menghadiri eksekusi kedua terdakwa, menyaksikan langsung kesakitan terdakwa menerima hukumannya. Benar pula kita terpikir betapa akan malunya mereka di hadapan kita di hari eksekusi itu. Bagaimana pula keluarganya menanggung malu terhadap masyarakat yang mengenal mereka. … Read more

...

Tanya Ustadz

Agenda MRB

Gema JUMAT, 25 Desember 2015
Oleh : Hefa Lizayanti
 
Menilik sifat kasih sayang manusia, benarlah sebagian kita tidak tega menghadiri eksekusi
kedua terdakwa, menyaksikan langsung kesakitan terdakwa menerima hukumannya. Benar
pula kita terpikir betapa akan malunya mereka di hadapan kita di hari eksekusi itu. Bagaimana pula keluarganya menanggung malu terhadap masyarakat yang mengenal mereka.
 
Entahlah bagaimana menerangkan gelisah ini. Bermula dari perkenalan saya dengan istilah permohonan dispensasi kawin, bagi muda-mudi muslim yang belum cukup umur secara hukum negara untuk menikah, tapi seringnya ‘terpaksa’ harus menikah karena terlanjur salah arah. Masyarakat umum menyebutnya MBA : Marriage by accident. Para tetua kampung di sekitar tempat tinggal saya sering menggunakan istilah ‘makan tanpa cuci tangan’. Apapun istilahnya, maknanya tak lain adalah sex bebas.
Kegelisahan ini mencuat lagi setelah pada Selasa, 15 Desember 2015, Majelis Hakim Mahkamah Syar’iyah Takengon memutuskan perkara Nomor 0011/JN/2015/MS-Tkn tentang Jarimah Zina yang diakui dengan menghukum kedua terdakwa pelaku zina dengan hukuman 100 kali cambuk (point 2 amar putusan) dan masa tahanan sejak dari penangkapan hingga eksekusi nantinya dianggap sebagai hukuman tambahan bagi keduanya (point 4 amar putusan).
Beragam tanggapan tentu saja mengiringi putusan ini. Seorang teman perempuan melemparkan wacana ‘bagaimana ya eksekusinya nanti? Apa pengeksekusinya orang yang bebas dosa, suci murni begitu? Tidakkah terpikir jika hal itu bisa saja menimpa mereka? 100 kali cambuk itu kan lumayan lama, tidakkah ada belas kasihan? Ya… namanya manusia kan memang tak lepas dari salah dan khilaf. Rada kejam begitu.’ Mengalirlah diskusi di antara kami, yang ujungnya menjelaskan satu keadaan ; betapa ternyata banyak muslim di negeri ini tidak belajar dan tidak mengerti hukumhukum dasar Islam sepenuhnya. Sebagai muslim, kita berduka.
Menilik sifat kasih sayang manusia, benarlah sebagian kita tidak tega menghadiri eksekusi kedua terdakwa, menyaksikan langsung kesakitan terdakwa menerima hukumannya. Benar pula kita terpikir betapa akan malunya mereka di hadapan kita di hari eksekusi itu. Bagaimana pula keluarganya menanggung malu terhadap masyarakat yang mengenal mereka. Tapi setidaknya, hukuman itu mudah-mudahan melepaskan mereka dari azab Tuhan-Nya yang lebih pedih di akhirat kelak. Setidaknya jalan taubat bagi mereka semakin lebar, semoga mereka memilih jalan itu dan semoga ampunan Allah bagi mereka juga dekat. Sebab zina adalah dosa besar ketiga setelah syirik dan membunuh.
Jika dikaitkan dengan sifat kejam, ingatlah bahwa tujuan hukum Islam diantaranya adalah untuk memelihara agama, jiwa, akal, keturunan dan harta. Lebih kejam mana hukuman yang telah ditetapkan bagi pelaku zina itu dibanding kerusakan masyarakat yang ditimbulkan olehnya. Kekacauan nasab, besarnya rasa malu yang ditanggung oleh keluarga, beban mental yang harus ditanggung oleh pasangan sahnya, perpecahan rumah tangga hingga berujung perceraian, beban mental seumur hidup yang harus ditanggung oleh keturunannya dan seterusnya.
Gelisahnya saya mengingat betapa banyak perzinaan yang diketahui persis oleh pihak keluarga tapi didiamkan saja. Bila ketahuan umum, dicarikan jalan keluar yang menyimpang dari hukum asli zina menurut agama. Alih-alih mengaku, dilaporkan, diperiksa dan menjalani hukuman, pelaku dan keluarga mengupayakan jalan damai semisal bayar denda adat atau bila sudah ‘menghasilkan’ maka dinikahkan saja. Selesailah di dunia, tertutupi aib mereka. Terkenallah pula istilah ‘anak hibrida’ di masyarakat kita. Lima, empat, bahkan ada yang satu bulan setelah menikah, lahir anak. Disambut begitu gembira, tak jarang dirayakan sedemikian megah dan dinisbahkan si anak serta merta pada suami sah ibunya, padahal sejatinya anak itu adalah anak di luar nikah. Bukankah yang begini lebih kejam lagi? Seumur anak itu hidup, nasabnya salah, hingga ke anak cucunya kelak. Bila ia perempuan tentu akan berdampak pada wali saat pernikahannya kelak. Tapi baik laki-laki atau perempuan, keduanya berdampak pada hukum keluarga dalam Islam. Perilaku menjauh dari syari’ah seperti ini semakin mengukuhkan pemakluman yang besar dari, dalam dan oleh masyarakat terhadap perilaku zina. Tidak hanya satu kasus perzinaan yang kemudian ditutupi dengan pernikahan atau bayar denda adat ini, tapi kian menjamur. Jumlah pengajuan perkara dispensasi kawin sendiri setiap tahunnya cenderung meningkat, mengingatkan kita betapa mengerikannya prilaku pergaulan bebas lawan jenis zaman sekarang.
Pembiaran dan pendiaman ini semacam melestarikan budaya zina dalam masyarakat. Akibatnya semakin banyak pulalah anak-anak yang lahir dengan nasab yang kabur. Masyarakat boleh tertipu. Tapi Allah, siapa yang mampu menipu?
“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahankesalahanmu) ” (QS. Asy Syura: 30). Dalam Majmu’ Al Fatawa, 1: 42 Ibnu Taimiyah menyebutkan “ Musibah itu datang karena sebab dosa yang hamba perbuat dan karena kesalahan mereka. ” Semoga kita tidak termasuk dalam masyarakat yang senang mengundang musibah dari Allah SWT. (Takengon, 15 Des. 2015. dbs)
 

Dialog

Tafsir dan Hadist

Dinas Syariat Islam

KEBAIKAN DAN KEBURUKAN

GEMA JUMAT, 19 JANUARI 2018 Surat al-Maidah ayat 100 Katakanlah (Muhammad) “Tidaklah sama yang buruk dengan yang baik, meskipun banyaknya keburukan itu menarik hatimu maka

Iktibar dari Lion 

GEMA JUMAT, 02 NOVEMBER 2012 Apa yang paling dekat dengan kita? Anak, istri, orang tua atau teman? Ternyata bukan itu yang paling dekat dengan manusia. 

Dua Mulut Saja

  Teman, bagimu yang sudah menikah Kusampaikan dengan sepenuh hati Dua Mulut Saja Dua mulut itu harus rapat terkunci Tentangmu dan pendamping hati Apa saja,

Menuju Islam Khaffah

Tabloid Gema Baiturrahman

Alamat Redaksi:
Jl. Moh. Jam No.1, Kp. Baru,
Kec. Baiturrahman, Kota Banda Aceh,
Provinsi Aceh – Indonesia
Kode Pos: 23241

Tabloid Gema Baiturrahman merupakan media komunitas yang diterbitkan oleh UPTD Mesjid Raya Baiturrahman

copyright @acehmarket.id 

Menuju Islam Kaffah

Selamat Datang di
MRB Baiturrahman